YTH...Bung IJP Juru bicara Budiman S. Tanpaknya diskusi kita semakin menarik dan berkembang menjadi aliran kiri dan kanan. Awalnya saya hanya ingin bertanya pada Bung Budiman, apa tanggapannya dengan komentar Pak Pram, yang saya kutip dari kliping majalah Tempo yang dikirim oleh Bung Anton..Tapi Bung Budiman belum menjawabnya malah mengomentari komentar Bung IJP soal aliran kiri & kanan.
Seperti yang saya katakan saya sangat simpatik dengan perjuangan Bung Budiman dan Bung IJP. Dimanapun kita berada kalau power/energi positif kita lebih kuat, maka kita bisa menarik orang pada power/energi positif kita. Tapi bila sebaliknya, kita sudah tahu akibatnya. Pertanyaanya apakah Bung Budiman setuju dengan pendapat Pak Pram soal Ibu Megawati, dan yakinkah Bung Budiman memilki power lebih kuat? Walau sesungguhnya pertanyaan ini tak layak saya ajukan. Tapi karena karena hanya melalui media milis FPK ini saya bisa bisa berkomunikasi dengan Bung Budiman, jadi tak ada salahnya saya pikir.... Soal Polemik kiri dan kanan, problematiknya tak jauh beda dengan polemik kebudayaan yg hingga kini belum ada solusinya, yang mana inti masalah memperdebatkan kita harus mengacu konsep barat atau Timur... Timur atau barat, Kiri atau kanan adalah soal pilihan, hanya sayangnya banyak orang enggan memlih menggabungkan kiri & kanan atau barat dan Timur. Tuhan menciptakan dua sisi dalam setiap aspek kehidupan, sesungguhnya untuk di pertemukan dan saling bekerja sama....saya pikir sudah saatnya kita mempertemukan dua sisi yang ada. Sehingga semua berjalan dengan indah berdasarkan nilai-nilai KeIlahian kita tanpa kehilangan karakteristik kita. Benar atau salah, kiri atau kanan, kebanyakan valuenya didasari oleh persepsi individu. yang benar adalah yang tidak mempersepsikan dirinya adalah kebenaran. Dan yang salah adalah yang tidak mau belajar dari kesalahan dan senantiasa menyalahkan. Wasalam Rani Badrie --- On Thu, 11/9/08, anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Mengenang Pram...mengenang PRD di tahun 1999 To: [email protected] Date: Thursday, 11 September, 2008, 12:34 PM Saya bingung Jefferson dibilang kanan, karena humanisme Jefferson adalah sumber inspirasi dari tulisan-tulisan Marx muda, Marx ketika tahun 1840-1848 tidak pernah sama sekali menyebut-nyebut Amerika Serikat sebagai contoh buruk suatu negara. Marx hanya menyoroti Perancis dan Inggris. Dan tahukah kenapa Kapitalisme Liberal masih bertahan sampai sekarang, karena mereka beladjar sungguh-sungguh dari Marx. Marx pula- alh yang membuka bab pikiran "Kesengsaraan Meluas" akibat meluapnya Kapital yang dikomodifikasi dalam bentuk uang Marx meramalkan inilah yang akan membuat kehancuran Kapitalisme dan dalam bayangan Marx sesuai dengan realitas jang ia liat di abad 19 ada barisan buruh jang merampas pabrik-pabrik namun hal ini tidak terdjadi karena muntjulnja Keynes, oleh Keynes hal ini kemudian menyarankan peran Negara untuk mengintervensi, jadi "Kesengsaraan yang meluas" menurut tesis Marx dimentahkan oleh Keynes bahwa itu hanyalah "Pergeseran Equilibrum" dan teori itu mendapat momentumnya pada saat depresi 1929, yang dibuat gara-gara Presiden Harding terlalu banyak melakukan kesalahan- kesalahan kebidjakan ekonomi. Ketika FDR berkuasa, sebelumnja lewat beberapa akademisi dari Harvard yang membawa buku General Theories- nya Keynes, FDR membumikan gagasan Keynes, maka dia membangun gerakan politik paling praksis, Gerakan ini disebut "Kesepakatan Baru" atau "New Deal" apa yang dilakukan FDR adalah contoh bagaimana sebuah teori bisa mencapai tataran praksisnya dalam kesempurnaan. Dari situ kita harus banyak belajar, bahwa kita harus pandai-pandai beladjar bagaimana caranya mengadopsi pemikiran-pemikiran yang cocok untuk Indonesia, pertama kali adalah dengan : 1. Menganatomi problem-problem pokok itu 2. Membuat peta sejarahnya kenapa problem itu berkembang 3. Membaca semua referensi yang kemungkinan bisa membongkar habis problem-problem pokok 4. Memiliki gerakan-gerakan yang sudah paham akan problem dan jalan pemecahannya, lalu membangun front di kalangan elite dan membentuk sebarisan elite yang kuat (inilah yang tidak dilakukan PKI semasa jayanya, dan ini juga adalah hasil dari pemikiran kelompok PSI dimana mereka tau, selama kaum elite tidak dikuasai, maka selama itu pula Gerakan Politik akan gagal. Untuk itu walaupun PKI mendapat tempat nomor empat dalam Pemilu 1955, kelompok Masjumi-PNI- NU-PSI mengisolir PKI membangun barisan elite dan dibiarkan mengekor pada Bung Karno) 5. Membangun gerakan masjarakat yang paham budaya tapi tidak konfrontatif. 6. Mempraktekkan gerakan penyadaran-penyadar an dengan membentuk kantong-kantong kader. Inilah yang dibuat Hatta dalam PNI- Baru/Pendidikan. Jang dibajangkannya dari gerakan Partai Kaderlah akan terbentuk elite Indonesia, dan dugaan ini kemudian menjadi benar ketika AK Gani mampu membangun satelit-satelit gerakan anak muda yang paham persoalan dan mampu membentuk sebarisan elite, walaupun kemudian di fait accompli oleh segerombolan Perwira PETA yang kemudian juga menjadi elite). 7. Membangun basis-basis ekonomi rakyat dengan membuka ruang kapital yang didapat dari merebut sumber-sumber Kapital yang dikuasai asing atau dibangun atas kontrak karya yang tidak benar. 8. Menghidupkan sehidup-hidupnya Masjarakat dan Pergerakan Rakjat apapun bentuknya, karena dari masjarakat jang hidup akan timbul dinamika. Anton
