Untuk Point No.2 bpk. Hasan

Sampai sekarang saya blm habis pikir, bagaimana mungkin pemerintah tidak
mengurusi masalah pendidikan yg krusial ini? ato memang sesuai teori
konspirasi, para petinggi bangsa ini memang hendak membodohi masyrakat agar
lebih gampang untuk korupsi ? ibarat kata ,merebut permen lebih gampang ke
anak kecil daripada anak sudah sekolah.

buku serba mahal, dan tampaknya sudah tidak ada kebijaksanaan buku paket
lagi pada jaman sekarang ya? (apa balai pustaka masih berjalan ?) .pada
waktu saya sekolah dulu , buku terbitan Erlangga harga perbukunya bisa
sampai 2 kali lipat uang sekolah saya per bulan untung hanya setiap 6 bulan
sekali baru harus beli lagi. Bener kata temennya bung Budiman, untung saya
dilahirkan pada waktu sekolah belum mahal, tp engga kebayang apa jadinya
anak saya nanti kalo mau sekolah? apa saya kirim keluar negeri aja yah biar
murah?

Hanya di Endonesia.
Salam,
William

2008/9/3 Hasan Z. Mahmud <[EMAIL PROTECTED]>

>
> [2]
> Karena itu, ketika akses ke dunia pendidikan diblokade oleh barier
> finansial, kita
> secara sadar telah membangun lingkaran setan keterbelakangan. Anak
> tukang beca,
> karena kendala finansial, akan menjadi tukang beca, anak pemulung akan
> tetap jadi
> pemulung. Degradasi kualitas sumber daya manusia paralel dengan
> degradasi
> posisi kita sebagai bangsa.
>
> Salam HZM
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke