Ah, maskulin tidak identik dengan laki-laki? Silakan saja, Pak. Saya sudah biasa kok, sejak zaman orde baru, mengalami pemelintiran istilah untuk kepentingan politik.
Saya ulang lagi. Concern yang diangkat Ariel itu sangat relevan. Mengapa sih orang Indonesia suka kekerasan? Analisisnya itu yang mengada-ada. Banyak penjelasan yang lebih sederhana: Apakah pendidikan budi pekerti di rumah tidak memadai? Apakah karena sejarah kita terlalu menggembar-gemborkan perjuangan bersenjata? Apakah karena setelah 32 tahun kita tidak terbiasa lagi berdebat sehingga yang terlihat cuma jalan kekerasan? Atau apakah karena kesenjangan sosial di perkotaan sudah terlalu besar, menghasilkan letupan-letupan kecil, menunggu revolusi yang lebih besar? Ada pepatah namanya Occam's Razor, Pak: All things being equal, the simplest explanation is usually the best best one. Andi --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tidak, Andalah yang keliru. Ariel mencoba membuat kaitan antara militerisme yang maskulin dengan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi pada Mei 1998. Ariel mengidentifikasi sumber kekerasan pada maraknya milterisme, yang secara dominan diwarnai oleh maskulinitas berlebihan. Maskulinisme yang chauvinistik ini selalu menjadikan perempuan dan kelompok-kelompok lain yang dipandang "lemah" sebagai sasarannya. > > Anda tak melihat kaitan tulisan Ariel dengan realitas karena Anda termasuk orang yang jalan pikirannya sama dengan para maskulinis itu. Memang selalu pihak yang bermasalah tak melihat dirinya bermasalah, dan masalah selalu dilempar ke pihak lain (perempuan, etnis minoritas, homoseksual, waria, pekerja seks, buruh, anak jalanan). > > Ariel juga tak membuat stereotipe soal laki-laki, Bung. Baca yang betul dong. Maskulinitas tak identik dengan laki-laki, seperti halnya tak semua perempuan identik dengan femininitas (perempuan patriarkis juga segudang). Menurut saya sih, yang senantiasa berstereotipe gender-ria bukan Ariel, tapi Anda sendiri. > > Bahkan, tulisan Ariel yang menolak seterotipe gender pun sampai- sampai dibaca sebagai tulisan yang mengukuhkan stereotipe gender. Oalah mak jan.... > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kalau Anda baca lagi, Bapak Ariel ini tidak sedang berbicara soal > peminggiran, Pak Manneke. Dia sedang mencoba menganalisis mengapa > masyarakat kita dari dulu suka memilih jalan kekerasan. > > Cuma entah kenapa analisisnya harus muter-muter dulu ke > urusan "seksisme anti perempuan" dan "bangkitnya murka maskulin". > Seakan-akan menjadi maskulin identik dengan anti perempuan, > militeristik, dan penuh kekerasan, dan lebih parah lagi, dipandang > seperti wabah. Siapa yang sekarang sedang berstereotip-jender ria? > > Kalau zamannya membela perempuan belum musim, mungkin masalah budaya > kekerasan kita itu akan dilihat dari sudut pandang militerisme, > keterpasungan politik, atau gagalnya pendidikan budi pekerti. Cuma > kan belakangan Kompas seperti kesetanan memuat artikel tentang > perempuan. Hampir tiada hari tanpa artikel sejenis; jadi peristiwa > Mei 1998 pun sepertinya sah saja dibelokkan untuk topik kesayangan > Kompas itu. > > Sama saja umpamanya kalau saya menulis bahwa kepemimpinan SBY itu > lelet dan terlalu berbasis konsensus, maka orang-orang akan > mengangguk-angguk. Tapi apa perlu umpamanya saya lanjutkan dengan > beranalisis bahwa hal itu adalah akibat "politik kita yang makin > feminin", karena kebetulan saya punya stereotipe bahwa yang berpaham > konsensus di atas segalanya itu adalah perempuan? > > Jadi komentar saya persis seperti yang Anda harapkan. Pak Ariel ini > cuma berteori saja. Tidak berbasis realitas. > > Andi >
