Rekan-Rekan FPK, Fenomena penurunan harga minyak berkaitan erat dengan Hukuman Permintaan dan Penawaran (Demand/Supply).
Definisi resesi di AS adalah pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Bila kondisi resesi tersebut sudah terpenuhi tentunya identik dengan berkurangnya demand akan minyak. Naik turunnya harga minyak secara drastis (bukan cuma turunnya saja) merupakan indikator awal krisis energi. Bahwa insentif mahalnya harga minyak dunia ternyata tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan kapasitas produksi minyak dunia. Kalau harga sedang mahal, seharusnya jual sebanyak-banyaknya. Informasi stok minyak AS yang diumumkan tiap hari Rabu tentunya akan menjadi acuan utama. Menjelang datangnya musim dingin di belahan bumi utara, akan meningkatkan adrenalin para spekulan minyak, apalagi kalau OPEC pada bulan September ini justru mengurangi jumlah produksi minyaknya. Kalau ditanya kapan pindah dari saham ke komoditi, saat yang paling tepat adalah bulan September, tergantung apakah OPEC memotong jumlah produksi minyaknya. Tergantung apakah berani SPEKULASI bahwa OPEC akan memotong jumlah produksi minyaknya tgl 9 September ini. Berita lengkapnya di: http://www.reuters.com/article/GCA-Oil/idUSBLA54404520080825 Tambah satu lagi, nampaknya Israel punya perhitungan bahwa lebih baik menyerang Iran saat Bush berkuasa dibanding saat Obama berkuasa. Berani spekulasi? Best Regards, Rudyanto Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng! Leave oil before oil leaves us --- In [email protected], "anton_djakarta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Rudiiiiiiiiii kemana aja, kangen saya dengan gaya anda itu. > Bagaimana menyoroti fenomena penurunan harga ini dari sudut pandang > krisis energi Bung Rudi? Kalau mau naik ke harga berapa, biar saya > dapat bocorannya kapan invest switching dari saham ke komoditi > hehehehehe (sebel kalo minyak naek musti bergadang masang hedging) > > Anton
