Lho selama sang Profesor tetap menjalankan 4 tugas pokoknya, yaitu:  menulis 
yang kemudian menjadi buku, membaca, menjadi pembicara dan meneliti, ya gak 
masalah toh mengajar dengan cara jemput bola??
Apa masalahnya??
Apa bedanya kasus ini dengan istilah "Dosen Terbang", dimana sang dosen lah 
yang terbang menghampiri muridnya dan bukan sebaliknya?
Soal kualitas pemahaman dari si murid, kan ada mekanisme untuk mengujinya, 
yaitu melalui sidang Dewan Dosen.
Selama anggota Dewan Dosen kredible, pasti kualitas ujiannya sesuai standar 
ujian yang berlaku, sehingga kualitas lulusannya juga berbobot sesuai yang 
disyaratkan oleh Perguruan Tinggi bersangkutan.
Menurut saya, makin banyak dosen yang bersedia melakukan konsep "jemput bola", 
ya harusnya makin baik bagi perkembangan dunia pendidikan kita.
 
Salam,
 
 
Adyanto Aditomo

--- Pada Jum, 20/3/09, halim hd <[email protected]> menulis:


Dari: halim hd <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Tugas Profesor adalah Menulis Buku
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 20 Maret, 2009, 6:34 AM






tapi ada tuuh profesor fakultas budaya uns, solo, yang tugasnya datang mengajar 
ke kantor mahasiswanya yang kebetulan bupati karang anyar yang mengambil kuliah 
s-3 bidang linguistik.
waktu dengar itu, saya merasa heran juga, betapa posisi profesor (bukan cuma 
seorang saja!) lebih rendah dari seorang bupati yanag tidak jelas kapasitas 
ke-ilmiah-annya.
hhd.

Kirim email ke