Kita buka dengan mengutip pendapat Mensesneg Hatta Raja- sa tentang isu buku Tim Wiener yang menulis mantan Wapres Adam Malik sebagai anggota CIA.
"Tuduhan dalam buku itu berlebihan. Namun, bangsa Indonesia tidak perlu emosional menanggapinya. Jika mengikuti emosi, pastilah bangsa Indonesia emosi. Namun, tetap tenang. Balas (tuduhan) dengan tulisan" (Kompas, Sabtu, 29 November halaman 2). Pernyataan Mensesneg benar dan bijak. Bagi bangsa Indonesia, segala sesuatu yang berkonotasi dengan CIA peka, sensitif, dan negatif. Terutama dalam konteksnya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Perang Dingin, dan penegakan politik bebas aktif Indonesia. Gambaran semacam itu bahkan juga tecermin dalam judul buku karya wartawan The New York Times itu, yakni Membongkar Kegagalan CIA atau dalam bahasa aslinya Legacy of Ashes, the History of CIA. Meskipun demikian, karena konteks sejarah di atas (sejarah CIA dalam kaitannya dengan pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia), tulisan yang menyangkut Adam Malik itu sensitif lagi provokatif. Terutama di antara kita yang mengenal langsung ideologi, pergerakan, dan perjuangan Bung Adam Malik sejak muda sampai akhirnya menjabat wakil presiden. Tidak masuk akal bahkan "absurd" pernyataan bahwa Bung "Kecil" itusebagai kontras terhadap Bung Besar, yakni Bung Karnoadalah agen CIA. Argumen negasi itu sangat kuat, di antaranya dilihat dari sudut ideologi dan gerakan politik Bung Adam sejak muda, yakni gerakan Partai Murba-nya Tan Malaka, sikap, pernyataan, dan aktivitas politiknya dalam pergerakan ataupun dalam pemerintahan kemudian. Adalah benar, meskipun sebutlah ideologi politiknya radikal dan revolusioner, sikap, pernyataan, dan tingkah laku politik Bung Adam tenang dan rasional. Sepanjang kita mengikuti jejaknya sejak pergerakan kemerdekaan, perang kemerdekaan, diplomasi kemerdekaan Indonesia, sampai beragam jabatannya yang berakhir sebagai wakil presiden, sosok revolusioner tapi tenang dan diplomatik itulah kesan kuat yang kita peroleh. Sampai akhirnya setelah wafat, Bung Adam memperoleh gelar Pahlawan Nasional, sosok dan gelar itu tetap kuat. Keyakinan itu yang menyebabkan riak reaksi atas terbitnya buku itu, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Mensesneg dan banyak di antara kita. Penerbitan buku semacam itu, pada sisi lain, memberikan pengalaman dan pembelajaran. Masuk akal, dengan lajunya perjalanan sejarah, terhadap masa lampau, peristiwa, ataupun peranan para pelakunya, bisa timbul narasi yang berbeda fakta ataupun interpretasinya. Meskipun disertai kejujuran, keahlian, dan tanggung jawab penulis atau ahlinya, perubahan fakta dan interpretasi bisa terjadi. Hal semacam itu logis jika bisa menimbulkan beberapa reaksi. Maka, lagi-lagi relevanlah saran Mensesneg agar reaksi kita tidak emosional, tetapi rasional dan terkendali. http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/01/00300793/tajuk.rencana
