+ Pertanyaannya adalah MENGAPA dan BAGAIMANA. Mengapa terjad kemerosotan? Cari tahu penyebabnya dan setelah cari cara untuk memperbaikinya. Sebagai seorang veteran di bidang penerbangan mestinya Pak Wal masih bisa menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya kepada bangsa dan negara. Kalau sudah tidak mau lagi turun ke lapangan paling tidak tulislah buku dan berikan kepada yang memerlukan. Tawarkan pelatihan cuma-cuma ke berbagai maskapai (kan Pak Wal sudah punya dana pension yang besar!) :-) Mau? Salam Satria
--- In [email protected], Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote: Salam , Kira2Â 30 puluh tahun yang lalu atau GENERASI PENERBANG TUA Indonesia sangat terkenal keterampilan, kecakapan dan keamamannya. Di sekolah2 penerbang di dunia, para calon pilot Indonesia selalu mendapat rangking pertama atau minimal ke 2.Di KLM dibutuhkan 100 jam terbang sebelum dapat dipercaya menjadi captain pesawat KLM tetapi pilot Indonesia hanya membutuh 15 sampai 25 jam saja.Di Fokker pilot Indonesia jauh lebih tinggi kepandaian dan keterampilannya dibanding dengan para pilot dari Filipina,Burma dan Amerika Selatan.Para pilot Australia belajar "praktek" di Indonesia. Tetapi terbukti sekarang GENERASI BARU SANGAT MEROSOT kwalitasnya.Sangat menyedihkan!!! Wasalam, Wal Suparmo
