Sebagai tambahan materi, perlu juga kita diskusikan,
apakah penggunaan gerobag manual untuk mengangkut
sampah di semua wilayah Jakarta ikut menyebabkan
kemacetan?

Saya pernah mengamati cara kota Kuala Lumpur, Malaysia
mengurangi beban kemacetan. Banyak cara-cara kecil
yang mereka lakukan. Salah satu di antaranya
berhubungan pengangkutan sampah penduduk. Caranya
tidak terlalu ilmiah: Sampah diangkut dengan motor
beroda tiga. Sampah selalu dijemput di pagi hari
sebelum aktifitas di jalan raya terlihat. Mereka
mengitari jalan-jalan sempit. Bandingkan dengan ribuan
gerobag sampah di Jakarta yang pasti anda temui setiap
hari, minimal satu kali, entah di jalan-jalan.
Andaikata setiap 3 RT dilayani satu gerobag sampah,
maka berapa ribu gerobag sampah yang beroperasi. 

Semenjak gerobag dorong diperkenalkan di tahun 56
sebagai pengangkut sampah, sampai dengan sekarang,
sepertinya belum ad masukan teknologi yang
disumbangkan oleh putra-putra terdidik negeri ini,
agar pengangkutan sampah itu lebih sesuai dengan
kaidah-kaidah ilmiah?


Nah, sembari minta kesediaan Pak Gubernur meluangkan
waktu untuk berdiskusi, dan jika pak Gubernur 
bersedia hadir, tentu berarti opportunity costnya
ialah tidak menghadiri acara penting yang lain, karena
berharap tidak rugi jika hadir di antara kita. Oleh
sebab itu masukan-masukan dari kita bukan sekadar
duplikasi dari yang sudah ada: Protes atau pujian
selangit. 

Kita bisa melakukan riset-riset pribadi sebelum hadir
pada pertemuan. Cara ringkas semisal apa yang saya
sampaikan di atas. Di dalam diskusi nanti itu akan
menjadi menarik jika yang lain kita menampilkan hasil
hasil observasi.

Anyway, jika mengundang FPK saya juga ingin ikut
nimbrung. Cuma saya punya usul, bagaimana kalo
agendanya jelas, dengan sebelumnya membuatnya jelas
dengan memanfaatkan milis ini. 

Topik-topik yang mungkin menjadi penyebab kemacetan
dapat dicari secara kritis. Guna membuatnya menarik
dan menantang, saya usul Tema Diskusi adalah:
Sembilan-puluh sembilan penyebab kemacetan di Jakarta.


Dengan menentukan topik seperti itu maka setiap
peserta harus membawa satu kontribusi yang menurutnya
tidak dipikirkan oleh orang lain. Peserta yang
diaproval ialah yang membawa satu butir penyebab
kemacetan. Jangan lupa, dalam diskusi itu tidak
mungkin semua orang mendengar yang lain. Oleh sebab
itu, jika diskusi juga dilengkapi semacam dokumen
ringkas, sebagai cindera-mata untuk pa Gubernur dari
Perhimpunan Alumni Jerman, maka akan terasa begitu
hangatnya pertemuan.

Jika kita hadir dan cuma menuding bahwa Pa Gubernur
bikin bus way tanpa pikir panjang, maka sudah banyak
yang mengatakan itu. Jika menilai pa Gubernur tidak
tahu banyak orang yang mengatakan itu, maka itu
keliru, sebab di PI setiap malam ratusan orang ronda
dan terus-menerus ngundang media untuk menolak
bus-way.

Jangan diabaikan, sebagai Gubernur, siapun orangnya,
sejak lama harus bekerja dengan dasar hukum yang
jelas:Perda. Biarpun Gubernur pintar dan cerdas,
tetapi kalau DPRD tidak suka atau males
cerdas-cerdasan, tetap saja yang dijalankan mesti
sesuatu yang dimengerti dan kemudian diteken oleh
DPRD: Perda.

Lebih dari itu, pimpinan birokrasi tidak sebebas
pemimpin perusahaan. Seorang pemimpin perusahaan,
apalagi jika memiliki jumlah saham perusahaan dominan,
akan dapat mencurahkan kecerdasannya untuk merubah
perusahaan secepat yang dia inginkan. Nah, Gubernur
memimpin sebuah mesin manusia bernama  birokrasi
pemerintah. Dari sononya birokrat sudah disumpah tidak
boleh melakukan hal yang tidak dipahami oleh
orang-orang di sekitarnya. elemen birokrasi digaji
dengan cara yang sama, tidak boleh bertindak kalau
tidak ada petunjuk dari atas, bahkan berpikirpun hanya
dapat dilakukan kalau sudah diterbitkan SKnya.

Jadi, marilah kita membangkitkan kebersamaan untuk
mengatasi kemacetan, dan berhenti memaksa agar
gubernur atau apapun namanya menjadi seorang ratu
adil, yang bagaikan pahlawan merubah kota seketika,
menjadikan  jalan-jalan yang lengang dan kemudian
lancar. 

Marilah kita menoleh pada fakta bahwa 20 % penduduk
Jakarta yang miskin, atau satu dari setiap lima orang,
justru terutama perlu dilindungi. Jum'at kemarin saya
mendengarkan keluhan seorang pekerja Kantor yang
tinggal di Tangerang, sebut saja bernama mas Bijak.
Dua tahun lalu mas Bijak beralih ke sepeda motor
sebagai angkutan sehari-hari pergi dan pulang  kantor.
Alasannya, awak bis tidak perduli apakah dia perlu
lebih cepat tiba di kantor. Jika hari ini dia seperti
ingin mengantarkan penumpang lebih cepat, itu karena
dia cukup fresh untuk kejar-kejaran dengan sesamanya.
Nah tidak seperti kemarin, ketika dia lebih banyak
ngetem, dan tempo-tempo berbalik arah.

Tahun 2005 jarak sekitar 40 kilometer dia tempuh
kurang dari 40 menit saja. Dia bisa menyelip di antara
mobil-mobil. Sekarang, si Bijak juga sudah mengalami
kemacetan. Dia tidak lagi bisa menyelip di antara
mobil-mobil, sebab jumlah pengendara sepeda motor
sudah meningkat lipat dua. Alhasil motornya menenggak
BBM lebih banyak dari tahun 2005. Mungkin hampir 40
persen meningkat dari rata-rata pemakaian per minggu
di tahun 2005. Alasannya: kalau macet maka BBM yang
digunakan lebih banyak. Pengeluaran meingkat, waktu
untuk mengerjakan yang lain merosot disita waktu
berkendara. Sementara bos tidak bisa naikkan gaji,
wong jam kerja semakin menyempit, dan omzet bisnis
juga dihambat kemacetan. (inilah kerugian Rp 43 T yang
disebut-sebut para pakar.

Saya mengusulkan Perhimpunan Alumni Jerman dapat
mengusulkan topik, atau katakanlah sejumlah
pertanyaan, yang bukan dimaksudkan meminta
tanggung-jawab pribadi yang manapun, tetapi bertolak
dari titik tolak, bahwa kita, komunitas kota ingin
'berbagi' dengan topik: 'Bang Oji, Gue Pikir nyang
bikin jalanan macet itu adale......?'. Dan bukan,
dengan titik-tolak: 'Bung Oji, .... gue pikir elu
engga mikir itu bikin bas wei....?'. 


Terima kasih atas disertakannya FPK dalam rencana.

LM




 


  


--- Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dear rekan FPK,
> 
> Wah belum ada yang stress ya sama kondisi lain di
> Jkt
> ini????? Kami rekan-rekan dari Perhimpunan alumni
> Jerman sebetulnya merencanakan untuk mengajak semua
> kelompok masyarakat berdiskusi mencarikan solusinya.
> 
> Coba kita sharingkan bersama permasalahan ini jangan
> sendiri-sendiri, kita cari solusi yang terbaiknya
> karena saya melihat bukan hanya waktu yang kita
> kehilangan tetapi juga moment-moment berbisnis,
> bersosialisasi dll...dll. Masa semua2 ini harus
> dibatalkan????? Banyak orangtua yang kebingungan
> cara
> yang effisience untuk mengantarkan anak-anaknya
> kesekolahdan dirinya sendiri ke tempat kerja.
> 
> Belum lagi polusi udara yang menjadi tercemar!Dan
> keagresifan para pengguna jalan yang sulit untuk
> dihindari...terlalu banyak faktor disini yang harus
> kita bicarakan bersama.
> 
> Bagi saya yang terpikirkan saat ini hanya ada satu
> alternatif :
> TURUNKAN BIAYA TOL, SEHINGGA JALAN TOL BISA MENJADI
> ALTERNATIF PEMADATAN JALAN JALAN YANG
> DIPERSEMPIT!!!!!
> 
> Sebetulnya rakyat boleh ikut memiliki negeri ini
> atau
> tidak sih?????Ibukota ini memang punya siapa????
> 
> Bila anda berminat untuk ikut dalam diskusi ini,
> tolong daftarkan diri anda atau kelompok anda,
> sehingga kami pihak penyelenggara bisa
> mengantisipasi
> tempat dan waktu, yang tentunya kami sangat berharap
> kehadiran dari bapak Fauzi Bowo beserta
> rekan-rekannya
> yang telah melaksanakan idea "BUSWAY" tanpa dikaji
> terlebih dahulu akibat yang harus ditanggung oleh
> berjuta-juta masyarakat ibukota.
> 
> Saya sendiri kurang paham apakah hal seperti ini
> bisa
> membawa sanksi hukum, karena boleh dibilang proyek
> ini
> adalah proyek gagal yang sangat merugikan sebagian
> besar penduduk Ibukota berikut kota-kota satelitnya.
> Biasanya yang dilakukan oleh petinggi-petinggi kota
> di
> LN lebih memikirkan pelebaran jalan dan bukan
> penyempitan, dalam tubuh manusiapun bila ada
> penyempitan itu berbahaya. Jadi saya benar tidak
> paham
> apa yang sebenarnya sedang terjadi di ibukota
> ini????
> 
> Maka dari itu saran saya ayo kita kumpul bersama
> seluruh kelompok masyarakat, juga jangan lupa para
> ahli hukum pasti kita butuhkan mari bersama kita
> cari
> solusinya!!!!
> 
> tolong kirimkan masukannya ke alamat e-mail sbb:
> Alumni Jerman <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> Salam dalam damai Ratih

Kirim email ke