perasaan nggak ada yang galak. cuma bertanya, dan ada yang cuma menjawab, atau sekedar memberi komentar. jalan tol tidak seharusnya menjadi sebuah barang mewah. jalan tol adalah untuk mempermudah jalan, bagi masyarakat. seluruh lapisan masyarakat.
--- On Mon, 9/21/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: > From: Harya Setyaka <[email protected]> > Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: JALAN TOL > To: [email protected] > Date: Monday, September 21, 2009, 9:31 PM > Kalau saja tidak terlampau tergantung > pada kendaraan pribadi, tentunya kenaikan tariff tol tidak > terlalu dipermasalahkan. > > Jalan tol itu kan perlu pemeliharaan, antara lain diaspal > ulang dlsb.. Harga material dan jasa konstruksi naik, ya > tentunya tarif juga ikut naik.. > > Lagipula, kenaikan itu diatur dalam PP 15/2005 tentang > Jalan Tol. > Disebutkan tariff disesuaikan setiap 2 tahun sekali dengan > acuan inflasi. > Jadi kalau inflasi nya negatif, alias deflasi, maka secara > otomatis tariff tol juga turun. > > Koq ngdumel biaya hidup makin tinggi.. Tapi kalau gaji naik > malah makin rajin belanja yg tersier (beli handphone > baru, fashion item, pupur gincu, parfum, liburan ke LN , > dlsb)... > > Kalau mau fair, jalan tol itu barang mewah.. Yg ga mampu > beli mobil tidak bisa menikmati.. > Sekalian saja protes ke Luis Vitton, kenapa harga tas nya > naik terus.. > > Kalau ragu akan transparansi PT Jasa Marga, BPJT, atau > bahkan DirJen Bina Marga dan MenPU, lain cerita.. Tidak > harus nunggu tariff naik baru mendadak galak.. > > > Salam, > -K-
