http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/22/03194473/sby.jangan.galak-galak

Jakarta, Kompas - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono 
di taman depan Kantor Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/4), minta elite politik 
tidak bicara galak.

"Hati-hati, jangan terlalu galak mengatakan curang, curang. Belum lama Pemilu 
2004 berlangsung. Saya punya memori yang banyak. Tetapi, biarlah menjadi bagian 
dari masa lalu. Jangan banyak menguliahi soal curang dan tidak curang. Saya 
juga punya pengetahuan tentang beliau- beliau pada waktu yang lalu. Tetapi, 
biarlah. Ini proses dari pendewasaan demokrasi," ujar Yudhoyono.

Terkait dengan rencana sejumlah pihak yang bersuara hendak memboikot pemilu 
presiden karena urusan daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak dibereskan, 
Yudhoyono mengaku memiliki suara yang sama. "SBY sama berpendapat, selesaikan 
semua urusan yang timbul akibat pemungutan suara pemilu legislatif ini. 
Pelanggaran pidanakah, administrasi, gugatan, dan tuntutan. Posisi saya sama. 
Selesaikan. Lembaga yang berwajib, kepolisian, kejaksaan, MK, MA, Panwaslu, 
Bawaslu, laksanakan tugasnya," ujarnya.

Yudhoyono mengaku merasa sakit dituduh curang dengan mempermainkan DPT. 
Yudhoyono tidak ingin sakit berkali-kali jika menang dalam pilpres, tetapi 
tetap dituduh berbuat curang dengan DPT. Soal kemungkinan calon tunggal, 
Yudhoyono mengaku kurang percaya dengan teori calon tunggal.

Persoalkan DPT

Sementara itu, usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, kemarin, Ketua 
Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto kembali 
mengecam penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009.

"Ada pihak-pihak yang mengatakan, bagaimanapun buruknya pemilu, rakyat menerima 
saja. Padahal, hitungan kita ada 50 juta rakyat Indonesia tidak bisa 
menggunakan hak pilihnya, bahkan bisa mendekati 70 juta. Ini kan benar-benar 
penzaliman hak politik," kata Prabowo dalam konferensi pers didampingi 
Sekretaris Jenderal PDI-P Pramono Anung dan Ketua DPP PDI-P Puan Maharani.

Menurut Prabowo, persoalan buruknya DPT harus terus dipersoalkan. DPT ini 
berasal dari DP4 yang disusun Departemen Dalam Negeri, yang juga bermasalah. 
Penyelenggaraan pemilu yang sangat buruk juga akan memengaruhi legitimasi 
pemerintahan yang terbentuk pascapemilu apabila tidak diperbaiki.

"Kalau ada itikad baik, pemimpin bangsa ini kan harus punya itikad baik, kenapa 
DPT tidak diserahkan? DPT asli, soft copy, dan hard copy, sampai sekarang belum 
kami terima," ujarnya. (SUT/INU)



Kirim email ke