Kurang adil rasanya, melakukan pembantaian karakter tanpa
menghadirkan orangnya dan diberi kesempatan menjawab. Saya tidak
membela Emha dan bersimpati pada korban Lapindo, namun saya juga
tidak suka dengan orang yang merasa menjadi besar dengan membantai
karakter orang semena-mena tanpa orang itu hadir melakukan pembelaan.

Hal ini mirip dengan kejadian saat Tjokro dibantai karakternya di
depan kongres sementara Tjokro tidak hadir, dan Bung Karno
berkata "tidak adil rasanya, mengadili karakter orang tanpa orang itu
disuruh membela diri".

ANTON





--- In [email protected], kapri yojo
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bu Ratna Sarumpaet yang baik,
> Saya kira yang Anda utarakan tentang sepak terjang Cak Nun cukup
singkat, padat dan tegas. Saya setuju sekali. Jadi, memori bung Halim
HD tentang dia dengan mengandalkan (mungkin) romantisme kekariban
bersama Cak Nun di dasawarsa 1980-an sudah tak menemukan titik temu
dengan Cak Nun di Lapindo sekarang. Juga bacaan bung Anton tentang
Cak Nun yang "banyak jasanya bagi bangsa ini" (alamaaaakk, ampun
deh!) yang diketahuinya sekadar di atas buku dan di seminar ala
ludrukan, tak lagi relevan kini.
> Lupakan Cak Nun, bergeraklah positif untuk saudara2 kita korban
Lapindo, apapun yang kita mampu! Cak Bagio, bung Sohib, dan lainnya,
bergeraklah!
> salam,
> kuss indarto

Kirim email ke