Nah, di sinilah persoalannya dengan Anda. Campur-aduk istilah secara 
jungkir-balik. Sekali lagi, yang sedang bergenderria tampaknya makin jelas 
bahwa bukan Ariel melainkan Anda. Terus, apa sih hubungannya tulisan Ariel atau 
obrolan kita ini dengan pemelintiran istilah pada zaman orba buat kepentingan 
politik? Apa Anda maksud inilah yang sedang Anda lakukan juga saat ini?
   
  Analisis Ariel mengada-ada? Setidaknya hubungan-hubungan yang ia bangun cukup 
logis, dibanding sanggahan Anda yang tak memperlihatkan analisis apa-apa 
kecuali sederetan pertanyaan. Bagian mana sih persisnya dari gagasan Ariel yang 
mengada-ada? Ayo kita perdebatkan lebih lanjut.
   
  Pepatah yang Anda kutip itu bukannya tanpa syarat, Boss: mungkin betul, "the 
simplest explanation may be the best." Tapi dengan syarat: "all things being 
equal." Nah equality inilah yang tak terjadi. Jika sudah ada, Pak, maka dunia 
kita tak sekarut-marut seperti sekarang. Sayang, Anda cuma terpukau pada 
buntutnya aja, dan tak kritis terhadap bagian awal dari pepatah itu.
   
  manneke
   
  

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ah, maskulin tidak identik dengan laki-laki? Silakan saja, Pak. Saya 
sudah biasa kok, sejak zaman orde baru, mengalami pemelintiran 
istilah untuk kepentingan politik.

Saya ulang lagi. Concern yang diangkat Ariel itu sangat relevan. 
Mengapa sih orang Indonesia suka kekerasan? Analisisnya itu yang 
mengada-ada. Banyak penjelasan yang lebih sederhana: Apakah 
pendidikan budi pekerti di rumah tidak memadai? Apakah karena 
sejarah kita terlalu menggembar-gemborkan perjuangan bersenjata? 
Apakah karena setelah 32 tahun kita tidak terbiasa lagi berdebat 
sehingga yang terlihat cuma jalan kekerasan? Atau apakah karena 
kesenjangan sosial di perkotaan sudah terlalu besar, menghasilkan 
letupan-letupan kecil, menunggu revolusi yang lebih besar?

Ada pepatah namanya Occam's Razor, Pak: All things being equal, the 
simplest explanation is usually the best best one.

Andi

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tidak, Andalah yang keliru. Ariel mencoba membuat kaitan antara 
militerisme yang maskulin dengan kekerasan terhadap perempuan yang 
terjadi pada Mei 1998. Ariel mengidentifikasi sumber kekerasan pada 
maraknya milterisme, yang secara dominan diwarnai oleh maskulinitas 
berlebihan. Maskulinisme yang chauvinistik ini selalu menjadikan 
perempuan dan kelompok-kelompok lain yang dipandang "lemah" sebagai 
sasarannya.
> 
> Anda tak melihat kaitan tulisan Ariel dengan realitas karena 
Anda termasuk orang yang jalan pikirannya sama dengan para 
maskulinis itu. Memang selalu pihak yang bermasalah tak melihat 
dirinya bermasalah, dan masalah selalu dilempar ke pihak lain 
(perempuan, etnis minoritas, homoseksual, waria, pekerja seks, 
buruh, anak jalanan).
> 
> Ariel juga tak membuat stereotipe soal laki-laki, Bung. Baca 
yang betul dong. Maskulinitas tak identik dengan laki-laki, seperti 
halnya tak semua perempuan identik dengan femininitas (perempuan 
patriarkis juga segudang). Menurut saya sih, yang senantiasa 
berstereotipe gender-ria bukan Ariel, tapi Anda sendiri.
> 
> Bahkan, tulisan Ariel yang menolak seterotipe gender pun sampai-
sampai dibaca sebagai tulisan yang mengukuhkan stereotipe gender. 
Oalah mak jan....
> 
> manneke

Kirim email ke