Dik..saya punya contoh, ketika ada teman memberontak menanyakan hak-haknya
kepada Jalur yang resmi dengan tingkatan berurut.. dari Es IV s.d Es II dengan
masalah yang hampir mirip dengan kasus ini... apa akibatnya..jawabanya dari
sang boss... "Mau saudara apa.... masih betah disini atau mau keluar
mengundurkan diri.....??" gleeek!!!!
Saya juga korban dari sebuah sistem.. sekarang banyak diklat dan bea siswa...
selama mengabdi hampir 20 tahun saya baru sekali ikut diklat, karena apa saya
selalu di jegal ngak boleh ikut diklat, ngak boleh daftar D IV dengan berbagai
alasan yang tidak jelas dari atasan... Saya tidak kecewa.. tapi sedih... saya
terima, walau dengan emosi saya memuncak waktu itu.. but pilihan saya adalah
harus tunduk pada aturan2 di Organisasi kita... dan saya hanya menyarankan
boo dipikir masak2 mau demo ya demo masak aja biar hasil masaknya dikasih
kepada pembuat keputusan dan dengerin nasehat orang tua.... (Tapi kalau mau
maksa demo ya saya dukung deh... saya nyerah.. dan kalau dik dipecat silahkan
hubungi saya karena saya akan tampung dik di perusahaan saya yang masih kurang
karyawannya dari rencana mau 75 baru ada 68 pegawai dan saya sudah menemukan
jalan lain ke Jakarta)
Wasalam
Nurdin Takwa yang pasti bukan Nurdin Halid
nurlaela2004 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Teman-teman yang berniat "berjuang" abaikan saja Sdr takwa ini dan
yang sejenisnya. Nasehatnya klise seklise-klisenya. Ato barangkali
kasus ini tidak menimpa dirinya makanya berpendapat seperti itu.
Padahal kalo dipikir apa coba dasarnya pegawai dipecat hanya karena
demo atau menolak suatu kebijakan. Tidak ada itu. Jadi jangan surut
langkah. ADa aturannya bung seorang pegawai negeri harus menerima
pemecatan, tidak asal cat...cat...saja.
Sebenarnya kalo bapak-bapak dan ibu-ibu di kanpus mau bertidak
bijaksana, kebijakan seperti itu bisa diterima jika sudah ada
sosialisasi dari awal. Lha ini, awalnya diijinkan atau dibuka program
DIII khusus/DIV tapi setelah semua tahap di laksanakan e....pada
saat-saat akhir dibatalkan. Kebijakan macam apa yang seperti ini. Jadi
menurut saya untuk tahun ini yang sudah dinyatakan lulus biarlah
mereka sekolah. Tapi untuk waktu-waktu yang akan datang boleh om ato
tante tutup itu program DIII dan DIV.
Perihal ada semacam trauma buruk lulusan DIV yang kabur, kan semua ada
mekanismenya. Sudah dicari belum tuh orang. Ko ya jadi aneh dosa satu
orang yang sebenarnya bisa "dihukum" orang banyak harus ikut
menanggung akibatnya. Istigghfar pa/bu palagi di bulan suci ini.
Apapun yang bapak/ibu lakukan terkait dengan kepemimpinan bapak/ibu
pasti dimintakan pertanggungjawaban di depan pengadilan 4JJI.
Sekian
Salam hormat untuk Bapak dan Ibu Terkait.
--- In [email protected], Takwa Nurdin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Aduh jangan diPTUN kan dan DEmo ngak menyelesaikan masalah dik..
Pejabat kita ngak tahan di PTUN atau di DEMO, wong milis aja baru
bikin merah kuping langsung di eee (bredel) apa lagi yang begituan,
melawan sangksi PEEECAAAT. titik. kalau mau ya monggo.. jadi sing
sabar lah banyak jalan menuju Jakarta...
---------------------------------
Check out the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]