Apakah Lembaga survei di Indonesia untuk mejalankan fungsinya mengkuti kaidah logika Paranormal ?
Baiklah kita ambil sampel di 2100 TPS(0,5% dari seluruh TPS di Indonesia). Bagaimana pengambilan sampel data, apakah lembaga survei menempatkan petugas di 2100 TPS di 33 propinsi diseluruh di Indonesia. Untuk memeriksa seluruh data di 2100 TPS tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi ada perbedaan waktu di Indonesia tentu Lembaga survei harus menempatkan petugas baik di Indonesia Timur dan Indonesia tengah untuk mendapatkan keakuratan data. Menggunakan sarana sms,phone, dan fax tentu tidak bisa diperkenankan karena menyangkut kredibilitas lembaga survei itu sendiri. KPU saja kerepotan sendiri untuk menghitung perhitungan suara mulai dari data mentah menjadi data jadi untuk dimunculkan di Tabulasi suara. Kalau memang sistem di lembaga survei lebih canggih kenapa pemerintah tidak mengadopsi sistem di Lembaga survei. Buang-buang waktu, pikiran dan uang. Apalagi pemerintah sudah mengeluarkan uang trilyunan untuk KPU. Bukankah untuk perhitungan suara,membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memeriksa apakah kertas suara valid. --- In [email protected], Adiyatmika <adya...@...> wrote: > > Pak Bungaran, > > Jumlah TPS di seluruh Indonesia pada pemilu legislatif 2009 adalah 528.217 > TPS (berdasarkan data KPU). > > Dari seluruh TPS tersebut, tidak perlu diambil 30% nya. Saya ambil contoh > Lembaga Survey Indonesia, di websitenya disebutkan bahwa mereka mengambil > sampel sebanyak 2100 TPS tersebar di seluruh Indonesia. > > http://www.lsi.or.id/riset/358/Quick-Count%20:%20Pemilu-Legislatif > > Tentunya jumlah sampel ini tidak sampai 0,5% dari keseluruhan jumlah TPS. > Apakah cukup? Ya, cukup, karena menurut kaidah pengambilan sampel, jumlah > sampel yang dibutuhkan TIDAK tergantung jumlah populasi. Jadi tidak benar > kalau dikatakan bahwa kita harus mengambil sampel sebanyak 30% dari jumlah > TPS. > > Balik lagi ke analogi makanan kemarin. Apabila anda mencicipi masakan, > banyaknya makanan yang anda ambil untuk dicicipi tentunya tidak tergantung > apakah anda masak satu panci besar, atau cuma masak satu piring. Tetap saja > anda hanya akan mengambil sampel satu sendok, yang penting CUKUP bagi mulut > anda untuk merasakan. Kalau kedikitan, misalnya hanya sejumput juga tidak > bisa, karena akan kurang bagi mulut anda untuk merasakan. Harus ada batas > minimal, tapi yang jelas bukan ditentukan dari jumlah yang anda masak. > > Tentang mengapa ada lembaga survey yang bisa melaporkan hasil saat jam makan > siang, saya tentunya tidak bisa berkomentar apa2 karena bukan saya yang > melakukan survey tersebut, dan saya tidak mengamati langsung berapa lamakah > waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penghitungan suara tingkat TPS. > Saya sependapat dengan anda bahwa hal ini layak untuk diverifikasi ke lembaga > survey yang bersangkutan. Kalau boleh tahu, apakah nama lembaga survey yang > melaporkan hasil pada saat jam makan siang tersebut?
