30-6-08 JANGANLAH MENGKHIANATI RAKYAT INI.
Tigginya ilmu ekonomi yang dimiliki seseorang bukan ditentukan oleh cemerlangnya kepintaran akademisnya, tapi dibuktikan oleh tindakan nyata yang dilakukannya bagi kesejahteraan rakyat. Tidak ada yang meragukan kecemerlangan akademis dari Team Ekonomi Kabinet SBY. Namun kenyataannya tidak ada seorang pun di antara anggota Team ini yang bisa membuktikan pernah ada tindakan nyata dari mereka yang memperbaiki hidup rakyat. Justru sebaliknya, mereka -khususnya Purnomo Yusgiantoro, Budiono dan Sri Mulyani- memperlihatkan kegagalan demi kegagalan dan blunder demi blunder belaka yang justru menjerumuskan rakyat dalam lembah kemelaratan yang tak terperi. Kekayaan alam Indonesia tidak ada duanya di Asia, yang sebenarnya bisa memampukan kita mencapai kemajuan yang jauh lebih pesat dari Korea, Thailand atau Malaysia. Namun, ketertinggalan pembangunan Indonesia tidak ada duanya di dunia. Bahkan rakyat kecil jauh lebih mnderita lagi dibandingkan dengan zaman penjajahan Jepang. Apa lacur?Kenapa kesempatan maju dari Indonesia terbuang sia-sia? Salah satu kekayaan alam terbesar di Indonesia adalah kekayaan alam minyak mentahnya. Kekayaan tersebut sedianya bisa dengan mudah menimbulkan kemakmuran bagi rakyat kita. Tapi, sejarah memperlihatkan kebalikannya. Sejak didirikannya Pertamina, perusahaan minyak ini bisa sedemikian berkembang hingga kemudian bisa beralih menjadi 'negara dalam negara' membentuk dirinya menjadi Negara Minyak Pertamina, yang dalam kenyataannya menguasai dan memegang kendali dalam pengelolaan kekayaan dunia perminyakan sekarang ini terlepas mandiri dari Republik ini. Sedemikian canggihnya kuasa Negara Pertamina yang sudah 'built-in' dalam pemerintahan, hingga budget nasional Indonesia bisa didikte oleh 'budget nasional' Pertamina supaya menyerahkan padanya subsidi yang semakin membengkak setiap tahun, katanya, karena Pertamina merugi setiap tahun dalam memasarkan BBM di dalam negeri. Padahal, menurut perhitungan -seperti tertera di bawah ini-yang dilakukan Purnomo Yusgiantoro, harga BBM dalam negeri hanya setengah dari harga BBM pada pasar internasional. Tentunya ada permainan luar biasa!!! Sedemikian menjelimetnya jaringan kuasa Pertamina menyusup dalam pemerintahan, hingga sanggup menggenggam dua Menteri menjadi SatPamnya, sedang Menteri Keuangan sendiri bisa dibius lesu tak berkutik hingga didikte, begitu saja -tanpa perhitungan apa-apa- menyerahkan subsidi BBM bagi Pertamina. Dan lucunya, subsidi BBM Pertamina tadi menimbulkan defisit APBN yang harus ditutupi Sri Mulyani dengan mengambil pinjaman valas -dan jangka panjang lagi- ke luar negeri untuk menutupi defisit jangka pendek APBN. Tindakannya yang sama sekali tidak menggunakan valas tersebut (bagi pembangunan misalnya) nyata-nyata menjerumuskan Indonesia ke jurang utang valas yang lebih dalam lagi, yang dengan gamblang membuktikan kecemerlangan keahlian fiskal Sri Mulyani. Bukan tinggal di situ saja. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan Jusuf Kalla, Ketua Umum Golkar untuk saling memperalat masing-masing. Di satu pihak, kuasa 'Al Capone' Pertamina bisa melangsungkan terus kebanditannya, sedang di lain pihak Jusuf Kalla memperalat kedudukannya sebagai Wakil Presiden mempertahankan dan memperbesar subsidi BBM kepada Pertamina. Untuk menjalankan 'Grand Strategy' Golkar tersebut, Jusuf Kalla -dalam kedudukannya sebagai Wakil Presiden -anggota Dwitunggal- melontarkan sebuah teori palsu mengenai keharusan menaikkan harga BBM dengan tujuan terselubung supaya memperoleh dana gratis dari subsidi BBM dari APBN kepada Pertamina yang tak lain dan tak bukan dimaksudkan sebagai dana gratis bagi Golkar, sama seperti dana gratis Rp 904 milyar dari BI yang dikucurkan Miranda Gultom, Deputy BI, di waktu yang lampau. Teori palsu Jusuf Kalla tadi berterima penuh bagi Menko cum ahli moneter Budiono dan bagi ahli fiskal Sri Mulyani. Atas dasar itu Budiono -sekalipun buta-huruf mengenai ekonomi ke-Bank Sentral-an dipromosikan menjadi Gubernur baru dari BI untuk menikmati gaji buta yang 5x lipat gaji Presiden, sedang Sri Mulani dipromosikan merangkap ke-ahlian Menko. Promosi yang memang sangat cemerlang!!! Demikianlah permainan kotor yang berlangsung merongrong kekayaan luar biasa minyak mentah yang tersedia bagi Indonesia dan sedianya menjadi pump-priming pebangunan dahsyat bagi negara ini, tapi sekarang berakhir dengan dirongrong musnah menjadi neraka. Apa Indonesia tidak otomatis menjadi terbelakang pembangunannya di dunia ini? Apa Indonesia masih tetap saja memerlukan dan mempekerjakan cendekiawan cemerlang seperti Purnomo Yusgiantoro, Budiono dan Sri Mulyani? hmt oppusunggu 0o0o0o0o
