Bung Mula Harahap,
 
Bahwa kekuasaan Presiden terkesan dipasung, ya itu akibat kekhawatiran Partai 
Partai Peserta Pemilu 1999 yang tidak menghendaki adanya kekuasaan Presiden 
yang terlalu besar seperti jaman Suharto di era Orde Baru.
Tetapi dalam membuat Undang - undang Pembatasan Kekuasaan Presiden kelihatannya 
sedikit kebablasan, sehingga kewenangan Presiden menjadi sangat terbatas dan 
kewenangan DPR menjadi terlalu besar.
SBY sangat merasakan hal tersebut selama masa pemerintahannya 2004 - 2009, 
sehingga jalannya roda pemerintahan menjadi tidak efektif.
 
Pemerintahan hanya akan berjalan efektif bila Partai Pendukung Presiden 
mendapat suara di DPR > 50 %, dan idealnya itu bukan dari hasil koalisi, tetapi 
merupakan suara 1 Partai saja.
 
Semoga saja itu bukan alasan SBY dan PD untuk berupaya mendapatkan suara di DPR 
> 50 % dengan cara sengaja mengacaukan DPT sehingga mengacaukan pemilu dan 
berbuntut dibatalkannya hasil Pemilu 9 April 2009.
Dalam Pemilu ulang, PD berharap akan mendapatkan suara > 50 % di DPR agar 
pemerintahannya menjadi lebih efektif.
 
Tapi sekali lagi jangan percaya dengan asumsi diatas karena saya masih sangat 
percaya bahwa kekacauan DPT adalah suatu kecelakaan dan bukan hasil rekayasa 
SBY dan PD.
Bahwa pada akhirnya SBY sebagai Presiden yang menurut saya tidak bersalah 
(karena yang terjadi kecelakaan, bukan kesengajaan) harus bertanggung jawab, ya 
itu memang resiko sebagai Presiden sesuai yang diamanatkan oleh Undang - undang.
 
Hanya sayangnya, dalam menyikapi kekacauan DPT, kebijakan yang diambil oleh SBY 
tidak smart, sehingga persoalannya bukannya mereda, tetapi malah melebar kemana 
- mana dan berpotensi menimbulkan kerusuhan politik yang beresiko Pembatalan 
Hasil Pemilu.
Jika hal itu memang terjadi, saya masih percaya bahwa PD juga termasuk kelompok 
yang menjadi korban, bukan yang merekayasa pembatalan Hasil Pemilu.
Bahwa kemudian SBY dan PD menjadi sasaran tembak rame - rame, itu semua akibat 
penanganan kekacauan DPT sejak awal tidak smart, sehingga masalahnya melebar 
kemana - mana.
 
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

--- Pada Ming, 19/4/09, Mula Harahap <[email protected]> menulis:


Dari: Mula Harahap <[email protected]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kemajuan negara, kerja seorang Presiden
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 6:06 PM








Beberapa tahun yang lalu majalah Newsweek pernah menurunkan laporan utama yang 
membahas berbagai tempat terburuk di dunia untuk menjadi atau melakukan 
sesuatu. Di dalam laporan yang berjudul (kalau saya tak salah ingat) "The Worst 
Places in The World" itu, misalnya, dibahas tempat mana yang paling buruk untuk 
melakukan investasi, untuk membesarkan anak, untuk hidup sehat, dsb.

Indonesia mendapat "kehormatan" sebagai "the worst place in the world to be a 
president". Newsweek menguraikan secara panjang lebar betapa konyolnya menjadi 
presiden di Indonesia: hak-hak presiden banyak yang dipasung, dan dalam 
mengambil keputusan yang remeh sekali pun dia harus mendapat persetujuan DPR.

Kisruh DPT dalam pemilu legislatif 9 April 2009 yang lalu, sekali lagi, telah 
membuktikan apa yang disinyalir oleh majalah Newsweek tersebut: Presiden harus 
dipersalahkan atas suatu hal yang lebih banyak diputuskan oleh partai-partai di 
DPR.

Ngeri 'kali bah!

Mula Harahap

Kirim email ke