Dengan rentang waktu menuju dan pulang tempat kerja yang semakin lama, maka secara tidak sadar produktifitas seorang pekerja di Jakarta semakin menurun. Jalanan yang macet menyebabkan semakin banyaknya jam-jam warga pekerja tersita oleh kemacetan.
Bagi kelas ekonomi atas, yang bermobil disopiri, yang terjebak kemacetan, maka masih dapat mengalokasikan waktu untuk beraktifitas. Dia dapat melakukan komunikasi ha-pe seperti berkirim SMS. Bahkan dia dapat mensiasatinya, sehingga terjebak macet juga bisa berbuat produktif. Namun, bagi pekerja yang bergaji rendah, dan gajinya ditentukan seberapa banyak jam kerjanya, maka kemacetan nyata-nyata akan menyita pendapatan yang sebelumnya dia peroleh. Artinya, semakin hari ia semakin miskin. Nah, jika Jakarta tidak berubah pada tahun 2010, dalam arti jalan-jalannya tetap macet, maka lengkaplah sudah malapetaka 2010. Jika pada tahun 2000 diperkirakan terdapat 1 juta orang miskin di Jakarta, maka pada tahun 2010 bisa-bisa sudah kemiskinan di Jakarta sudah hinggap ke 2 juta orang. Dan, jika di suatu komunitas jumlah orang miskin meningkat, sehingga proporsi orang miskin mulai dominan, maka kemiskinan akan menjadi kebudayaan warga. Penduduk tidak lagi sensitif atas kotornya lingkungan, atas tindak pelecehan, atas gangguan-gangguan kenyamanan. Bahkan jika ada pihak lain yang mengambil hak orang lain, bisa-bisa cuma dianggap sepele saja, sebab orang yang tak punya semakin dominan jumlahnya. Tindak pencurian menjadi hal yang biasa. Hal ini tidak lagi sebatas penurunan kualitas hidup, tetapi sekaligus 'penerimaan' atau excuse atas situasi yang menururn tersebut: budaya kemiskinan. Kalau hal demikian terjadi, maka masihkah ada rumput yang bergoyang (ketika angin berhembus, menyimak lagu Ebiet) tempat kita bertanya? --- anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya terbiasa menghadapi orang mencla mencle seperti > anda!, anda > cocok jadi politisi, tapi kalo anda jadi politisi > orang sejenis anda > ini yang akan saya ganyang pertama kali, sedari awal > saya sudah > perhatikan anda ini kadang kesini kadang kesana, > nggak jelas sikapnya > tapi malah mengaburkan permasalahan. Sekarang aja > anda sok kata- > katanya terlihat bijak, tapi kalo diliat dari track > record tulisan > anda sejak awal saya melihat sikap plin-plan dan > mencla mencle. > Sekarang anda bilang mendukung busway, > kemarin-kemarin anda menolak, > lalu mendukung Pak Sohib dalam melancarkan serangan > kepada Busway. > Tapi sekarang seolah-olah sok mendukung dengan > wacana kritisnya. > > Persoalan transportasi di Jakarta, bukan persoalan > pilihan nyaman > atau tidak nyaman lagi dalam wilayah privasi dan > publik, bukan > persoalan kebebasan saya bisa membayar ini atau itu > lagi. Tapi > persoalan keterbatasan lahan, kepadatan pengguna > kendaraan dan > kesadaran bersama. Bila anda bertitik tolak pada > soal kebebasan, > silahkan anda membangun pilihan lalu lintas di > Palangkaraya sana yang > masih lengang... > > Ya, saya senang menggunakan kata goblok, untuk > menggantikan dimensi > kata kepala batu. Banyak orang kepala batu kalo > menghadapi perubahan. > Sejak tahun 1996 jamannya gerilya politik di Yogya, > sampe puncaknya > di tahun 1998, saya banyak menghadapi orang2 jenis > anda ini, mencla > mencle dan tergantung kesempatan saja. Tapi anehnya > jenis orang ini > yang naik terus jabatannya. > > ANTON
