memang kepiawaian think thanknya SBY agak lumayan,dengan memainkan jurus "kentut"(tembak kebawah kena diatas),dengan membentuk TPF,dalam rangka meredam gejolak massa (melokalisir masallah dan meraih simpati),dalam hal ini tentu dalam upaya membersihkan nama SBYdengan meminjam tangan TPF yang konon ceritranya "independen". tentu bagi masyarakat luas (Mahasiswa,LSM,Pers,Tokoh masyarakat dan Rakyat yang merindukan penegakan Keadilan) harus lebih waspada,jangan mudah terbuai pesona sesaat,sehingga kehilangan peluang untuk melakukan Reformasi ditubuh lembaga hukum (kepolisian,kejaksaan dan pengadilan) yang merupakan institusi konvensional pemberantasan korupsi ( jika sukses direformasi ). Kasus pelemahan kewenangan KPK merupakan tonggak awal dan diharapkan berkelanjutan dan membesar untuk memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan di Indonesia Raya dengan memberangus para koruptor yang telah membangkrutkan Bumi Pertiwi ini."KEMBALIKAN INDONESIAKU PADAKU" Tentu sangat disayangkan energi yang telah dikeluarkan dan peluang yang tersedia serta pada kondisi yang tepat jika kasus ini berhenti setelah "kambing hitam" dipersembahkan sebagai Qurban untuk meredam laju Reformasi Lembaga Hukum. Saya sangat yakin Gerakan yang muncul saat ini merupakan ungkapan hati Rakyat yang Rindu Negri bebas korupsi,Rindu Pemerintah yang mengayomi (bukan menjolimmi,sewenang wenang,arogan,otoriter) hal ini tentu lebih mudah dicapai jika seluruh Lembaga Hukum yang ada dibersihkan / direformasi dulu. Bagaimana mungkin sapu yang kotor dapat membersihkan ruang yang kotor,bukankah bagian yang bersihpun akan ikut terkotori ???. Salam Merdeka !!!
Pada 2 November 2009 20:23, Mohammad Sopan <[email protected]> menulis: > > > > > Bisa jadi, analisa anda ada benarnya. Tapi apa para think thank SBY sebodoh > itu? Para analis pinggir jalan aja bisa memprediksi bahwa akan ada gejolak > seperti ini. Apalagi rekam jejak para thinkers SBY lumayan bagus, mampu > memprediksi kapan gejolak kenaikan BBM dapat dilokalisir sekaligus meraih > simpati dan kemenangan di pilpres kemarin. > Yang gegabah, adalah jika SBY bersikap emosional dan lgsung menyuruh > dibebaskannya bibit dan chandra tanpa proses pengadilan. Pertama, ini bentuk > intervensi presiden di wilayah yudikatif. Kedua,.....bagaimana jika > dikemudian hari terkuak fakta jika memang ada permainan antara penyidik KPK > dengan pihak PT Masaro Radiokom? Dimana muka presiden ditaruh, krn ia > terbukti pernah membela pihak yang salah? > Ada baiknya proses pengadilan jalan. Berikan penangguhan kepada bibit dan > chandra, tapi proses tetap jalan. Ini berguna untuk merehabilitasi nama KPK > (kl dia terbukti bersih), sekaligus menghukum pihak anggota dpr komisi IV, > pejabat dephut, oknum polisi dan jaksa (jika terbukti bersalah). > > -Mohammad Sopan- > > Powered by Telkomsel BlackBerry�
