Bung Fana Soediharto,
 
Peran seorang Presiden yang juga Kepala Pemerintahan itu sangat startegis dan 
sangat menentukan jalannya Pemerintahan.
Presiden di Indonesia, karena kita menganut Sistem Presidensil, maka peran 
Presiden terhadap operasional Pemerintahan menjadi sangat dominan.
Yang diperlukan dari seorang Presiden adalah garis kebijakannya yang jelas, 
sehingga para pembantunya tidak salah dalam menterjemahkan kebijakannya dan 
semua bisa dilaksanakan dengan hasil optimal.
 
Sebagai contoh kekacauan DPT.
Pada pemilu 2009 terjadi kekacauan DPT karena Presidennya tidak perduli dengan 
kenyataan yang ada.
Bukannya membantu menyelesaikan masalah, malah mengancam pihak - pihak yang 
mempersoalkan kekacauan DPT.
Kapolri mencopot Kapolda Jatim yang menuntut Ketua KPUD Jatim memalsukan DPT, 
lha kok Presidennya diam saja.
Harusnya dia bereaksi dengan tegas: setuju atau tidak setuju dengan tindakan 
Kapolri tersebut.
Mengapa?
Karena ini masalah peka dan strategis.
Setelah semuanya terbukti kacau, eh malah Presidennya ikut cuci tangan, karena 
itu semua kesalahan KPU.
Seorang Presiden tidak bisa dipersalahkan atas kekacauan DPT.
Lho kok enan tenan?
 
Katanya SBY sedang gencar memberantas peredaran Narkoba di Indonesia.
Ini ada kasus 2 jaksa yang tertangkap mengedarkan Narkoba tetapi dibebaskan 
oleh Jaksa Agung dan membuat banyak pihak marah, tidak ada komentar dari staf 
Kepresidenan. Padahal ini masalah peka, serius dan mendapat perhatian dari 
masyarakat luas.
Kesannya Presiden tidak perduli dengan apa yang membuat masyarakat resah.
 
Jadi yang harus memberi contoh kerja Smart itu Presiden, sehingga para 
pembantunya juga harus berupaya bisa bekerja dengan Smart.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo
--- Pada Sel, 14/4/09, Fana Soediharto <[email protected]> menulis:


Dari: Fana Soediharto <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kemajuan negara, kerja seorang Presiden
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 14 April, 2009, 3:00 AM








Waduh mulai nyambung neh ama Bung HS.

Dimulai berantem dulu gak papa khan, Boss.

Saya lihat kesamaan kita dulu, kita berdua gemes liat lambatnya
kemajuan bangsa kita.

Tapi ada satu perbedaan, menurut saya, Anda terlalu berharap dari
peran presiden. Menurut saya itu non sense.
Megawati berhasil mengadakan pemilu 2004 dg baik, lbh baik dari 2009
menurut saya. Tapi apa sebenarnya peran Megawati. Apa lbh baik dari
peran SBY dalam pemilu 2009? Tidak.
Sekarang Direktorat Pajak berhasil menyegarkan jajarannya, dg
terobosan pelayanan (bukan dilayani spt dulu), meningkatnya jumlah
NPWP. Apa peran SBY? Gak banyak, Sri Mulyani yg bergerak.
Jadi presiden itu hanya katalisator, selain planner dan inisiator
tentunya. Yang bisa memilih orang terbaik (baca teknokrat) tanpa
direcoki parlemen korup, bukan pedagang yg oportunis (JK sebenarnya
saudagar yg baik menurut saya).

Saat ini kita hanya bisa berharap presiden yg bersih, santun, gak
emosian, bisa dipercaya, diterima khalayak, dan mau berbuat. Didukung
parlemen dan semua rakyat. Itu yg lbh penting.

Anda lihat di daerah. Orang masih sangat berharap pada warisan untuk
bisa hidup. Betawi jual tanah buat beli motor, buat ngojek. Orang2 di
kampung saya (di Jawa) ribut sama sodara sendiri rebutan warisan. Abis
duit buat bayar pengacara. Dan itu bukan monopoli Betawi sama Jawa
saja. Mereka itu mayoritas dari penduduk Indonesia. Itu blm ngomong
banyaknya orang males yg maunya nodong pedagang, minta setoran
pengemudi truk, nyegatin sopir angkutan, nyunat proyek pemerintah.
Lalu mau disamakan Jerman, 30 thn yg lalu?
Gak sampe 2% kali orang Jerman yg rebutan warisan buat hidup. Brp
tingkat korupsi di Jerman. Blm ngomong prosentase buta huruf, lulusan
S1. Masih jauh. Saya bukannya pesimis, tp kita mesti realistis.
Negara2 Arab yg kaya aja, penduduknya masih banyak udik bgt
kelakuannya / gaya hidupnya.

Saya tunggu balesannya ya, Boss.

Rgds,
Fana

Kirim email ke