Saya setuju dengan pendapat Bu Anandi.
Saya melihat perubahan yang sudah terjadi belakangan ini lebih mengedepankan
SDM sebagai mesin ketimbang 'human asset'. Ini terlihat dari tuntutan
penyelesaian pekerjaan di KPPN Prima dan konsep keterkaitan remunerasi dan
performance. Asumsi dari para 'change agents' yang saya tangkap adalah dengan
insentif/remunerasi yang dinaikkan maka pegawai akan sangat termotivasi untuk
bekerja. Sama seperti asumsi mesin yang harus ditambah bahan bakarnya bila
ingin lebih produktif menghasilkan 'outcome'. Kepuasan kerja dianggap
berbandingan lurus dengan pendapatan yang diterima. Saya yakin SDM di
organisasi kita tidak se-'matre' itu. Sebenarnya, dalam kaitan ini, saya
termasuk salah satu pegawai yang 'sangat 3x setuju' dengan konsep remunerasi vs
perfromance. Saya hanya merasa ada sesuatu yang bisa kita perbuat lebih baik.
Perubahan yang terjadi menurut saya belum lagi menyentuh unsur 'kemanusian'
SDM. Kebutuhan 'learning', 'coaching' dan 'concelling' belum lagi menjadi issue
yang mendasar, minimal terformalisasikan. Kebutuhan psikologis belum lagi
tercakup dalam arus perubahan yang berlangsung. Salah satu contoh yang bisa
dikedepankan adalah proses perubahan yang sduah berlangsung begitu lama yang
sudah barang tentu membuat para pegawai kelelahan mengikutinya, khususnya
secara psikis belum diimbangi konsep mengatasi kelelahn itu. Selama ini yang
saya tangkap jargon-jargon yang muncul adalah 'yang tidak siap berubah akan
ditinggalkan'.
Kesetujuan saya hanya terbatas pada terbentuknya subunit Litbang pada ditjen
PBN, bukan terbentuknya Direktorat baru.
Sekedar ekspresi uneg-uneg. Wallohu a'lam
Wahyu Musukhal
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]