Pak Adiyatmika

Jika kita bicara soal metodologi seperti apakah metodologi yang dimaksudkan 
oleh Lembaga survei di Indonesia. Untuk perhitungan manual seperti yang anda 
maksudkan. Paling tidak lembaga survei harus mempunyai petugas survei disetiap 
Tempat pemungutan suara(TPS). Untuk itu dibutuhkan petugas dilapangan minimal 
30% dari jumlah TPS yang tersebar di seluruh indonesia di 33 propinsi. Jika 
lembaga suvei menggunakan SMS dan telepon atau fax juga tidak bisa dianggap sah 
karena tidak datang langsung ke lokasi di TPS

Tingkat kecurangan perhitungan manual lebih besar jika dilakukan secara 
elektronik(punch card).

Urutan proses registrasi pemilih di TPS:
1.pencatatan kedatangan,
2.pengecekan kartu pemilih,
3.pengecekan data ke daftar pemilih tetap,
4.pengecekan apakah pemilih tersebut sudah datang sebelumnya

Waktu yang dibutuhkan secara manual adalah 4.8 pemilih per menit, dengan 
mengotomatisasinya makan kecepatannya dapat ditingkatkan menjadi 13.4 pemilih 
per menit.

Berapa detik,menit,jam waktu yang dibutuhkan untuk menghitung perolehan suara 
di TPS. Kan aneh jika lembaga suvei bisa memunculkan angka pada jam makan 
siang. Bagaimana mereka bisa mendapatkan angka persentase

Dari penjelasan saya diatas bagaimanakah cara kerja lembaga survei

Jika teknologi yang digunakan adalah penggunaan barcode pada kartu pemilih. 
Ketika si pemilih datang, petugas di TPS cukup meng-scan barcode di kartu itu 
maka secara otomatis data pemilih akan terkoreksi dengan cepat. Kemudian si 
pemilih dapat diberikan kartu suara untuk selanjutnya melakukan pencoblosan.

Bayangkan jika kita menggunakan dengan teknologi:
Jika teknologi yang digunakan adalah penggunaan barcode pada kartu pemilih. 
Ketika si pemilih datang, petugas di TPS cukup meng-scan barcode di kartu itu 
maka secara otomatis data pemilih akan terkoreksi dengan cepat. Kemudian si 
pemilih dapat diberikan kartu suara untuk selanjutnya melakukan pencoblosan.

Teknologi yang digunakan adalah penggunaan barcode pada kartu pemilih. Ketika 
si pemilih datang, petugas di TPS cukup meng-scan barcode di kartu itu maka 
secara otomatis data pemilih akan tercek dengan cepat. Kemudian si pemilih 
dapat diberikan kartu suara untuk selanjutnya melakukan pencoblosan. Kenapa 
proses pemilu di Indonesia tidak menggunakan teknologi elektronik pada proses 
registrasi.

Pelaksanaan sebuah pemilu itu pada dasarnya terdiri dari 3 proses: registrasi 
pemilih,
proses pecoblosan dan
proses perhitungan suara

Jika kita mengacu pada peraturan KPU: TPS dibuka pukul 07.00 dan ditutup pukul 
12.00. Maka perhitungan suara dilakukan setelah jam 12.00 siang. Berapa lama 
waktu perhitungan suara apakah perhitungan dihadiri para saksi, jika dilakukan 
secara manual tentu memerlukan waktu yang lama untuk menghitup kertas suara 
apakah sudah mengunnakan pencontrengan.

Jika pun ada perbedaan waktu 2-3 jam dengan Indonesia bagian Timur dan 
Indonesia bagian tengah tentu juga memerlukan waktu yang lama disetiap TPS 
untuk perhitungan suara apalagi menggunakan perhitungan manual.

Lembaga survei di Indonesia memunculkan angka pada saat pemilu berlangsung 
adalah untuk membentuk opini publik sehingga ketika TV melaporkan bahwa satu 
partai unggul maka pemilih yang tidak rasional ikut-ikutan memilih partai 
tersebut.







--- In [email protected], Adiyatmika <adya...@...> wrote:
>
> Pak Bungaran,
>
> "Jika jumlah peserta pemilu 170 juta. Pertanyaan apakah dengan data yang anda 
> asumsikan bisa mewakili 170 juta pemilih."
>
> ADI: Saya jawab BISA, karena inilah prinsip dasar dari pengambilan sampel 
> dalam statistik.
> Analogi sederhana, apabila anda masak dan ingin tahu apakah rasanya enak, 
> apakah anda harus memakan habis semua makanannya? Tentu tidak. Anda cukup 
> mengambil sampel sesendok, yang penting cukup untuk mulut anda untuk bisa 
> merasakan rasanya.
>
> Balik lagi ke hitung cepat, yang terpenting, dalam mengambil sampel harus 
> ACAK. Petugas survey TIDAK BOLEH memilih sendiri TPS yang harus didatangi. 
> TPS ditentukan secara acak, bukan karena misalnya TPS tersebut dekat dengan 
> rumah petugas survey, atau bukan karena TPS tersebut petugasnya ramah2, atau 
> TPS tersebut daerahnya lebih elit, dsb. TPS harus dipilih secara benar2 acak.
>
> "Sistem quick count asalnya dari Amerika Serikat. Lembaga survei di Indonesia 
> mengadopsi sistem yang ada di Amerika. Tapi kita harus mengakui bahwa 
> peralatan yang dipergunakan di Indonesia tidak sama dengan peralatan yang 
> dipergunakan di Amerika."
>
> ADI: Balik lagi ke penjelasan saya sebelumnya, mau cara dicoblos, dicentang, 
> dilingkari, komputer layar sentuh, pakai keyboard, pakai mouse, dll. tidak 
> akan berpengaruh ke akurasi hitung cepat. Hal ini karena data yang diambil 
> dari hitung cepat adalah hasil suara SAH yang selesai dihitung di masing2 TPS.
>
> "Saya heran dengan Lembaga survei di Indonesia megatakan ke publik bahwa 
> tingkat elektabilitas SBY 60%."
>
> ADI: Menurut saya ini pernyataan yang ambigu, karena tidak jelas apa yang 
> dimaksud dengan tingkat elektabilitas, dan bagaimana cara mereka mendapat 
> angka 60%. Anda tentunya layak mempertanyakan kredibilitas pernyataan ini. 
> Saya sependapat dengan anda bahwa jajak pendapat sebelum pemilu sangat 
> dipengaruhi oleh bermacam2 faktor, termasuk adanya swing voters. Tapi tolong 
> agar anda membedakan 3 jenis survey yang saya uraikan di email saya 
> sebelumnya yaitu:
> - jajak pendapat sebelum pemilu (pre election poll)
> - hitung cepat
> - exit poll
> Masyarakat umum sering sekali mencampuradukkan ketiga metode ini.
>
> Terima kasih.
>
> Adi

Kirim email ke