Yth Pak Anda,
Saya kira ini masalahnya di Indonesia dan negara berkembang lainnya.
Sebagai tenaga ahli yang diberi tugas oleh suatu organisasi untuk mengembangkan
"Strategy and Development'' oleh atasan atau pimpinan masukannya tidak dianggap.
Mengapa karena leader dan leadership-nya masih kurang paham untuk
menangani masalah atau kemampuan untuk merasakan perlunya suatu
strategi.
Akibatnya si tenaga ahli bisa frustrasi dan hengkang.
Oleh karenanya dalam suatu diskusi pak Soegeng di QTv dibahas betapa rumitnya
mengelola bangsa yang dipimpin secara amatiran,bukan oleh ahlinya.
Pada saat yang hampir sama, partai-partai di DPR debat mengenai batas pendidikan
yaitu SMA atau S-1 untuk calon Presiden Indonesia.
Bayangkan baru untuk proses manajemen saja ada 30-an elemen yang harus
dikordinasikan dan dipadukan agar hasilnya produktif dan harmonis,ya
mirip simponi
musik,perangkatnya ,pemusiknya dengan dirigennya menghasilkan sesuatu yang
indah.
Di Prancis saya ingat ada sekolah khusus Ecole Superiore ? yang
merupakan tempat menggodok calon-calon pemimpin bangsa maupun
organisasi apakah di bisnis maupun
pemerintahan.Pak Kemal Surianegara kalau tidak salah lulusan Ecole
tersebut,bercerita
tentang 3 hal penting yang ditekankan di Ecole tersebut yaitu WATAK,OTAK dan
OTOT.
Dizaman dahulu barangkali dunia masih lebih sederhana sehingga
Alexander Agung,Jengis Khan tak perlu sekolah, namun saya yakin mereka
adalah jenius yang mempunyai kemampuan untuk belajar dari lingkungannya
dan secara naluri mempunyai jiwa kepemimpinan.
Barangkali bisa cerita lebih detail pak Anda, persiapan calon leader di Prancis
atau Eropa
umumnya.
Suatu hal, untung pak Anda punya tempat hengkang ke Paris,kota idaman saya.
Saya jadi nostalgia, ingat Paris ketika pertama datang,jalan-jalan sepanjang
sungai Seine,
dibelakang gereja Notre Dame,para pelukis sedang asyik dengan kanvasnya,
melukis.
Disini seni,budaya dan intelektual diramu menjadi sesuatu yang bagi
saya indah dan menghasilkan sesuatu secara elegance dan kreatif.
Salam hangat.
--- On Sun, 10/26/08, Anda Djoehana Wiradikarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Anda Djoehana Wiradikarta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [AlumniPrancis] re: "Strategic Planning"
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, October 26, 2008, 9:42 AM
Pak Bakri,
Tahun
1994 saya keluar dari Total dan pindah ke Indonesia untuk bergabung
dengan holding satu group "pribumi" (saat itu artinya "bukan Tionghoa").
Saya mengusulkan mendirikan suatu divisi "Strategi dan Pengembangan",
karena itulah yang saya kerjakan di�3 tahun terakhir di Total di
Paris. Saya diberi "gelar" "vice president Strategy & Development".
Saya dilibatkan dalam sejumlah proyek pengembangan dan diversifikasi
group tersebut. Tapi sering masukan saya tidak dianggap. Baik atasan
(direktur holding) maupun rekan-rekan saya (pemimpin proyek) tidak
melihat perlu adanay pemikiran strategi perusahaan dan tahapan
pengembangan proyek. Akhirnya, karena capek, saya keluar tahun 1999 dan
balik ke Prancis (maaf Pak Dodik, tapi apa gunanya bertahan di tempat
di mana saya tidak merasa berguna?).
Jadi Pak Bakri, saya akan dengan senang hati menyumbangkan pengalaman dan
pengetahuan saya kalau ada yang berminat!
Anda