Kang Asep,

masih ingat tidak ketika Prabowo masuk milis FPK (sebelum Pileg) dengan
programnya? Kang Asep masuk menimpali pertanyaan, juga saya.. dan sampai
hari ini juga belum ada jawabannya ha..ha..ha.. Tapi, dari sisi demokrasi
dunia milis FPK hanya dia emang dari 6 Pasang itu yang berani nekat posting
:)

Waktu itu, saya nanya PS soal penjadwalan ulang utang.. argumen yang saya
bangun adalah Hutang saat ini dalam stok kita tidaklah dominan dari model
hutang G to G atau multilateral, saya kemukakan juga datanya waktu itu. Saya
tanya ke PS waktu itu "cara moratorium dan rescheduling hanya akan bisa
dilakukan jika melibatkan dua pihak, bagaimana caranya untuk SUN? karena
membutuhkan investor gathering dan pemegang yang lebih beragam"

Jadi, titik sentralnya dalam model hutang komersial plus-nya sekaligus
minusnya juga kalau dari sisi "negosiasi"..

1. Rezim menekan, kalau model G to G atau Lembaga Multilateral seperti yang
Kang Asep katakan punya resiko "ikut campur" dalam kebijakan, maka Market
Maker di pasar keuangan komersial (bursa global) juga akan menjadi penekan.
Tekanan dilakukan melalui rezim "rating", dimana akan sulit masuk pasar
perdana SUN baru jika mengalami penurunan rating. Itulah mengapa, pemerintah
sangat menjadikan rating jadi acuan, dimana penurunan akan terjadi jika
terjadi gagal bayar dari bunga maupun pokoknya. Sisi lain, rating juga
mengacu ke likuiditas SUN tersebut di pasar.

Dampaknya: saya pernah berpendapat di media, juga di Kompas, bahwa buy back
SUN yang belum jatuh tempo di bulan April 2007 tidak perlu pemerintah
lakukan, terlebih pemerintah membentuk frame tengah kesulitan fiskal terkait
harga minyak yang naik.. dari sisi publik, akan lebih adil (rasanya) jika
hutang yang belum jatuh tempo lebih tidak urgent jika dibandingkan dengan
melindungi daya beli masyarakat yang disaat bersamaan mengalami kontraksi
harga minyak...

Pro-kontra nya kan duit terbatas, dipakai ke yang legal formal saja. Tapi,
di titik itu "rating" telah menjadi "hantu".. Karena, Juni 2007 pemerintah
kan memang ada rencana menerbitkan SUN baru (Rupiah maupun Global), jadi di
titik ini yang lebih ditopang daya beli SUN dibandingkan daya beli
masyarakat...

Perdebatan pasti akan muncul, kalau saya mengambil sikap tidak akan buy back
karena toh saya lebih baik disiplin bayar bunga saja yang sesuai aturan
rating tidak ada alasan RI gagal bayar. Uang bayar pokoknya saya pakai tahan
harga BBM (maaf, ini kenapa saya sangat tidak suka dengan klaim SBY yang
bilang turun harga minyak prestasi, kalau saat kontraksi dia mati2xan cari
cara untuk tidak naik saya akan acungkan jempol untuk iklannya, tapi kalau
sekarang saya bilang dalam bahasa rezim pasar finansial "Iklan penurunan
harga BBM sebagai prestasi adalah missleading, karena turun disaat harga
minyak dunianya pun turun"

Tapi, saat itu di bulan Maret-April 2007 banyak Investment Bankers yang
menjadi Market Maker pasar obigasi menghantam kita lewat koreksi harga di
pasar sekunder (bursa) membuat masalah di likuiditas, lalu membuat framing
"bahaya rating" dalam artian sulit diserap SUN baruj dengan penurunan
rating... Tatkala, pemerintah terpengaruh dan Buy Back untuk mempertahankan
harga dan likuiditas dalam isme "rating", maka kita harus jujur dengan cara
berbeda, baik model G to G maupun komersial mempengaruhi kebijakan
pemerintah.

Di bulan Juni 2007, saat pemerintah mengatakan sukses atas penyerapan SUN
baru.. di Kompas saya berpendapat, biaya mahal, karena kalau dihitung buy
back lalu serapan baru.. tambahan "fresh money" relatif tidak ada.. karena
SUN lama (yang sudah di buy back) ditukar SUN baru dengan bunga lebih
tinggi.. selisih SUN baru dikurangi SUN lama terbuyback relatif sedikit
(artinya berkorban demi rating hanya dapat tambahan fresh money baru
sedikit, bunga tinggi).

2. Bagi saya, yang perlu adalah kampanye budaya investasi lokal. Dan saya
tetap, dengan model yang sama SUN dan ORI. Tapi caranya beda, saya tak mau
didikte para Market Maker yang sok ngatur rating, padahal mereka lagi
bangkrut. Di titik daulat ini, saya kecewa kepada pemimpin yang terlalu
dengar asing dibuai2x ke publik, tanpa berani mengatakan "yang ngomong
Bangkrut, hanya peduli akan kebangkrutannya"... Di titik ini, suka atau
tidak atas pro-kontra figurnya, saya melihat selama jalannya kampanye ini
hanya Prabowo yang berani berkata (meski sebatas berkata, tapi dia kan sudah
berkata ha...ha..ha)

Biarlah yang lama kita urus tampa "buy back" dsb-nya... untuk serapan baru
kita pakai "kampanye budaya investasi lokal"... dititik ini ketika di Kadin
(lewat layar TiPi saya melihat) hanya JK yang bicara soal terobosan
intermediasi kredit perbankan melalui kepemilikan saham pemerintah di Bank
BUMN.. terlepas dari pro kontra Figurnya dan KepWapres.. tapi, JK sudah
menyatakan itu dalam kampanyenya ha...ha..ha

SUN dari sisi serapan, bagi saya harus jelas ke arah penyerapan lapangan
kerja dan menopang link produksi-konsumsi.. sampai hari ini saya belum
pernah dengar waktu penerbitan SUN ada public expose soal penyerapannya:
Jadi isu gali lubang tutup lubang memang dimulai pemerintah sendiri

Ukuran serapan SUN seperti posting saya sebelumnya adalah kenaikan Tax Ratio
mengimbangi SUN Ratio.. sebelumnya saya tunjukan JAUH: jadi isu gali lubang
tutup lubang terlihat indikatifnya..

 Nah, kalau serapan jelas mau kemana, rubahlah pikiran "meminta" ke Market
Maker Global dengan berkomunikasi dengan masyarakatnya, jalankanlah beragam
kebijakan harmonisasi moneter-fiskal dengan underlying kebijakan perbankan
dan isentif perpajakan...Jadi, pembeli SUN terfokus adalah dana lokal
berlebih... itulah intermediasi... Apakah saya anti asing? Tidak.. saya
hanya ingin pemimpin berdaulat, kendali permainan (market maker) harus
ditangan KITA.. kalau inisiatif sesuai kebutuhan kita dengan pembeli potensi
kita, maka "ada gula ada semut" asing akan masuk dalam posisi "follower"
dengan irama di tangan kita...

Itu yang saya lihat di China dan India (meski hanya lewat bandara Internet,
wong saya cuman anak muda Indonesia biasa aja bukan orang yang pergi studi
banding ke sana ke mari ha..ha..ha)... ChIndia mampu menjalankan Budaya
Investasi Lokal ke arah Link "Finansial-Rill" sehingga asing masukpun dalam
irama ini.. kalau kita dengan gendang mereka, hanya "kepentingan portopolio
mereka tanpa peduli masalah riil kita"... Itu juga yang saya lihat di Korsel
(kalau ini saya studi banding tahun 2000 ketika masih kerja di Bursa Efek
Jakarta)

Soal ide di atas, saya nulis sudah sejak lama dari tahun 2002 (lihat
database nya di www.elrizky.net/artikel.php ) ... bahkan ketika pidato
presiden 2006, saya diberi ruang di analisis ekonomi Kompas "Bahasa
Finansial memerlukan kata Riil" dan ini tulisannya
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0608/28/utama/2908647.htm

hanya satu sen untuk negeriku tercinta :)

Salam anak muda Indonesia biasa saja,

-Yanuar Rizky-

mail to: [email protected]

on the net: http://www.elrizky.net

elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal::




2009/6/24 Asep Kurniawan <[email protected]>

>
>
> Bung Yanuar, ini logika awam saya.
>
> Ada banyak kritik utang G to G terlalu mengikat Indonesia dengan sejumlah
> persyaratan. Yang paling ironis, karena persyaratan itu ternyata mebuat
> sebagian utang yang kita dapat lewat G to G itu melayang kembali ke negara
> asal. Saya tidak tahu hitung2an detailnya, tetapi barangkali kita memang
> rugi walau bunga yang dikenakan kecil. Selain itu, Indonesia katanya sudah
> dinayatakan bukan tergolong negara miskin lagi, sehingga mulai kesulitan
> mengakses utang dengan bunga rendah dari negara atau lembaga donor.
>
> Nah, atas dua alasan itu, dalam kondisi anggaran negara yang masih defisit,
> tampaknya beralih ke pasar komersial dengan menerbitkan SUN, ORI, dan jenis
> lain obligasi pemerintah menjadi pilihan rasional. Dengan dana yang
> diperoleh dari penjualan SUN, negara mempunyai kebebasan untuk
> menggunakannya tanpa harus dibatasi oleh persyaratan dan resiko dana
> melayang kembali ke negara asal. Soal pembeli yang mayoritas ternyata warga
> asing, saya belum melihat itu sebagai masalah. Kenyataan ini lebih
> menunjukkan kurangnya minat atau kurangnya daya beli WNI. Lepas dari itu,
> utang komersial saya kira hukumnya sama, baik pembelinya asing atau WNI.
> Persoalannya tinggal pengelolaan dan pengawasan yang baik di dalam negeri
> sendiri: Pemerintah, DPR, BPK, dsb.
>
> Di tengah hiruk pikuk isu utang, tampaknya pilihan untuk beralih ke pasar
> komersial adalah pilihan rasional. Siapapun yang menang dalam pilpres nanti,
> sepertinya akan menempuh kebijakan yang sama untuk menutup defisit anggaran,
> setidaknya dalam jangka pendek.
>
> Salam,

Kirim email ke