>>"perubahan yang sudah terjadi belakangan ini lebih mengedepankan SDM sebagai mesin ketimbang 'human asset'" ...SETUJU
>> Remunerasi ---> performance ?? Begitukah?? bagaimana dengan job satisfaction?? >> "Perubahan yang terjadi menurut saya belum lagi menyentuh unsur 'kemanusian' SDM. Kebutuhan 'learning', 'coaching' dan 'concelling' belum lagi menjadi issue yang mendasar..." ... SETUJU, pdhal menurut saya hal ini adalah hal yang sangat mendasar untuk membentuk mindset akan perubahan itu sendiri. Ataukah hanya sekedar diperintahkan untuk menyesuaikan dan menuruti prosedur kerja saja???ikuti dan ikuti ... MERUBAH NAMA, CITRA atau BUDAYA??? mana yang lebih penting... =================================================================== --- In [email protected], wahyu musukhal <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya setuju dengan pendapat Bu Anandi. > > Saya melihat perubahan yang sudah terjadi belakangan ini lebih mengedepankan SDM sebagai mesin ketimbang 'human asset'. Ini terlihat dari tuntutan penyelesaian pekerjaan di KPPN Prima dan konsep keterkaitan remunerasi dan performance. Asumsi dari para 'change agents' yang saya tangkap adalah dengan insentif/remunerasi yang dinaikkan maka pegawai akan sangat termotivasi untuk bekerja. Sama seperti asumsi mesin yang harus ditambah bahan bakarnya bila ingin lebih produktif menghasilkan 'outcome'. Kepuasan kerja dianggap berbandingan lurus dengan pendapatan yang diterima. Saya yakin SDM di organisasi kita tidak se-'matre' itu. Sebenarnya, dalam kaitan ini, saya termasuk salah satu pegawai yang 'sangat 3x setuju' dengan konsep remunerasi vs perfromance. Saya hanya merasa ada sesuatu yang bisa kita perbuat lebih baik. > > Perubahan yang terjadi menurut saya belum lagi menyentuh unsur 'kemanusian' SDM. Kebutuhan 'learning', 'coaching' dan 'concelling' belum lagi menjadi issue yang mendasar, minimal terformalisasikan. Kebutuhan psikologis belum lagi tercakup dalam arus perubahan yang berlangsung. Salah satu contoh yang bisa dikedepankan adalah proses perubahan yang sduah berlangsung begitu lama yang sudah barang tentu membuat para pegawai kelelahan mengikutinya, khususnya secara psikis belum diimbangi konsep mengatasi kelelahn itu. Selama ini yang saya tangkap jargon-jargon yang muncul adalah 'yang tidak siap berubah akan ditinggalkan'. > > Kesetujuan saya hanya terbatas pada terbentuknya subunit Litbang pada ditjen PBN, bukan terbentuknya Direktorat baru. > > Sekedar ekspresi uneg-uneg. Wallohu a'lam > > > Wahyu Musukhal
