Ya karena susunan masjarakat lebih menghendaki kegiatan akademis 
lebih dilihat sebagai "Fungsi Ndoro-ndoroan" bukan fungsi "Kepandaian 
Membentuk Kapital" Coba Ilmi anda kan dosen ekonomi, bisa nggak bikin 
duit dari 25 juta ke 500 juta dalam waktu dua tahun misalnya.

Kalo orang akademis yang otaknya cuman mencelot di buku-buku nggak 
ada  kreatif-kreatifnya, sementara orang yang belajar dari kehidupan 
tau bagaimana kreatifnya menghadapi persoalan, menambah nilai 
kekayaan kapital. Inilah kenapa banyak orang yang merasa kuat di 
akademis tidak kaya, malah miskin dan banyak mengeluh, tapi orang 
yang pandai melihat situasi dan belajar banyak dari kehidupan bisa 
mencetak duit banyak. 

Karena apa? karena orang yang belajar dari kehidupan akan terus 
menimba pengalaman dari kegagalan untuk berhasil, sementara orang 
yang cuman beraninya di kelas-kelas dan bicara banyak tentang teori 
kerap kali gagal melihat keberanian. Keberanian adalah kunci untuk 
menjadi kaya.

Anton Anticelli


Tidak ada keberhasilan, tanpa keberanian


--- In [email protected], "Mohamad Ilmi Hussein" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Haniwar
> 
> Dalam setiap diskusi dengan mahasiswa pasca, saya selalu didesak 
mengenai
> data akurat tentang jumlah kasta terendah ini. Karena data itu 
lebih banyak
> yang dipolitisir untuk mencapai tujuan (tanda kutip) tertentu.
> Begitu juga saat turun ke daerah binaan bersama mahasiswa 
(pengabdian
> masyarakat) kita melihat bahwa data di lapangan sangat jauh bedanya 
(mungkin
> disesuaikan dengan proyek: Askeskin, BLT, masyarakat mandiri, dst). 
Mungkin
> penghasilan mereka rendah, namun dari segi wealth-nya lebih tinggi 
dari
> masyarakat perkotaan (inilah kelemahan dari aggregation, dasar 
asumsi dan
> skenario).
> 
> Contoh sederhana saja, penghasilan pewarteg, koordinator pemulung,
> koordinator fakir miskin (maaf peminta-minta), koordinator demo  
ternyata
> setelah saya hitung lebih tinggi dari hasil kedosenan saya dengan 
gol. IV/b
> (apalagi kalau dibandingkan dengan segala macam broker). Sekalilagi 
saya
> tidak ingin men-generalisir-nya mas.
> 
> Selanjutnya kalau kita lihat jumlah bilangan mereka yang berhasil 
di sektor
> informal semakin banyak, artinya adanya shifting ke arah 
entrepreneur murni.
> Nah disini harus mulai kita hitungkan berapa disposable income, 
daya beli
> dan kesejahteraan sebagai tandingan menghitung dasar penetapan 
UMR/UMK yang
> melulu berdasar kepada kebutuhan minimal yang tidak jelas.
> 
> Harapan saya kalau berbicara terjadinya peningkatan jumlah kasta 
terendah,
> juga harus dihitung berapa besaran yang ke luar dari kasta terendah 
(pasti
> ada yang berhasil mas), bagaimana polanya sehingga adalah sedikit 
celah
> solusi. KUR salah, BLT salah, Raskin salah, lha yang benarnya kaya 
apa sih
> mas, inikan berkaitan dengan sikap mental. Sekarang saya yang minta
> dicerahkan mas.
> 
> Ilmicelli yang suka di lapangan
> 
> 
> 
> 
> 2008/9/4 Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> >   sebenarnya bacanya udah tenang .. tapi gak ngerti juga..
> >
> > makanya nanya..
> >
> > mungkin bodo aku..
> >
> > tapi sekarang agak ngerti...
> >
> > menggeneralisir memang salah... , tapi membikin bingung 
orang...jauh
> > lebih salah..jd gak jelas ,padahal RM jelas arahnya , kasta 
terbawah
> > memang akan bertambah , kalau keadaan terus spt sekarang.
> >
> > HS
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke