Untuk Mas Zam-Zam,

Ikutan memanaskan suasana nih, sekaligus ingin belajar kondisi riil hu-
tan gambut di Kalimantan itu seperti apa. Sepanjang yg saya tahu dari
koran lokal (Kedaulatan Rakyat atau Bernas), permasalahan pemba-
karan/terbakarnya lahan hutan gambut di Kalimantan (Tengah) seperti-
nya cukup mendapat perhatian dunia.  Bahkan  berita  ini  belakangan 
menjadi berita utama di beberapa koran terkemuka negara maju. Ada
dua hal yg menjadi konsentrasi utama: (1) mengenai  kerusakan  hutan
tropis yg memiliki peran terhadap keseimbangan alam dari green house
effect, (2) rusaknya susunan ekosistem yg terdapat pada hutan gambut,
yg memberikan implikasi bagi punahnya satwa yang dilindungi. Seperti:
harimau atau orang hutan, yg konon tidak hanya menjadi asset Indone-
sia, tetapi telah menjadi asset internasional.

Hutan rawa gambut (bahasa Banjar, atau peat swamp-forest) konon lu-
asnya memang terbatas di muka bumi ini.  Dan  Borneo selama  ini me-
mang lazim dijadikan  sebagai  laboratorium  alam untuk riset di bidang
kehutanan atau lingkungan.  Diharapkan  hutan ini menjadikan penyeim-
bang alam,  karena kemampuannya meredam lepasnya CO2 di awang-
awang. 

Diantara negara maju yg concern terhadap rehabilitasi kurusakan hutan
gambut ini adalah Australia. Namun demikian,  yg patut menjadi perta-
nyaan kita adalah: pada saat yg bersamaan  Australia belum menerima
ketentuan Kyoto Protocol dalam proses industrialisasi. Tentu ini menja-
di semacam ambiguitas, ada sementara kalangan yg memandangnya se-
bagai sikap "cari muka".  Mencoba mengeliminasi kegagalannya dalam
mengadopsi  konsep  sustainability development,  dengan  seolah- olah 
berpihak pada aksi pro-lingkungan di negara- negara berkembang.

Pembersihan/pembakaran hutan yg terjadi konon melibatkan perusaha-
an yg memang bergerak di bidang ini. Tentu ini menjadi tanggung jawab
hukum  untuk  menindaklanjuti.  Namun demikian,  bagaimana  dengan 
pembersihan hutan yg dilakukan oleh masyarakat kecil/ wong cilik. 

Menyelesaikan permasalahan pembersihan hutan oleh rakyat kecil me-
mang tidak harus serta merta mendudukkannya di depan meja pesakit-
an. Cobalah kita telaah dulu akar permasalahanya: kemiskinan. Tentu
saya  tidak  perlu melakukan elusidasi kemiskinan, wong saban hari di-
hadapan kita diwarnai dengan kehidupan orang miskin. Kalau itu kita
selesaikan  secara baik, maka kebakaran hutan di Kalimantan setidak-
nya dapat kita minimalkan.

Memang sudah menjadi cerita lama bahwa negara-negara berkembang
itu suka bersikap agar dikasihani.. Tapi  untuk  yg ini  mungkin ceritanya
berbeda. Jika sebagian negara- negara maju ogah mengerem laju indus-
trialisasi, berilah kompensasi kepada rakyat miskin di Kalimantan. Ke-
timpangan alam bisa diatasi jika dan hanya jika ketimpangan kemiskin
an juga teratasi. 

Tuhan memberikan keadilan dengan cara-Nya.

Panembahan Ngarso van Mbantul
_____________________________________________________



----- Original Message ----
From: theustad <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, October 23, 2007 5:08:12 PM
Subject: [Forum Prima] Re: DIRJEN PERBENDAHARAAN TIDAK DILIBATKAN DALAM PMK 
127/PMK.03/2007???

Bicara tentang kesalahan itu manusiawi
Saya kok jadi inget proyek lahan gambut sejuta hektar di kalimantan
team penelitinya para ahli lebih dari lima departemen
dengan segala mimpi muluk pak harto bikin sawah di atas lahan gambut
setelah dilaksanakan ....
hasilnya bencana lingkungan yang tak bisa dibayangkan
sejuta hektar hutan tropis yang ekosistemnya istimewa kar

Kirim email ke