Assalamualaikum Wr.Wb. Salam buat semua miliser, maaf baru muncul lagi setelah menjadi suami SIAGA, dan belajar jadi Trainer, trus balik lagi ke tempat kerja, kejar semua pekerjaan yang mesti ditandatangani dan back to bussines as usual. Apa kabar kang Zamzam, kang Khobir, kang Dayu, kang Dedi, semua sohib terbaik di Marisa, semua teman-teman di Gorontalo, Mas Dhanu di Bantaeng (betul ga?) dan semua pembaca Forum Prima yang saya hormati.
Selamat dan sukses buat KPPN Makassar II yang telah meraih penghargaan bu Menteri, khusus untuk Pak Djadid Radjim, terimakasih atas segala bimbingan dan kolaborasi selama kita bekerja sama. Alhamdulillah 4JJI SWT yang Maha Agung telah memberikan anak saya, Fathiya Ruzaina, seorang adik laki-laki yang saya beri nama Azka Syaffa Mutawakkil. Semoga hal ini menjadi momentum saya untuk senantiasa bersyukur dan makin giat beribadah. Wah seru juga baca tulisan QQ, lumayan buat nunggu staff saya yang belum datang ke kantor, lucu juga udah jam 10 tapi masih belum datang. Mungkin ybs terlalu larut tidunya jadi kesiangan bangun...He..he..he, saya setuju kalau ada tulisan mengenai mindset sebagian teman-teman pelaku birokrasi dikatakan masih jauh dari harapan publik. Dulu sebelum wacana remunerasi muncul ada yang bilang, "kalo gaji ku naik, aku nggak bakal terima gratifikasi" atao "kalo gaji dah naik pasti absen pake fingerprint, nah pasti aku nggak bakal terlambat atau kesiangan" mungkin juga bilang seperti ini "kalo gajiku seperti swasta, baru aku mau kerja profesional dan kreatif" Lalu apa yang terjadi, perubahan remunerasi (mungkin) belum bisa merubah mindset sebagian pelaku birokrasi? Atau memang mindsetnya yang tidak bisa di rubah? Ibarat membandingkan lebih dulu mana telur atau ayam? Mindset atau mental atau apalah namanya, hanya muncul dari setitik niat yang baik. Niat yang baik ada di dalam relung hati. Hati hanya segumpalan darah, akan tetapi segumpal darah ini bisa menentukan 'baik atau buruk' kinerja sesosok raga. Seorang widyaiswara (Setia Budi MA, Bappenas) menulis bahwa Pemberdayaan Sistem Administrasi Negara meliputi tiga hal : 1) Kelembagaan; 2) Ketatalaksanaan; dan 3) Sumberdaya manusia. Ketiga elemen ini harus selalu diupayakan untuk mencapai prinsip efisien dan efektif (sesuai dengan prinsip pencapaian kinerja) Lebih lanjut, kalau boleh saya garisbawahi, oleh ybs bahwa untuk poin 1, perlu ada reorganisasi. Poin 2, perlu ada sistem manajemen yang realistis dan applicable (di Depkeu boleh lah kita sebut dengan ABK dan SOP serta Standar Pelayanan Minimal, yang ini udah atau belum yah?) dan poin 3, pembangunan sumberdaya melalui upgrading kualitas dan kesejahteraan (remunerasi) Sepertinya semua sudah kita lalui, akan tetapi efek dari remunerasi dan reformasi birokrasi memang bukan seperti minum obat batuk, yang langsung terasa khasiatnya selesai kita minum. Khasiat dari obat batuk pun tentu berbeda-beda tergantung symptom masing-masing orang yang kena batuk. Mungkin kita butuh QQ-QQ yang lain, bukan cuma satu atau dua puluhan, mungkin ratusan atau ribuan. Mungkin kita juga perlu dua atau tiga orang seperti Yth Ibu Sri Mulyani, yang bisa memberikan role model bagi pejabat-pejabat teras lainnya, tidak perlu ratusan atau ribuan cukup dua atau tiga saja. Mengapa satu atau dua atau tiga, karena 'satu' saja sudah sedemikian dahsyat efek yang dihasilkan, bagaimana kalau banyak? Jadi saya setuju yang QQ tuliskan di bawah, cuma sedikit yang saya komentari, kekuasaan atau amanah itu cuma titipan, kapanpun-bagaimanapun-dimanapun, kalau 4JJI SWT mau cabut (bahkan jiwa kita sekalipun) tak ada lagi sesuatu apapun yang bisa menghalangi. Mari kita berpikir, bagaimana amanah ini bisa kita gunakan dengan baik, dan waktu yang singkat ini bisa kita gunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan orang banyak, bangsa dan negara. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Sedikit cerita dari saya (CMIIW), dahulu ada seorang anak muda yang bergabung untuk menjadi pasukan yang siap membela bangsa dan negaranya. Sebuah niat mulia terpatri di dadanya, aku ingin berbakti untuk agama, orang tua, negara dan bangsa. Merintis karir dari seorang prajurit penjaga kuda, naik pangkat menjadi prajurit yang menggunakan tombak. Waktu demi waktu, karena kegigihan dan semangat yang diawali niat baik, si prajurit naik pangkat menjadi prajurit dengan panah, tidak menunggu lama menjadi prajurit dengan kuda dan pedang. Tidak sampai setahun, si anak muda menjadi pemimpin perang yang memiliki seribu pasukan. Sebuah pencapaian karir yang luar biasa. Besoknya si anak muda dipanggil oleh Komandan Wilayah perangnya. Terjadi dialog seperti ini' Komandan Wilayah (KW) : Hai anak muda, mendekatlah...ada yang ingin aku sampaikan. Anak Muda (AM) : Siap komandan, saya siap mendengarkan. Si anak muda mengambil sikap sempurna untuk mendengarkan perintah. KW : Pencapaianmu dalam perang ini sangat luar biasa. Berita-berita tentangmu menjadi buah bibir dimana-mana. Panglima tertinggi di Istana telah mengambil perintah untuk memberimu penghargaan yang setimpal. AM : Siap, terima kasih komandan. Menunggu perintah selanjutnya, si anak muda berjalan ke muka untuk bersiap menyongsoing penghargaan. KW : Anak muda, Panglima tertinggi di istana meminta anda untuk segera mencopot atribut pemimpin perang seribu pasukan. AW : ??? (menahan nafas tidak mengerti), siap komandan. Bolehkah saya bertanya komandan? KW : Dipersilahkan anak muda, apa yang ingin kau tanyakan? AW : Bolehkah saya tahu alasan atas pencopotan semua atribut dan jabatan yang telah saya peroleh dalam perang selama ini? KW : Sederhana saja anak muda, pencapaianmu yang luarbiasa ini takut malah membuatmu "sombong dan membelokkan niat" AW : ehmmmmm...si anak muda ber-isitigfhar...Alhamdulillah, terimakasih telah mengingatkan saya komandan. Besoknya, si anak muda kembali ke medan perang dengan atribut prajurit, tetap dengan semangat dan niat yang berkobar-kobar untuk membela agama, bangsa dan negara, tanpa pernah minder menjadi prajurit kembali karena telah terpatri keyakinan dalam dirinya bahwa Alloh SWT yang Maha Memilki Kuasa atas sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Berikan yang terbaik untuk Indonesia, dimanapun anda berada dab bekerja. Wassalamualaikum Wr.Wb. Acep Hadinata Pada tanggal 05/11/07, Q-Nope <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > CAPAI POSISI yang SETINGGI-TINGGINYA supaya suatu saat nanti IDEALISME > yang > kita punya itu bisa berguna....karena kita punya kuasa atas sesuatu...... > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
