Bersatu Menghadapi Teror
Ledakan bom di hari Jumat pagi bukan hanya menggoyak Hotel Ritz Carlton
dan JW Marriot, tetapi lebih dalam menggoyak kedamaian dan rasa kemanusiaan
kita. Sepantasnya kita marah atas aksi teror tersebut karena perbuatan tidak
bertanggung jawab itu membuat orang-orang yang mencari ketenangan dan kedamaian
harus menjadi korban.
Begitu banyak orang yang harus tewas secara sia-sia. Lebih banyak lagi
orang yang harus merintih kesakitan.
Di tengah keberhasilan kita membangun demokrasi secara damai, aksi
teror itu benar-benar mencederai dan merusak kerja keras yang sudah kita
lakukan. Suasana tenang dan damai yang berhasil kita bangun selama beberapa
tahun terakhir ini, tiba-tiba rusak oleh aksi teror tersebut.
Tepatlah apabila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa
kita tidak akan memberi ampun kepada pelaku aksi teror tersebut. Aparat
keamanan akan memburu mereka dan menjatuhkan hukuman yang berat kepada para
pelaku aksi teror itu.
Tidak boleh ada kompromi terhadap pelaku aksi teror. Kita bukan hanya
harus bersikap tegas, tetapi juga keras karena mereka melakukan sebuah
kejahatan kemanusiaan, yang membuat orang-orang tidak bersalah harus menjadi
korban.
Aksi teror seperti ini bukanlah yang pertama kali kita alami. Di hotel
yang sama, JW Marriot pernah terjadi aksi yang sama pada tahun 2003 bahkan
dengan korban yang lebih besar.
Setiap kali aksi teror itu terjadi, maka kita segera bangkit untuk
menghadapinya. Dengan segala daya kita berupaya untuk mencari jaringannya dan
berhasil mengungkapkannya. Bahkan tidak hanya itu, terhadap pelaku Bom Bali
2002 kita menangkap pelaku dan menghukum mati mereka.
Namun seperti juga pengalaman banyak negara lain, tidaklah mudah untuk
membongkar sampai ke akar-akarnya. Aksi teror seperti itu setiap saat selalu
mengancam kembali, karena tidak terhindarkan munculnya kelompok-kelompok yang
berpikiran sempit dan atas nama ketidakadilan bertindak di luar batas kepatutan.
Dalam situasi seperti itu yang dibutuhkan adalah kebersamaan. Kita
harus menyatukan seluruh kekuatan dan menggalang persatuan untuk sama-sama
menghadapi tantangan tersebut.
Itulah yang dilakukan Presiden George W. Bush ketika berkuasa dan
menghadapi serangan teror 11 September 2001. Ia ajak seluruh rakyat Amerika dan
bahkan dunia untuk bersama-sama menghadapi ancaman teror. Bahkan tidak
tanggung-tanggung ia gunakan bahasa "Perang Melawan Teror".
Karena itu di tengah keharusan kita menggalang kesatuan, kita
menyayangkan dilemparkannya sinyalemen yang bisa memperlemah kebersamaan kita.
Penjelasan Presiden untuk mengungkapkan adanya laporan intelijen yang
mengatakan adanya keterkaitan aksi teror ini dengan proses pemilihan presiden
bisa membuyarkan fokus kita menghadapi aksi teror.
Memang data yang disampaikan Presiden sangat jelas. Ada foto yang
menunjukkan pelaku teror berlatih menembak dengan gambar Presiden SBY sebagai
sasaran dan bahkan juga dalam bentuk video.
Laporan intelijen itu juga menyebutkan adanya upaya untuk menyabot
proses demokrasi yang sedang kita bangun bersama. Ada kelompok-kelompok yang
akan menduduki Kantor Komisi Pemilihan Umum, menggagalkan pelantikan presiden,
menjadi pemilu kita seperti Pemilu Iran, dan bahkan akan melakukan revolusi.
Tentunya kita menghormati keakuratan data intelijen tersebut. Namun
laporan itu tidak pas untuk dibuka seperti itu. Seharusnya aparat keamanan
menindaklanjuti dan menangkap pelaku-pelaku yang sudah diketahui tempat
latihannya, bahkan direkam kegiatannya tersebut.
Marilah kita fokus untuk melawan aksi teror yang menggoyahkan rasa
keamanan dan kedamaian kita. Janganlah tenaga dan konsentrasi kita dialihkan
oleh hal-hal yang bisa menjauhkan kita mengungkap pelaku aksi teror ini.
Dengan kebersamaan selama ini saja tidak mudah bagi kita untuk berperang
melawan aksi teror, bagaimana lagi ketika kita tercerai-berai.
Janganlah persaingan politik membuat kita terpecah-pecah. Kalah dan
menang adalah hal yang biasa dalam sebuah kompetisi. Mari kita hormati yang
menang, tetapi juga jangan melecehkan yang kalah.
Menang tanpa ngarosake, demikian pepatah Jawa mengatakan. Kita menang
tanpa harus mempermalukan yang kalah. Karena dalam demokrasi tujuan bersama
kita adalah menyejahterakan kehidupan rakyat. Dan itu tidak mungkin bisa
dilakukan satu kelompok masyarakat, tetapi harus oleh kita bersama.
Pada akhirnya kita adalah satu saudara. Kita jangan bermusuhan, karena
musuh kita bersama adalah pelaku aksi teror, yang sejak kita melakukan
reformasi selalu berusaha menggoyahkan kebersamaan kita sebagai satu bangsa
yang bersaudara.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :
1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://koran.kompas.com/ ,
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke
anggota
4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
5.Untuk bergabung: [email protected]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/