hal yang sama juga pernah saya alami, Mas Didyk. betapa menyenangkan ternyata
mutasi itu. banyak hal yang saya peroleh ketika saya dimutasi. awalnya memang
saya sedikit kecewa. dan rasa kecewa ini masih terus berlangsung hingga 1-2
bulan setelah saya dimutasikan. namun setelahnya, setelah mengenal sedikit
tempat baru saya ini, i'm getting exicited!
seperti pengalaman Mas Didyk, banyak orang2 dan pengalaman baru yang saya
temui di tempat tugas saya yang baru. main bola, gaple, tenis dan satu lagi
yang saya jadi gandrung, mancing di laut, i was become a fishing-freak! dan
ini jadi rutinitas saya setiap akhir pekan (dari pada mikir pulang ke bandung,
mending cari hiburan sendiri di tempat baru). dan ketika saya dapat kesempatan
sekolah pun, ketika liburan pulang ke Indo, saya sempet2in main ke sini ketemu
temen2 di kanwil, KPPN di sana, dan "saudara2" baru saya (bahkan setelah
selesai sekolah, status kepegawaian saya masih di sini, walaupun secara fisik
saya dimagangkan di pusat).
soal mutasi, saya pikir memang selalu menjadi isu sentral di organisasi
kita, dan seringkali masalah mutasi ini pasti menyangkut soal "kepuasan" dan
"ketidakpuasan". yang puas, tentunya adalah temen2 yang dimutasi sesuai dengan
keinginan dan harapannya. yang tidak puas, mereka2 yang dapat giliran mutasi
pada saat mereka sedang menikmati posisinya (baik jabatan, lingkungan maupun
faktor keluarga) atau mutasi ke tempat yang dia inginkan.
permasalahan kemudian berkembang, dari puas dan tidak puas, ke masalah
"fair" atau tidak "fair" ketika keputusan mutasi itu dikeluarkan. banyak
orang2 yang harusnya sudah "cukup masa" untuk dimutasi (baik di daerah atau di
pusat), ternyata tidak diikutsertakan. jadilah, ada beberapa orang rekan2 yang
harus mengenyam masa tugas lebih lama di berbagai pelosok, sementara beberapa
rekan yang lain menikmati masa tugas yang lebih lama di pusat/deket pusat. ini
tentunya menimbulkan kecemburuan dan saya pikir inilah yang paling seringkali
menjadi topik perdebatan.
proses mutasi memang menjadi concern organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan
memuluskan rencana strateginya, seperti kata Mas Didyk. ketika standar
kebijakan mutasi ini ditetapkan, organisasi tentunya punya pertimbangan2
inherent yang menjadi dasar sesuai dengan prioritas dan kewenangannya. menurut
saya, memang benar ini mutlak merupakan hak eksklusif pimpinan dengan berbagai
pertimbangan strategis dan cukup matang dalam rangka pemberdayaan pegawai.
namun, di sisi lain, ini menimbulkan "pertanyaan" di kalangan pegawai.
saya berpendapat, ada "ruang-ruang" mengenai kebijakan mutasi yang harusnya
menjadi konsumsi para pegawai, khususnya mengenai standar kompetensi dan
syarat profesi yang harus dipenuhi, agar seorang pegawai tahu setelah dia
berada di satu posisi/kantor/jabatan, dia tahu kemana berikutnya dia akan
berada, ada kepastian terhadap jenjang karir yang akan ditapakinya ke depan.
assessment center yang didirikan baru2 ini merupakan upaya untuk "membuka"
ruang-ruang tersebut, dan upaya dari pimpinan untuk lebih objektif dalam
menempatkan pegawai. namun, (mungkin, saya gk tahu) apa dan bagaimana
assessment center ini serta bagaimana mekanisme penilaian di dalamnya belum
tersosialisasikan secara baik, baik di pusat apalagi di daerah (ini
berdasarkan berbagai pertanyaan dari beberapa orang kepala seksi/pelaksana ke
saya menanyakan perihal assessment center). sehingga, upaya membuka
ruang-ruang komunikasi ini pun (pada saat ini) masih menjadi pertanyaan di
benak pegawai,
bagaimana upaya ini mampu memperbaiki dan memperjelas sistem mutasi kita
selama ini.
salam,
dn-
didyk choirul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Keseimbangan mutasi, menurut pendapat saya, konsep tersebut, insyaallah,
telah menjadi perhatian pimpinan DJPBN. Namun yang perlu kita sadari, mutasi
adalah konsekuensi dari pencapaian misi dan kinerja organisasi. Mutasi
dilakukan sebagai akibat upaya memenuhi dan menempatkan sumber daya manusia
sesuai kebutuhan dan strategi organisasi. Jadi mutasi, menurut saya, harus
selalu dipahami dari sudut pandang kepentingan organisasi--dengan segala
prioritas, kewenangan dan keterbatasannya.
namun cerita tentang mutasi....mungkin saya bisa berbagi,
penempatan pertama saya di KPPN Sumbawa Besar, sungguh tidak terlupakan dan
selalu saya rindukan...
bermula dari keharusan....dapat SK berdua (karena istri
seangkatan)...berangkat dalam keadaan istri hamil 9 bulan...jadi ditinggal
dulu dikampung, 3 bulan kemudian nyusul bersama putra pertama...naik
bus..nyebrang pulau tiga kali....
namun ternyata di rantau saya dapat menikmati...dan memperoleh banyak hikmah..
saya menikmati lingkungan kantor, bertemu dengan teman, sahabat dan saudara
yang selalu membantu apa saja dan kapan saja...., mengenal arti komitmen dan
kerja keras...serta solidaritas..
saya menikmati lingkungan di luar kantor, main bola tarkam hingga keliling
NTB, makan ikan bakar di pantai, main gaple bareng-bareng....
menemukan tetangga yang menjadi seperti saudara (salah satu tetangga
saya...masih momong anak saya mulai usia 3 bulan hingga sekarang -- kelas 2
SMP, menjadi lebih dari orang tua...)
dari rumah dari semula ngontrak hingga bisa beli rumah meski dengan KPR...
dari D-3 hingga bisa nyelesaikan S-1 (meski ujiannya harus nyebrang ke
Mataram...pake motor dengan terik dan hujan)
masih dapat mudik setahun sekali...(meski harus utang koperasi)
sewaktu berakhir pula dengan keharusan, saya dimutasi.....(meski saat itu
saya masih "kerasan"), saya hanya menyadari bahwa saya bagian dari teman-teman
yang harus bergantian dengan teman-teman lain di Jawa....
yang saya ketahui kemudian, ternyata mutasi itu adalah bagian dari prioritas
dan strategi organisasi (waktu itu..) untuk melakukan penyegaran sumber daya
manusia...
jadi pesannya :
mutasi harus kita hadapi, kita nikmati, dan kita sadari sebagai konsekuensi
kita sebagai bagian dari organisasi...., dan keyakinan bahwa organisasi akan
mencarikan mekanisme yang terbaik untuk itu...(namun serta juga kesadaran
bahwa organisasi memiliki keterbatasan...)
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]