Mungkin benar bahwa pak Harto, pak Probosutejo, dst, TIDAK PERNAH 
BERNIAT KORUPSI, bahkan mungkin beliau2 sendiri mempunyai cita2 
tulus untuk membangun Indonesia. Mungkin cuma perasaan doang, ttp 
saya melihat nada ketulusan mereka ketika berbicara ttg pembangunan 
negara. Saya juga percaya bahwa spt halnya mantan Kabulog Puspoyo 
Wijananko, pak Harto juga tak punya rekening sampai milyaran rupiah, 
baik di DN atau pun di LN.

Masalahnya, pak Harto, pak Probosutejo dsb ini TIDAK MAMPU MELIHAT 
atau TIDAK MAMPU MENGETAHUI, atau TIDAK MAMPU ... dst, dst bahwa 
orang2 di sekitar mereka, termasuk anak2 dan istri sendiri, 
memanfaatkan kekuasaannya yg hampir tak terbatas (di eksekutif, 
legislatif dan judikatif) untuk mendapatkan keuntungan pribadi. 

Apakah ketidakmampuan di atas terkait erat dg pengalaman NOL beliau 
di bidang/sektor pemerintahan? (Kan waktu itu belum ada atau belum 
banyak sekolah2 pemerintahan semacam IPDN/STPDN, he, he, he, apalagi 
pak Harto cuma lulusan SD). Misalnya, bagaimana pak Harto bisa tahu 
atau bisa belajar berbagai perjanjian antara lembaga2 bisnis atau 
kontraktor2 pemerintah dg lembaga2 pemerintah atau dg yayasan2 yang 
dipimpinnya ttg kewajiban pengembalian pinjaman, berbagai prosedur 
perijinan yang menyangkut dana milyaran rupiah, dsb?

Sebuah contoh khayalan bagaimana pak Harto diplorotin uangnya (hanya 
contoh pengandaian lho :-)) adalah sbb. 

Setelah sering mendengar kisah kehebatan Bob Hassan dalam bisnis, 
pada suatu hari Tommy yang sudah besar setuju untuk mendampingi Bob 
Hassan 'sowan' ke bapak Presiden. Ketika sowan, sesuai kesepakatan 
Tommy mengatakan "Bapak, nurani saya dan nurani om Bob membuat kami 
ingin sekali membantu berbagai yayasan kemanusiaan pimpinan bapak, 
spt Yayasan Supersemar, Dharmais, dsb, lewat bisnis om Bob di 
Nusamba. Bahkan om Bob mempercayai saya dg kasih pinjam dananya ke 
saya untuk modal bisnis yang akan saya tangani sendiri, bisnis 
penerbangan. Nanti kalau sudah melewati titik impas, selain 
mengembalikan modal separoh keuntungan dari bisnis ini akan kami 
sumbangkan ke yayasan2 tsb".

Bangga dan mengkhayalkan anak bungsu yg paling disayanginya 
bisa 'mandiri' dalam bisnis, pak Harto tanpa ragu2 membuat beberapa 
memo ke pak Sudharmono, ke pak ini dan itu (para pengurus yayasan 
yang dipimpinnya) agar memberikan bantuan 'apa adanya' demi 
terlaksananya bisnis dg tujuan mulia di atas. 

Tentu saja pak Harto sangat kecewa (mungkin juga sangat marah) dan 
akhirnya jatuh sakit ketika pemerintah reformasi mulai meng-ubek2 
perusahaan2/lembaga2 bisnis di atas yang semuanya 'belum mencapai 
titik impas' shg belum mampu memberikan sumbangan ke yayasan2 yang 
dipimpinnya. 

Salam 

--- In [email protected], Endiarto Wijaya 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>       Hemat saya :
>    
>   1. Tidak ada korupsi yang disponsori negara. Tapi sistem yang 
ada (pada jaman Orde Baru) memang memungkinkan terjadinya korupsi. 
Sampai sekarang pun masih banyak terjadi korupsi walau Soeharto 
tidak lagi berkuasa dan ini lebih disebabkan oleh sistem yang belum 
sempurna menutup celah-celah korupsi.
>    
>   2. Kitab Pararaton yang berisi riwayat Raja Singosari 
mengaburkan antara lain asal usul Ken Arok dan motif pembunuhan 
terhadap Tunggul Ametung (Akuwu Tumapel). Siapa Ken Arok? Ini juga 
tidak jelas. Jika dia hanya murni "begal" yang beroperasi di wilayah 
Dinoyo, Turianpada/ Turen hingga Gunung Kawi (Kabupaten Malang), 
pasti dia tidak bisa begitu saja diterima sebagai pemimpin Singosari 
mengingat kuatnya Stratifikasi Sosial model Hindu pada waktu itu. 
Ada dugaan, Ken Arok adalah anak gelap dari seorang ningrat pada 
waktu itu sehingga ketika dia berhasil menggulingkan Tunggul 
Ametung, rakyat Tumapel tidak menolak dia menjadi pemimpin baru.
>    


Kirim email ke