Dalam film 40 years of silence yang baru sy tonton, tidak demikian.
Masyarakat -->tidak secara alamiah<-- membantai rekan atau tetangganya sendiri.
Ada pengorganisasian sistematik, melalui mobilisasi yang dikelola army.
Pembantaian di suatu lokasi, hanya berlangsung ketika gerakan army tiba di 
lokasi tersebut.
Pembantaian di Bali, yang menjadi argumen dasar film ini, mulai berlangsung 2 
bulan setelah peristiwa, tepatnya ketika army hadir di sana.
Masyarakat dibuat ketakutan dengan cara penguasaan media massa, yang boleh 
siaran hanya corong-corong Army saja.
Army membentuk focal-focal point (seseorang yang ditunjuk/kepala desa/kepala 
RT, dsb) di tiap-tiap desa.
Masyarakat yang ketakutan datang pada focal-focal point tersebut, dan minta 
tolong agar jangan dimasukan dalam daftar bunuh. \
Focal-focal point itu memberi petunjuk pada mereka, kalau kamu tidak mau 
dibunuh, bunuhlah si ini dan si itu, maka kamu akan selamat.
Jadi bagi masyarakat situasinya adalah: Membunuh -- atau -- dibunuh.
Pembunuhan dilakukan oleh masyarakat untuk keselamatan dirinya dan keluarganya 
sendiri.
Setiap raid pun ditemani Army, seperti yang disaksikan oleh saksi dalam 
dokumenter ini:
Sejumlah anggota masyarakat mengiringi tank/kendaraan Army menyatroni perumahan 
sambil menjadi guide.

Juga secara nasional, ada isu yang disebar: 
Selama itu obyektif PKI adalah mengubah kepemilikan tanah dari tuan-tuan tanah 
menjadi milik masyarakat.
Hanya saja, kebanyakan tuan-tuan tanah itu adalah pemimpin-pemimpin / tokoh 
agama dan/atau masyarakat.
Sehingga gampang saja untuk menyiarkan propaganda bahwa yang diserang PKI 
adalah agama-nya. 

Thx.
  

 


   




________________________________
From: Alpha Bagus Sunggono <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, October 3, 2009 15:30:06
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 30 September 1965 - 2009

  
Situasinya beda ama Westerling.
Pada saat itu cukup di edarkan
list dari intelijen,
bahwa si ini PKI , si itu PKI,
itu saja sudah cukup.

Para PKI akan terbantai dengan sendirinya
secara alami oleh masyarakat,
tanpa perlu campur tangan si mertua tersebut.

Kirim email ke