http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/27/02133455/tantangan.berat.nasionalisme

Jakarta, Kompas - Fenomena positif pascatumbangnya Orde Baru adalah
pergulatan untuk membentuk nasionalisme kerakyatan yang lebih unik,
yang lebih mencerminkan kondisi bangsa ini.

Namun, pada saat bersamaan, ancaman terhadap keberagaman terlihat dari
semakin menguatnya politik aliran dan dominasi kaum mayoritas.

Demikian topik yang mengemuka dalam perbincangan dengan sejarawan dari
Universitas Negeri Padang Mestika Zed, Ketua Program Magister Religi
dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta St Sunardi, penggerak
pendidikan kebinekaan dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sutan Iskandar
Muda Sofyan Tan di Medan, pemimpin Forum Persaudaraan Umat Beriman
Yogyakarta Kiai Haji Abdul Muhaimin, dan seniman teater Butet
Kartaredjasa tentang refleksi 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 100 Tahun
Kebangkitan Nasional.

St Sunardi menilai, saat ini dimensi nasionalisme menjadi lebih rumit
daripada sekadar kesamaan sejarah, suku, bangsa, atau budaya.

"Namun, globalisasi dan nasionalisme tidak harus saling mematikan.
Buktinya, negara-negara yang terdepan dalam menyemarakkan globalisasi
justru punya nasionalisme tinggi. Sebut saja Amerika Serikat atau Jepang."

Rakyat membutuhkan nasionalisme yang lebih konkret daripada itu, yaitu
jaminan keamanan, kesejahteraan, dan masa depan. Namun, sejumlah
kebijakan pemerintah justru bertolak belakang dengan nasionalisme:
investasi asing yang berlebihan, dan tidak diseimbangkan dengan
kebijakan yang memihak perekonomian rakyat.

Praktik otonomi daerah juga mencerminkan kemunduran nasionalisme
karena dilakukan dengan semangat kesukuan "hanya putra daerah yang
boleh jadi pemimpin".

Sejarawan Mestika Zed mengemukakan, nasionalisme yang kedodoran
terlihat dari semangat para politisi yang individualistis dan terjebak
dalam kepentingan ekonomi, seperti urusan balik modal, pencitraan saat
kampanye, dan pengabaian kepentingan publik.

Rumah besar nasionalisme

Ketua Dewan Pembina Yayasan Sutan Iskandar Muda Sofyan Tan
mengemukakan, kesenjangan yang tajam antara si kaya dan si miskin
menjadi ancaman rumah besar kita: nasionalisme. Karena itu, membahas
nasionalisme tanpa berbicara tentang kesejahteraan adalah omong kosong.

Perjuangan nasionalisme Indonesia kini adalah memperkecil kesenjangan
kesejahteraan agar tak muncul perpecahan. Salah satu akar persoalan
kemiskinan adalah merajalelanya korupsi.

Kiai Haji Abdul Muhaimin menilai nasionalisme yang dibangun para
pendiri bangsa—dalam konteks pengakuan dan penghargaan atas
keberagaman—tetap relevan hingga saat ini.

"Konflik yang sepertinya ditunggangi agama, menurut saya, sering kali
sebenarnya ditunggangi kepentingan politik, ekonomi, dan subyektivitas
individu," katanya.

Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kota Gede Yogyakarta itu
menyatakan, setiap komponen bangsa seharusnya memberikan ruang yang
memadai kepada setiap kelompok tanpa memperhitungkan besar kecilnya
massa. Perbedaan teologi harus didialogkan supaya tetap memberikan
kontribusi kepada negara.

Butet Kartaredjasa mengemukakan kekhawatirannya tentang krisis dan
kondisi berbangsa kita. Ia menyebut sejumlah kasus yang mencederai
semangat kebinekaan, seperti sidang kasus Monas yang diwarnai insiden
dan rencana penetapan Undang-Undang Pornografi yang terkesan
memaksakan kehendak.

Semangat kebinekaan dan keberagaman seharusnya dihayati kembali dan
masyarakat harus bisa bersikap kritis dalam menyikapi segala sesuatu.
Jangan mudah terjebak dalam semangat golongan atau kelompok apa pun.
"Intinya, masyarakat harus yakin dengan landasan founding father dalam
mendirikan negara ini," ujar Butet.(ANG/ENY/IRE/ENG/PRA/ WKM/ART/NDY/JON)


Kirim email ke