Pak Manneke Yth,
Terima kasih untuk penjelasannya yang cukup panjang. Jika para kernet dan
sopir bis metro mini yang bisa "mengkondisikan" bahwa mereka bisa berbuat
semaunya untuk berhenti dimana saja dan juga menurunkan penumpang dan
menaik-kan penumpang kapan dan dimana para supir dan kernet tersebut memilih,
dikarenakan mereka ini di-pojok-kan oleh kondisi EKONOMI sehari-harinya.
Mestinya kan bukan hak-hak kemanusiaan para penumpang yang di "tabrak", bukan
pak? Para penumpang juga banyak lho pak yang kondisi ekonominya sangta
menyedihkan. Tidak hanya para sopir metro mini, angkot dan kernet tersebut
saja?!
Bagaiman persaan bapak jika seorang ibu setengah tua diturunkan saja ditengah
jalan, dan harus berusaha meyeberang diantara kendaraan yang lain-nya?
Maksud saya begitu lho, pak? Bahwa kondisi dan pengondisian ekonomi bisa
dilihat dari kedua belah pihak para sopir angkot, meno metro dan juga para
penumpang, tidak hanya memenangkan pihak yang berbuat se-MAUNYA, bukan?
Ini sedikit mlenceng dari soal "transportasi" yang sedang kita bicarakan,
tapi basisnya agak sama: Jika suatu pihak dirugikan karena keadaan ekonominya,
mengapa para penduduk RENO KENONGO (yang terkena musibah LAPINDO-yang sangat
amat dirugikan keadaan ekonominya) tidak boleh melakukan se-enak dan semau-mau
mereka sendiri? Padahal kan mereka dirugikan oleh PARA PENGAMBIL KEUNTUNGAN
dari BUSINESS yang dilakukan didaerah masyarakt yang tertimpa naas tersebut,
pak??
Dan kebanyakan mereka-mereka ini tidak mendapatkan kesulitan dalam keadaan
ekonominya sebelum musibah tersebut terjadi? Misalnya mereka mempunyai
rumah-rumah yang cukup bagus, mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan
gedung-gedung sekolah juga ada.
Tetapi sekarang kan, rumah-rumah tidak ada, sekolah-sekolah hilang ditelan
lumpur. Kok.......mereka harus menurut akan kebijakan para PENGGEDE saja?
Mungkin mereka-mereka itu harus berbuat seperti apa yang dibuat oleh para
sopir mini metro dan juga angkot, ya pak? Bagaimana kalau mereka ini masuk
rumah-rumah para penggede di Jawa Timur dan mengambil alih rumah-rumah tersebut
bagi warga Reno Kenongo, pak?
Kan tindakan tersebut sama dengan apa yang dibuat para sopir kendaraan umum
di Jakarta? Berhenti se-enaknya demi menyangga kedaan ekonomi mereka?
Mohon pencerahan-nya.
Salam,
Yuli
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sori, ada kekeliruan kecil tapi pokok yang perlu saya ralat: setoran
supir Bluebird per hari ditarget sekitar 0,5 juta, bukan 1,5 juta seperti yang
secara silap tertulis di bawah ini.
manneke
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yang dikatakan Pak Dewono dan Bu Yuli adalah benar, dan saya setuju sekali.
Tapi dengan catatan, bahwa itu kondisi ideal. Di dalam konteks Jakarta yang
riil, permasalahannya jauh lebih rumit dari gambaran ideal itu. Maksud saya
begini:
Supir yang mau patuh, akhirnya tak jadi patuh dan tak berani patuh karena
penumpangnya supergalak. Kalau mereka tak diturunkan di tempat yang diminta,
supir dimaki-maki, bahkan bisnya dirusak. Ini soal pertama. Soal kedua, kalau
patuh, tak ada penumpang yang mau naik, sebab mereka lebih demen naik di
sembarang tempat tanpa harus jalan jauh-jauh ke halte. Ketiga, kalau patuh,
setoran pada saat tutup hari pasti tak terbayar. Kalah sama yang kurang patuh.
Jadi, kasian juga ya hidup mereka ini kalau dipikir-pikir. Nyupir kendaraan
umum jelas bukan opsi yang menyenangkan, tapi mungkin itulah satu-satunya opsi
buat mereka. Kalau ada pilihan lain, siapa sih yang mau nyetir Kopaja atau
Metromini? Dimaki penumpang, dijadikan bulan-bulanan polantas, diperas preman
dan timer jalanan, dicurigai nilep setoran oleh juragan pemilik bis, dan sampe
rumah, nggak dikasih makan sama istri sebab gak bawa duit banyak. Hasil yang
udah sedikit itu pun masih mesti dibagi sama kenek. Belon lagi kalo ada
kerusakan teknis sama bisnya. Kiamat pun masih kalah menyeramkan mungkin.
Pengamatan negatif kita akan kelakukan para supir kendaraan umum itu sebagian
besar kita peroleh sebagai pengamat yang posisinya tidak di dalam bis,
melahirkan berjarak dengan para supir yang diamati. Kita hanya melihat ulah
gila mereka dari jauh, tapi tak pernah betul-betul tahu kenapa mereka berlaku
demikian. Kesimpulan kita biasanya cenderung simple: ugal-ugalan, tak tahu
santun lalu-lintas, kampungan, dll. Tapi kalau kita mau sedikit lebih
sabar--dan lebih dekat--dalam mengamati hidup sehari-hari mereka di atas
bisnya, mungkin kita lebih bisa mengerti merngapa mereka begitu brengsek.
Mereka memang tidak berbudi kemanusiaan, ya betul kata Bu Yuli. Tapi, siapa
yang bisa berbudi kemanusiaan ketika semua orang di sekitar mereka tak ada yang
memanusiakan mereka dan menganggap mereka manusia yang bermartabat? Supir
kendaraan umum adalah segmen dalam masyarakat urban yang hidupnya paling
tertindas dan tak berdaya, meski tampang galak dan kelakukan tampak beringas.
Mereka lebih patut dikasihani daripada dicaci.
Jangankan supir bis. Supir taksi yang bawa mobil sedan mentereng dengan seragam
keren itu pun hidupnya sungguh susah. Coba ngobrol dengan mereka, tanya sehari
berapa Rupiah mereka wajib setor kepada perusahaan, berapa persen komisi buat
mereka, berapa yang mereka perlu pakai buat makan dan minum di jalan? Sangat
mengharukan. Bluebird, misalnya, yang paling top itu, supirnya wajib setor
kira-kira 1,5 juta sehari, dan untuk itu mereka mesti nyetir hampir 18 jam per
hari. Komisi cuma 50 ribuan (kalo setoran terpenuhi), buat makan di warung,
ongkos pulang dsb, tinggal berapa ya? Kalo kecelakaan--tak peduli mereka salah
atau tidak--beban perbaikan di tangan supir. Bahkan banyak supir yang berutang
pada perusahaan karena tiap kal narik, setoran tak cukup. Utang pun numpuk.
Tapi, adakah pilihan lain buat mereka?
Kalau supir bis di Kanada gajinya oke, ada asuransi kesehatan, cuti kerja,
trade union, punya hak mogok kerja, dsb. Itu pun yang stress masih banyak. Yang
ribut sama penumpang juga ada saja. Justru karena membandingkan kondisi supir
Jakarta dengan supir Kanadalah maka saya jadi ngelus dada dan pengen nangis
liat kehidupan supir-supir kita. Saya tak berani komplain, apalagi mengkritik
mereka. Hanya menyaksikan susah hidup mereka saja, rasanya sudah berdosa sekali.
Saya sering dimaki supir di Jakarta, tapi saya tak balas maki. Saya telan saja.
Karena saya tau susahnya hidup mereka. Hidup saya jauh lebih baik, dan jika
saya harus menerima makian dari orang yang lebih menderita dari saya, maka
itulah doa saya buat mereka. Makian mereka adalah syukur saya kepada Tuhan
sebab saya tak harus menjalani hidup seperti mereka, sekaligus pengakuan
simpati saya buat mereka, sebab saya tak mampu melakukan apa-apa untuk bantu
mereka selain bayar ongkos sesuai tarif semestinya.
Semoga Tuhan melindungi mereka dan keluarga mereka setiap hari dalam hidup
mereka.
manneke