Bolehkah kita berandai-andai seperti layaknya anak terhadap bapak, kepada beliau-beliau yang memimpin kita?
Seandainya boleh, sudah benarkah cara mereka mendidik dan membesarkan kita? Atau, memang terlalu sulit bagi kita untuk bisa menjadi anak yang baik? Jangan-jangan kita memang hanya anak-anak panah tak berujung yang melesat, terbentur, tapi tak pernah menancap pada sasaran... ANAK Khalil Gibran (1833-1931) Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri Mereka dilahirkan melalui engkau, tapi bukan darimu Mereka ada bersamamu, tapi bukan milikmu Berikanlah cintamu, tapi jangan pikiranmu Karena mereka memiliki pikiran-pikiran mereka sendiri Buatkan rumah bagi tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa-jiwa mereka Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah masa depan, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi Engkau bisa meniru mereka, tapi jangan jadikan mereka menyerupaimu Karena hidup tak akan berjalan surut, tidak juga berdiam di masa lalu Engkau adalah busur-busur, dan anak-anakmu adalah anak-anak panah yang meluncur Sang Pemanah telah membidik arah keabadian, Dia merentangkanmu dengan kekuatanNya, sehingga anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh Syukurilah tarikan tangan Sang Pemanah, karena Dia mencintai anak-anak panah yang terbang, seperti cintanya pada busur-busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan [Non-text portions of this message have been removed]
