wah pak Suba Sita sangat mendalami sekali mengenai LAHAN GAMBUT..
analisa nya sampai detail.. memang demikian lah adanya..
lahan sejuta hektar yang ada di kalimantan itu hanya 25 persen yang dapat di
tanami padi secara ekonomis.. sisanya hanya 10 persen lagi yang bisa di tanami
padi tapi sudah lebih besar modal daripada hasilnya (rugi)
mungkin dulu kita terlalu percaya diri.. atau hanya mau menyenangkan hati
pimpinan tertinggi saja.. berkata yes ..yes melulu.. padahal tidak begitu
kenyataan di lapangan.
saya juga pernah tinggal di kalimantan..
satu saat air PDAM mati sampai ber bulan bulan..
beli air dari gerobak dorong mencapai 1250 per jerigen..
rasanya koq gak tega banjur wc pake air itu, akhirnya coba coba bor dengan
pipa kedalam tanah dan memompa nya keatas dengan pompa sanyo.
air yang keluar dari sumur mula mula coklat.. lama lama putih..
tapi setelah esok hari nya di pompa lagi.. kembali coklat lagi..
ternyata air yang keluar walaupun lama lama putih, masih mengandung sulfhur
yang tinggi..
ketika dicoba menyiram tanaman dengan air itu
hanya tanaman berdaun keras saja yang bisa tahan..
sedangkan rumput pasti mati..
itulah yang di alami dengan sebagian tanaman padi di lahan sejuta hektar..
air itu baru bisa di pakai mandi setelah di campur dengan kapoorit ,,,
jadilah aku disana akhli perairan.. kerja nya menjernihkan air.. menghilangkan
sulfur dari air itu..
susah pak Subasita.. susah sekali untuk berhasil menanam padi di lahan
gambut..
dan keadaan seperti itu kan sudah berlangsung ribuan tahun..
koq mau diselesaikan dalam sekejap.. gak bisa lah..
suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Zamzam,
Mm benar kenyataannya pryk PLG 1 jt hektar,
prefeasibility study kurang akurat, design proyk yg
tidak "mempertimbangkan kearifan lokal" dan tidak
melibatkan masy setempat. Wilayah yg seluas itu
ternyata tidak semuanya cocok untuk sawah yg
menghsilkan padi. Krn hasilnya tidak menggembirakan
maka para penghuni (warga trans) pd pergi lagi.
Bukannya tambah sejahtera tp tambah miskin.
Bencana ekologis yg terjadi. Fungsi gambut yg
mengatur ekosistem hutan, terpotong-potong, air