Ada cara yang mungkin bisa membantu.. yaitu:

1. Tertibkan dan tindak angkutan kota yang suka ngetem sembarangan, suka ambil 
jalur sembarangan, suka menerobos sembangan, dan mengambil / menurunkan 
penumpang sembarangan.

2. Perbaiki jalan-jalan berlubang, dengan jalan berlubang maka laju kendaraan 
jadi melambat dan mengakibatkan penumpukkan

3. Diberlakukan jam operasi truk-truk besar yang melalui jalan tol dalam kota. 
Truk-truk ini selain jalannya lambat juga menghabiskan ruas jalan

4. Daripada anak sekolah yang di majukan masuknya, lebih baik.. pegawai-pegawai 
kantor (bukan pekerjaan public service) masuknya siang aja. Misalnya masuk jam 
12 siang, pulang jam 8 malam.

5. Daripada bikin jembatan penyebrangan busway yg melintang-lintang, lebih baik 
dibuatkan koridor buat pedestrian dari gedung satu ke gedung lain. Kalau mau 
keren sih harusnya berbentuk subway (lorong) tapi nanti alasan mahal lagi.

6. Terakhir..buat aturan daerah ttg dihapuskannya pengawalan mobil pejabat. 
Silakan nikmati wahana kemacetan Jakarta. Kali-kali dengan cara ini mereka akan 
lebih sadar dan giat untuk mengentaskan kemacetan ini dengan lebih SERIUS!

Nah.. sambil semua itu dilakukan.. buatlah monorail. Memang mahal.. tapi saya 
yakin akan banyak keutungan yang didapat apalagi jika dibandingkan dengan 
kerugian triliunan tadi di atas.

Trims
Motulz




--- On Mon, 12/1/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Fauzi Bowo Harus Berani dan Tegas
> To: [email protected]
> Date: Monday, December 1, 2008, 7:07 AM
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/00280475/fauzi.bowo.harus.berani.dan.tegas
>
>
> Kemacetan jalan di Jakarta makin parah. Kerugian akibat
> lalu lintas
> macet amat besar, Rp 12,8 triliun per tahun—data Dinas
> Perhubungan DKI
> Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta panik sebab gagal
> menerapkan
> aneka jurus mengatasi macet.
>
> Padahal, kegagalan kebijakan karena Pemprov tak fokus, tak
> konsisten,
> tak tegas menindak yang salah dan kurang koordinasi dengan
> instansi,
> seperti Kepolisian RI dan PT Kereta Api. Macet terus
> mendera warga Ibu
> Kota dan sekitarnya, tetapi usaha membuat angkutan umum
> massal nyaman
> agar warga pindah dari mobil pribadi ke angkutan umum
> tersendat.
>
> Alhasil warga harus kena macet saat berangkat dan pulang
> kerja.
> Penumpang kendaraan umum lebih sengsara. Sudah berdiri
> berdesakan
> dalam bus kota, perjalanan menjadi lama karena jalan macet.
> Pemprov
> DKI Jakarta berupaya mengatasi macet dengan membuat sistem
> transportasi makro yang menjadi bagian dari tata ruang.
> Persoalannya,
> sistem transportasi yang dibuat sejak Gubernur Ali Sadikin,
> Wijogo
> Atmodarminto, Surjadi Sudirja, Sutiyoso, serta Fauzi Bowo
> tak manjur
> mengatasi masalah.
>
> Rencana Pemprov DKI membuat transportasi terpadu yang
> termuat dalam
> Rencana Umum Pembangunan Ekonomi DKI Jakarta sangat jelas,
> untuk
> menekan kemacetan. Caranya, membuat sistem transportasi
> massal aman
> dan nyaman guna mengimbangi mobilitas warga Jakarta dan
> sekitarnya.
> Pilihan jatuh ke kereta api bawah tanah alias subway dan
> angkutan
> massal berbasis bus.
>
> Para gubernur melakukan rancangan itu. Bang Ali meremajakan
> bus kota
> milik Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD). Wijogo
> menerapkan
> kawasan pembatasan penumpang, three in one, Sutiyoso
> mewujudkan bus
> transjakarta dan rencana pembuatan monorel sampai Fauzi
> menertibkan
> parkir yang menjadi salah satu biang kemacetan.
>
> Semua program itu makan dana amat besar, tetapi tak satu
> pun upaya itu
> berjalan baik. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya,
> yakni pemprov
> tidak fokus dan ada kepentingan ekonomi yang ikut bermain
> di sana.
>
> PPD kini megap-megap karena salah urus. Pembatasan
> penumpang mobil
> pribadi tak efektif karena memunculkan calo penumpang, bus
> transjakarta tak berkembang baik sebab bus tak lagi nyaman
> dan aman.
> Monorel dan keinginan membuat subway jalur Lebak
> Bulus-Stasiun Dukuh
> Atas masih jauh dari angan.
>
> Pemprov DKI Jakarta harus fokus ke bus transjakarta yang
> sudah
> memiliki infrastruktur di tujuh koridor. Dinas Perhubungan
> DKI Jakarta
> menyebutkan, penumpang bus transjakarta dari tahun
> 2006-2007 terus
> naik. Di koridor Blok M-Kota, misalnya, dari 2,3 juta
> penumpang
> menjadi 4,4 juta penumpang. Penumpang jalur
> Harmoni-Kalideres
> bertambah lebih dari 500.000 orang.
>
> Berarti warga mulai tertarik bus transjakarta, tetapi
> penurunan
> layanan membuat warga menjauhinya. Mereka mengeluhkan
> minimnya jumlah
> bus sehingga terjadi antre panjang dan rebutan naik bus di
> Blok M,
> Dukuh Atas, dan Senen. Ternyata bus yang beroperasi di enam
> koridor
> kecuali koridor 1 hanya 60 persen dari kebutuhan ideal.
>
> Anehnya operator tak menambah bus dengan alasan menambah
> jarak tempuh
> yang akhirnya membuat operator rugi. Untuk menutup
> kerugian, pemprov
> harus memberi tambahan subsidi.
>
> Alasan itu tidak logis. Bukankah makin banyak penumpang
> berarti
> pendapatan makin tinggi? Belakangan ketahuan pemasukan dari
> jumlah
> karcis yang terjual tak ada kontrol.
>
> Anehnya, pemprov tidak menelisik dugaan kebocoran uang
> tiket yang
> menjadi pendapatan operator. Subsidi amat besar, Rp 230
> miliar (2006),
> Rp 203 miliar (2007), dan Rp 196 miliar (2008) terus
> diberikan.
>
> Ketidakberesan harus dihentikan. Fauzi Bowo harus membenahi
> transjakarta dan aparat yang mengawasi kinerja operator.
> Tindak aparat
> dan operator tak jujur. Jika pelayanan membaik apalagi ada
> bus
> pengumpan yang nyaman dari daerah penyangga Ibu Kota, warga
> akan
> memilih naik bus tersebut.
>
> Pembatasan kendaraan pribadi dan kendaraan umum seperti bus
> mini dan
> angkutan kota harus dilakukan. Benahi dan promosikan kereta
> api agar
> lebih menarik minat warga. Keberanian dan ketegasan Fauzi
> Bowo akan
> lebih manjur mengatasi kemacetan ketimbang panik lalu
> memajukan jam
> belajar sekolah. (SOELASTRI SOEKIRNO/ PINGKAN E DUNDU/
> CAESAR ALEXEY)

Kirim email ke