Dulu ketua IAEA, Mohammed El Baradei mengataken IAEA itu sekarang sama terkenalnya dengan produsen mebel asal Swedia, IKEA...gara-gara kasus Irak dan Iran.
Kalo di Indonesia nanti Bapeten akan sama terkenalnya dengan produsen kursi merk Ligna, bukan dari kemiripan akronim tapi dari kemiripan tagline Ligna : "Kalo sudah duduk, lupa berdiri" Kepala Proyek PLTN dan makelar-makelarnya proyeknya pasti berpendirian seperti itu, sebodo amat dengan ketakutan rakyat....yang penting gue duduk di posisi itu, dan ambil untung...proyek 7 triliun booo...itu baru modalnya, gmana return- nya....Pengen jadi Ginandjar baru mereka. Peduli amat dengan rakyat dan ancaman kesehatan bagi mereka. ANTON --- In [email protected], "MetNet" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > --- In [email protected], manneke budiman > <hepaesthos@> wrote: > > > > -Apakah Lapindo jadi bangkrut akibat kecerobohannya? > > Teori Anda kan bilang kalo operator PLTN ceroboh, maka > > PLTN-nya akan jadi bangkrut. Terbukti atau tidak teori > > ini dalam kasus Lapindo? > > Ekonomi perusahaan intinya untung dan untung, istilah > bangkrut adalah postulasi terburuk. > > > - Anda bilang, tentu ada monitoring kondisi geologis. > > Siapa yang memonitor? IAEA-kah? Ini kan inti pertanyaan > > saya. Belum dijawab. > > Sama dengan ijin tapak, IAEA/Bapeten bisa datang pada > setiap waktu untuk inspeksi, memeriksa data monitoring, > pengujian dll, lalu melakukan validasi dg dari komputer > IAEA. Perbedaan data berarti masalah serius apapun sebabnya > Tegasnya, IAEA ikut memonitor geologi, termasuk semua > data lingkungan, perubahan lingkungan, . . . pokoknya > itemnya banyak. Tapi operator sudah akan terbiasa, krn > pada saat pengajuan ijin tapak PLTN, volume pemeriksaan > 2-4 kali lipat lebih banyak. > > Krn itu ada beberapa kasus operasi PLTN molor meskipun > pembangunan selesai krn gagal di ijin tapak, akibatnya > dana membengkak. Data PLTN dg dana membengkak ini banyak > dirilis oleh para anti-PLTN dan menulis PLTN terlalu mahal, > tanpa melihat kondisi betapa ketatnya regulasi nuklir. > > Lihat PLTN pertama di Brasil, itu salah satu contoh ijin > tapak yg molor, padahal bunga bank harus dibayar, oknum juga > sudah disogok, tetap saja tidak lolos ijinnya. Kebetulan ada > kecelakaan Chernobyl, membuat inspeksi di PLTN pertama Brasil > menjadi lebih ketat dengan regulasi baru. Terpaksa bongkar sana, > dan sini dan akhirnya dioperasikan. Namun spt yg saya bilang, > hukum alam juga harus dilawan, bbrp kejadian tdk normal > dialami PLTN ini dan umurnya tidak lama. Harus berhenti total, > atau ganti steam generator yg kualitasnya buruk. Serta menambah > teknologi keselamatan standart. > > Nasib, memang operator belum bangkrut krn masih punya dana, > tapi bayangin saja kerugiannya. Seandainya saja para > eksekutifnya punya niat baik, justru keuntungan besar > diperoleh dengan memenuhi semua standar IAEA. > > == PLTN pertama Brasil: Angra-1 produksi westinghouse, > dibangin 1971, ijin beroperasi komersial 1985, shutdown 2003 > Bisa extend kalau lolos ijin tapak diulang dari pertama, > dan harus mengganti 2 steam generator dll. > > > - Kalau itung-itungannya pakai balik modal dan harus > > sekaligus untung, gimana mau bisa tarif murah? Sekali lagi, > > terapkan saja teori ini pada proyek jalan tol sejauh ini. Apa > > mujarab? Nggak tuh. Teorinya bagus, saya percaya deh. Tapi, > > sejak zaman dahulu kala, para penentang PLTN di milis ini > > concern-nya adalah pada penerapan dan mentalitas manusianya. > > Ini yang selama ini selalu meleset terus. > > Jalan tol kalau ada yg rusak sedikit, semua line tidak > ditutup sampai selesai perbaikan. Jelas beda sekali dengan > regulasi PLTN. > > Ttg concern mentalitas manusia, saya sepaham. > Tapi saya tidak kuatir dg pihak2 yg terlibat dalam pelaku > keselamatan PLTN, misalnya petugas proteksi radiasi, engineer, > sampai level teratas dlm PLTN. Mereka bukan komoditi politik, > persyaratannya sangat teknis. Engineer lulusan master aja, > selama 2 tahun harus jalan keliling PLTN ngecek semua > parameter2 analog. > Orang lapangan saya yakin kemampuannya. Paling tidak mereka > sangat sadar bertugas untuk menjamin keselamatan PLTN. > Pekerjaan mereka sangat dilindungi oleh regulasi, > begitu PLTN bobrok, ijin dibatalkan, dengan cepat > sertifikasi yg mereka miliki bisa digunakan untuk > melamar pekerjaan yg sama di Thailand, Malaysia, Jepang, > Amrik, etc. > > Diluar itu, kualitas mental direktur, komisaris, dan > eksekutif lain sudah tdk masuk hitungan. > > Yg saya kuatirkan justru itu, bukan tingkat bahayanya > terhadap PLTN, tetapi hak2 masyarakat sekitarnya atas > dana sosial, dana status eksklusif, komunikasi dg > masyarakat sekitar, hak masyarakat atas informasi > TERCEPAT ttg status PLTN, hak bertanya atas semua > keraguan dll spt yg dimiliki oleh regulator di Jepang > belum tentu dimiliki di Indonesia. > == skr sedang dibahas regulasi mahkamah untuk menjamin > == semua hak masyarakat. > Tapi ya itu tadi, banyak parameter2 yg bersifat lokal, > sangat rawan bila pelaku pemangku keputusan rawan korupsi. > > Salam > Muhammad Subekti >
