Oleh RIKARD BAGUN
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/27/02143984/butuh.banyak.sumpah.pemuda



Peristiwa Sumpah Pemuda dalam dialektika dengan Kebangkitan Nasional
atau nasionalisme selalu mengacu pada proses kelahiran sebagaimana
istilah nation (kebangsaan) dimaksudkan.

Makna nation dari riwayatnya memang berakar dan senantiasa mengacu
pada pengertian natus, natal, kelahiran. Kelahiran tidak hanya
bersifat substansial bagi pembentukan nation melalui kontrak politik,
tetapi kiprahnya juga selalu dalam status kelahiran, semper in statu
nascendi, sebagai "proses menjadi" yang tidak pernah sekali selesai.

Dalam bingkai pergulatan kebangsaan, banyak hal lahir atau dilahirkan.
Jika Budi Utomo 20 Mei 1908 melahirkan semangat nasionalisme dan
Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 melahirkan tiga
prinsip dasar: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Luar biasa!

Ketiga nilai yang diusung Sumpah Pemuda bersifat eksistensial karena
ikut menentukan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang
berjangkauan jauh ke depan.

Tantangannya bagaimana nilai-nilai itu memberikan inspirasi yang
menggerakkan berbagai wacana dan kegiatan produktif agar "proses
menjadi" tidak pernah berhenti.

Maka dibutuhkan banyak sumpah pemuda lagi tidak hanya untuk merawat
dan memberi kawalan terhadap nilai-nilai yang sudah dilahirkan dalam
Sumpah Pemuda 80 tahun lalu, tetapi juga untuk melahirkan komitmen
baru dalam memajukan bangsa dan negara.

Beri kawalan

Prinsip satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang dicetuskan dalam
Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 perlu dikawal dan diperkuat
dalam menghadapi perubahan.

Namun, setelah 80 tahun berlalu, ketiga prinsip itu tampak kedodoran.

Tantangan serupa dialami prinsip satu bangsa. Semangat satu nasib,
satu perjuangan, tidak terlihat dalam bidang ekonomi karena kemiskinan
dan kesenjangan sosial. Bahaya primordialisme dalam bidang sosial dan
politik juga mengancam keutuhan bangsa dan integrasi wilayah.

Juga terasa kedodoran dalam bidang bahasa. Terjadi kesenjangan dalam
komunikasi yang membuat berbagai elemen bangsa cenderung bergerak
sendiri-sendiri.

Orientasi nilai

Prinsip satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yang dicetuskan
Sumpah Pemuda, merupakan nilai-nilai dasar sebagai pusat orientasi dan
pegangan.

Banyak bangsa dan negara ambruk karena tidak mampu menjaga nilai-nilai
dasar kebangsaan. Sekadar ilustrasi, Kekaisaran Roma, Ottoman Turki,
Kerajaan Aztec dan Inca ambruk karena tidak mampu menjaga nilai-nilai
dasar yang menjadi pengikat.

Prinsip satu nusa, satu bangsa, satu bahasa atau Pancasila harus mampu
beradaptasi dengan proses perubahan yang berlangsung cepat di tengah
dunia yang digambarkan sedang berlari tunggang langgang.

Bangsa Indonesia dipastikan akan tertinggal jauh jika tidak mampu
melakukan adaptasi di tengah arus perubahan yang penuh kompetisi.
Kecepatan sangat dibutuhkan karena prinsip paling kuat akan bertahan,
the survival of fittest, sudah tergeser oleh prinsip paling cepat akan
bertahan, the survival of fastest.

Namun lagi-lagi dalam menerjang kecepatan, sangat dibutuhkan pegangan
yang mengacu pada nilai-nilai dasar yang kuat agar tidak terjadi
disorientasi. Tanpa memegang teguh nilai dasar kebangsaan dan
kenegaraan yang antara lain diikat dalam Pancasila, bangsa Indonesia
akan menjadi gamang dan limbung menghadapi arus perubahan yang begitu
cepat dan terkadang mendadak.

Keadaan menjadi runyam jika dalam era pertarungan dan arus perubahan
yang begitu cepat, nilai-nilai dasar yang menjadi jangkar kehidupan
negara ingin diubah atau diganti.

Upaya mengubah atau mengganti dasar negara itu tidak hanya memecah
konsentrasi terhadap agenda-agenda penting untuk mengatasi tantangan,
tetapi bisa mengancam eksistensi negara dan bangsa.

Tarik-menarik kekuatan pada persoalan dasar negara tidak hanya
mengancam eksistensi, tetapi secara langsung menyulitkan proses
adaptasi terhadap perubahan.

Lebih memprihatinkan lagi, cenderung terjadi polarisasi sosial politik
yang menghambat proses sinergi, solidaritas, dan kekompakan dalam
menghadapi tantangan bangsa dan negara yang begitu besar dan rumit.

Sinergi yang melibatkan seluruh komponen bangsa sangat dibutuhkan
Indonesia dalam kompetisi global.

Tanpa program kerja nyata, segala keinginan perubahan dan perbaikan
hanya akan menjadi retorika yang cepat atau lambat hanya akan
menciptakan frustrasi.

Sudah muncul gugatan, mengapa Indonesia yang sudah merdeka 63 tahun
tidak maju-maju juga, lebih-lebih jika dibandingkan dengan
negara-negara tetangga yang semakin bergegas menggapai kemajuan.


Kirim email ke