Apa IAEA juga termasuk memantau kondisi geologis dan tektonik sepanjang waktu, 
Pak? Artinya, PLTN-nya baik-baik saja, tapi yang gonjang-ganjing bumi di 
bawahnya. Masuk monitoring-nya IAEA, nggak?
   
  Kenapa saya bandingkan dengan Lapindo? Ya inilah presedennya. Yang 
jelas-jelas ulah manusia saja masih bisa dilempar ke alam kok kesalahannya. 
Kalo dengan Lapindo lolos, kenapa taktik yang sama tak dicoba lagi? udah 
terbukti tokcer toh?
   
  manneke

MetNet <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          

Itukan persepsi keliru ttg PLTN, menyamakan kondisi kecelakaan
PLTN dg tragedi Lapindo. Sy juga salah satu korban Lapindo.

-----------------------------------
Jauh sebelum PLTN beroperasi, Bapeten dan IAEA pasti 
menghentikan operasi PLTN yg memiliki peningkatan resiko.
Dua minggu yg lalu PLTN jenis ABWR Shika-? Jepang dilarang 
operasi sampai kehandalan sistem kendali diperiksa ulang
dan diijinkan operasi oleh regulator. Hal itu terjadi krn
selama maintenance terjadi satu kegagalan tes batang kendali.

Pasti maunya operator, kasus tsb nggak usah dilaporin. 
Kasus sepele ini sangat mungkin terjadi di industri selain
nuklir & pelaporan tsb hanya ngrepotin aja sehingga operasi 
pasti ditunda sampai selesai pemeriksaan. Tapi gimana lagi . , 
bbrp sensor, komputer proses, dan kamera pengawas milik IAEA 
terpasang dan hidup terus.
----------------------------------

Sebagai sumber bacaan yg baik, mungkin referensi seperti
"Pedoman Penerapan dan Pengembangan Sistem Energi Nuklir", 
"buku putih energi", dsb bisa dibaca kalau ada waktu.

Saya nemu buku pedoman nuklir dan download dari: 
http://www.batan.go.id/ref_utama.html

Salam
Muhammad subekti


Kirim email ke