Telitilah informasi yang ada

Ada wajar dikdas 9 tahun dan ada lagi pendidikan luar sekolah (buta aksara
maupun penyetaraan) sebagai pendamping wajar dikdas 9 tahun tersebut,  jadi
tidak ada yang tidak tersentuh. Tolong cari datanya dimana ada orang yang
anda maksud itu ?

Tapi jangan dicampur dengan akar budaya, Maaf untuk daerah jalur gaza
(pantura, maaf bukan hanya indramayu lho), SD dan SMP itu guru dan kepala
sekolah mengemis agar anak-anak mereka masuk sekolah, tapi kan bagi bapaknya
kalau sudah 11 tahun (khususnya anak wanita) adalah aset yang bisa
menghasilkan, jadi buat apa disekolahkan.

Jadi jangan digeneralisir, petani perlu ada anaknya yang meneruskan menjadi
petani, pembatik perlu ada anaknya yang meneruskan tradisi batik, mpu perlu
ada anaknya yang meneruskan kemahiran membuat gong dan keris. Dan inilah
yang dijalankan di Cina sono.

Ilmiceli

2008/9/4 rahardjo mustadjab <[EMAIL PROTECTED]>

>   Setuju dengan Pak HZM, khususnya butir (2).  Kasta terbawah terbelenggu
> dalam
> perangkap kesengsaraan bin kemelaratan. Karena sekolah musti mbayar, anak
> mereka tidak disekolahkan atau putus sekolah si SD. Akhirnya anak pemulung
> jadi pemulung. Padahal banyak anak pembantu dan kasta terbawah lainnya yang
> punya IQ tinggi contohnya terlalu banyak untuk dibeber di sini.
>
> Tanpa kita sadari, kita telah menciptakan kasta terbawah yang sulit sekali
> menikmati mobilitas sosial vertikal.  Padahal UUD 45 bahkan yang belum
> diamandemen jelas menyatakan adalah hak warga negara artinya pendidikan
> dasar nggak usah bayar. Kesadaran bahwa modal insani Indonesia dahsyat hanya
> jadi omongan tidak disertai langkah nyata. Kalau saja sejak tahun 1945
> kesadaran ini nyata, pasti pendidikan untuk semua kita utamakan. Sejak dulu
> hendaknya kita sisihkan anggaran memadai untuk pendidikan.
>
> Pasti kita yang termakan oleh propaganda kita sendiri akan mengatakan
> jangan lupa kita menghadapi PRRI-Permesta menghadapi Malaysia antek Nekolim
> yang harus kita konfrontasi yang semua itu memerlukan biaya. Ya sebagai
> bangsa kalau kita tidak punya fokus pada yang utama, maka kita gampang
> didistraksi.
>
> Ketahuilah kawan, anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sebagian dibiayai
> dari
> negara. Ini harus dipakai membiayai bebas uang sekolah SD-SMP-SMA. Jangan
> sampai anggaran pendidikan dikorup. Atau para dosen makin sering menghadiri
> seminar di LN.
>
> Asset insani Indonesia luar biasa dalam jumlah maupun dalam mutu.
> Manfaatkan asset insani dari segala lapisan masyarakat jangan
> dibeda-bedakan. Termasuk dan terutama asset insani dari kasta terbawah.
> Maafkan saya menggunakan istilah kasta.
>
> Salam,
> RM
>
>
> --- On Wed, 3/9/08, Hasan Z. Mahmud <[EMAIL 
> PROTECTED]<hzmahmud%40bbj-jfx.com>>
> wrote:
>
> From: Hasan Z. Mahmud <[EMAIL PROTECTED] <hzmahmud%40bbj-jfx.com>>
> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kaya dan pintar
> To: 
> [email protected]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>
> Date: Wednesday, 3 September, 2008, 12:24 PM
>
>
> [1]
> Saya cuma ingin menggaris-bawahi statement Bung Budiman Sudjatmiko.
> Banyak jalan untuk menapaki mobilitas vertikal. Namun di mata saya,
> kanal
> yang terhormat tidak lain dari peningkatan kualitas pengetahuan dan
> ketrampilan,
> serta memanfaatkannya bagi kesejahteraan umum. Jalan "pintas" lainnya
> lewat
> cantelan (politisi kacangan, menantu konglomerat, keluarga pejabat dan
> sejenisnya)
> cuma bisa dilakukan ketika masyarakat masih buta politik. Dan pasti tak
> langgeng.
>
> [2]
> Karena itu, ketika akses ke dunia pendidikan diblokade oleh barier
> finansial, kita
> secara sadar telah membangun lingkaran setan keterbelakangan. Anak
> tukang beca,
> karena kendala finansial, akan menjadi tukang beca, anak pemulung akan
> tetap jadi
> pemulung. Degradasi kualitas sumber daya manusia paralel dengan
> degradasi
> posisi kita sebagai bangsa.
>
> Salam HZM
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke