Sehubungan dengan posting si bantengbiru yang agak sembrono secara gegabah mirip pedagang petasan di pasar Blok-A yang dengan mudah megeneralisasi guna memenangkan keuntungan emosional semata. Saya khawatir akan menibulkan preseden buruk akibat dikhotomi yang diciptakannya dan membuat sekat-sekat yang sudah tercipta baik sengaja maupun tidak disebabkan kesalahan kebijakan rejim yang berkuasa. Saya cuma mengajak kembali dengan tetap mengedepankan kesadaran kebangsaan yang tinggi dan baca kembali postingan saya terdahulu. yaitu : - Beasiswa dan KKN di negeri ini - Sekolah tinggi kedinasan dan carut marut negeri terkorup - Bangga berbangsa dan berbahasa Indonesia
sikap bantengbiru saya yakin karena keinginan untuk dapat saling memberi dan menerima sebagai satu keluarga. Seperti Teuku Nazar membutuhkan Mas Paijo, mungkin yang dibutuhkan cukup ngobrol-ngobrol sambil buka puasa tidak perlu jauh di Helsinki sana cukup di emperan Mall Plaza Blok-M. Saya teringat kata Bang Ridwan Saidi "biar terpinggirkan orang tue-tue kite ngeliat mubil duluan". dan ketika terjadi kerusuhan di Jakarta Mei 1998 ada "tulisan indah" di sepanjang toko-toko jalan RS Fatmawati terus Ke Panglima Polim sebagai pertahanan terakhir mengahadang laju perusuh yang sudah tidak terkendali membakar apa saja sebagai simbol kerinduan terhadap lebih mengedepankan rasionalitas, toleransi yang tinggi, anti kekerasan, mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, anti keserakahan, kesabaran dan kebersamaan. Anda tahu apa tulisan di toko-toko itu "Allahu Akbar asli Betawi"
