Hi Patrick, Panggil saya gadis saja.� Saya pikir tidak ada pecah belah dalam pilpres Amerika yang ada adalah kontras antara kandidat satu dengan yang lainnya.� Kontras ini dikehendaki oleh rakyat Amerika agar mereka jelas apa bedanya Obama dengan McCain.� Misalnya dalam konteks Indonesia, apa bedanya program Megawati dengan SBY atau�Fadjroel Rahman�misalnya.� Ini penting untuk menentukan siapakah yang layak mendapatkan suara mereka atau siapakah yang layak menjadi presiden.� Kalau kita tidak bisa mengkontraskan kandidat satu dengan lainnya, maka, kita sesungguhnya tidak tahu visi dan misi masing-masing kandidat.� Sama pula dengan partai, kontras penting agar kita bisa membedakan tujuan dan program PDIP dengan PKS atau Golkar misalnya.� Kalau tujuan, misi dan program semua partai sama lantas mengapa harus ada pemilihan?� Kalau kita tidak bisa membedakan antara PKS dengan Golkar atau PDIP dengan HANURA, maka kita tidak tahu sesungguhnya Indonesia akan mereka bawa kemana.� Politik pun akhirnya tidak dikelola dengan akal sehat tapi sebatas nafsu kuasa.
Menurut saya di Indonesia, kontras ini yang belum ada dari satu partai ke partai lainnya atau dari satu kandidat ke kandidat lainnya.� Karena tidak ada kontras maka perdebatan hanya seputar figur dan bukan program yang diusung masing-masing kandidat.� Dan karena persoalannya�hanya masalah�figur maka tidak ada perdebatan substansial, semua berjalan sangat artifisial, palsu, akhirnya yang dipikirkan partai hanya umbul2 itu atau yang dipikirkan calon kandidat hanya gambar iklan diri yang gede2 itu. Soal perbedaan pendapat dan kontras yang ada�antara partai Republik dan Demokrat di AS tidak bisa disamakan dengan persoalan Ahmadiyah di Indonesia.� Perbedaan pendapat di AS tidak menimbulkan kekerasan, tidak ada bakar-bakaran atau membubarkan masjid apalagi menerbitkan SKB.� Dua kandidat yang tadinya merebut nominasi partai seperti Hillary dan Obama pun di dalam konvensi bersatu, memperkuat dan mempertajam program partai mereka agar bisa terlihat kontras yang jelas dengan partai saingan mereka. Demikian pendapat saya. Cheers, gadis arivia. � ----- Original Message ---- From: Patrick Hutapea <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, August 31, 2008 7:41:39 AM Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender Mbak Gadis Arivia, Saya setuju, situasi Pilpres AS selalu melibatkan perdebatan substansial, kebijakan vs kebijakan. Intinya, lebih meruncing & intisari dari kontestasi politik di AS jauh lebih bermakna daripada di Indonesia. Di Indonesia hanya perang papan iklan/reklame, spanduk dgn slogan-slogan hampa, dll. Intinya, jangan harapkan persaingan politik meruncing kepada perdebatan 'platform' politik masing-masing. Yang saya maksud dgn 'the great divide' adalah masyarakat AS terpecah-belah. Mohon koreksi bila saya salah, perpecahbelahan itu mirip dgn masyarakat Indonesia sewaktu menghadapi fenomena Jemaat Ahmadiyah! Salam, Patrick Hutapea
