Assalamu alaikum Wr. Wb.
Yth. Bapak Subasita,
Saya mencoba urun pendapat mengenai SPAN sebagai berikut 
ini. Semoga ada manfaatnya untuk bahan kajian lebih 
lanjut.

LANGKAH-LANGKAH PEMIKIRAN DALAM RANGKA PERCEPATAN SPAN

A. PENDAHULUAN
Jauh sebelum gagasan pengembangan SPAN dicetuskan, Prof. 
DR. Ali Wardhana saat menjabat sebagai Menteri Keuangan 
telah mempertimbangkan pentingnya Sistem Informasi 
Keuangan (SIK) yang terpadu (Integrated data processing 
system). Pemikiran ini kemudian diwujudkan dengan 
pembentukan Counterpart Pusat Sistem Informasi (CPSI) 
Keuangan dimana pakar-pakar IT dari UI, Unpad dan 
konsultan asing dikumpulkan untuk merumuskan dan 
mengembangkan SIK. Berdasarkan pemikiran para pakar ini 
dirancang desain sistem yang akan dikembangkan termasuk 
kebutuhan hardware, software dan SDM. Penjabaran lebih 
lanjut langkah ini adalah berdirinya Pusat Analisa 
Informasi Keuangan (PAIK) sebagai unit kerja yang 
bertanggung-jawab menjalankan tupoksi pengembangan SIK. 
PAIK yang secara struktural berada di bawah Setjen. Dep. 
Keuangan ini bertanggung-jawab mengembangkan 
subsistem-subsistem di Ditjen. Anggaran, Ditjen. Pajak, 
Ditjen. Bea Cukai dan unit-unit organisasi lain lingkup 
Dep. Keuangan serta mengintegrasikannya dalam rangka 
mendukung tersedianya informasi keuangan yang cepat, tepat 
dan akurat.
Sehubungan dengan hal tersebut untuk Ditjen. Anggaran 
dikembangkan subsistem Budget Preparation dan subsistem 
Budget Execution sedangkan untuk Ditjen. Bea Cukai 
dikembangkan subsistem Tobacco Excise dan subsistem 
Export-Import. Subsistem-subsistem ini mulai dirintis 
pengembangannya pada tahun 1975 oleh CPSI dengan 
melibatkan unit-unit organisasi terkait. Setelah resmi 
PAIK dibentuk pada tahun 1977, baru pengembangannya 
ditangani oleh PAIK.
Walaupun pada dekade tersebut belum dikenal paket-paket 
software yang �user-friendly� namun pemikiran penerapan 
single database sudah menjadi dasar berpijak dalam desain 
sistem. Artinya, sekalipun belum dikenal komunikasi data 
secara �on-line� dengan sistem jaringan, tetapi konsep 
�centralized data processing system� dan PAIK sebagai 
pusat pengolahan data sekaligus �bank data� sudah menjadi 
dasar berpijak. Persoalan saat itu, selain komputerisasi 
belum dikenal secara luas di jajaran unit organisasi Dep. 
Keuangan, kendala-kendala lain seperti kelancaran 
komunikasi data dan koordinasi antar unit organisasi juga 
dirasakan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa konsep dasar 
SPAN adalah SIK yang disempurnakan, yaitu SIK yang 
ditambah modul pelayanan "front office" dan dibumbui 
dengan penyedap kemajuan teknologi komunikasi data secara 
�on-line�. Apabila dikaji lebih jauh, secara organisasi 
PAIK sukses membuka mata seluruh unit organisasi Dep. 
Keuangan dalam hal penerapan sistem komputerisasi. Tidak 
dapat dipungkiri, sekalipun pada saat itu Ditjen. Anggaran 
(DJA) telah memanfaatkan dukungan komputer yang dikelola 
oleh Sub Direktorat Pengumpulan Data (SDPD) tetapi 
keberadaannya tidak dirasakan oleh setiap unit kerja di 
lingkungan DJA. Salah satu penyebabnya, SDPD berada di 
Bandung sehingga perannya kurang optimal. Sementara PAIK, 
selain didukung dengan peralatan komputer yang lebih 
memadai, kebijakan pimpinan Dep. Keuangan yang memberi 
kewenangan kepada PAIK untuk mengembangkan sistem 
komputerisasi seluruh jajaran organisasi Dep. Keuangan 
juga dirasakan nilai tambahnya. Seiring dengan mulai 
dikenal dan digunakannya komputer jenis �PC� di unit-unit 
organisasi lingkup Dep. Keuangan, peran PAIK sebagai pusat 
pengembangan sistem komputerisasi mulai pudar dan menjadi 
makin sempit setelah beberapa unit organisasi mempunyai 
pusat pengolahan data sendiri. SDPD juga ditingkatkan 
menjadi Pusat Pengolahan Data dan Informasi Anggaran 
(PPDIA), bahkan kemudian dipindahkan ke Jakarta.  Kondisi 
ini juga menjadi awal berubahnya arah keberadaan PAIK 
sebagai pusat pengolahan data Dep. Keuangan bahkan 
kemudian makin jauh bergeser.

B. KONSEP DASAR PENGEMBANGAN SPAN
Dengan mencoba memahami berbagai hal yang dihadapi PAIK 
dalam pengembangan SIK sebagaimana diuraikan di atas, 
masalah mendasar yang penting dikaji oleh tim yang 
dibentuk dan ditunjuk untuk mengembangkan SPAN adalah 
terlebih dahulu melakukan �mapping�, membuat peta berbagai 
permasalahan yang dihadapi oleh setiap unit organisasi di 
lingkungan Dep. Keuangan, langkah-langkah antisipasi yang 
telah dilakukannya dan arah yang menjadi tujuan. Dengan 
kata lain, tim harus memahami visi, misi dan strategi 
setiap unit organisasi.
Bertitik-tolak dari pemikiran ini, tim melakukan evaluasi 
atas aplikasi-aplikasi yang telah dijalankan oleh 
unit-unit organisasi bersangkutan, keunggulannya, 
permasalahan yang dihadapi dan arah pengembangannya lebih 
lanjut. Selain daripada itu juga perlu dievaluasi 
prasarana dan sarana yang digunakan termasuk jaringan 
komunikasi data. Dengan kompleksitas permasalahan yang 
tinggi, desain SPAN harus komprehensif, pengembangannya 
hati-hati, tidak tergesa-gesa dan sebaiknya dilaksanakan 
per modul. Pemanfaatan pihak ketiga dalam pengembangan 
sistem, sekalipun yang bertaraf internasional bukan 
merupakan jaminan bahwa hasil yang dicapai �perfect�. 
Dalam hal ini, tim harus belajar dari pengalaman unit-unit 
organisasi yang menggunakan vendor bertaraf internasional 
tetapi gagal bahkan beberapa diantaranya gagal sebelum 
diimplementasikan. Demikian juga dengan pemanfaatan 
konsultan-konsultan asing yang selama ini justru lebih 
banyak �belajar sambil mencari makan� di Indonesia.

C. KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI DALAM PENGEMBANGAN SPAN
Dukungan sistem informasi yang cepat, tepat dan akurat 
memang mutlak diperlukan oleh pimpinan Dep. Keuangan dalam 
rangka menunjang berbagai kebijakan makro di bidang 
fiskal. Selain daripada itu, percepatan pelayanan kepada 
masyarakat juga memerlukan dukungan sistem yang handal. 
Guna memenuhi tuntutan tersebut pengembangan SPAN 
diharapkan dapat menjadi solusi, selain percepatan 
pelayanan kepada publik juga dapat memenuhi kebutuhan 
informasi manajemen, seperti manajemen kas dan manajemen 
asset.  Namun demikian, pengembangan SPAN yang melibatkan 
berbagai unit organisasi dengan tupoksi yang berbeda 
memerlukan penanganan ekstra dalam hal koordinasi. Selama 
ini, sebagaimana dialami oleh PAIK, kendala yang menjadi 
hambatan dalam pengembangan sistem adalah lemahnya 
koordinasi. Bahkan, koordinasi antar direktorat dalam satu 
unit organisasi kadang masih sulit dicapai. Untuk itu, 
menjadi catatan bagi tim yang ditunjuk, aspek koordinasi 
agar mendapat perhatian utama. Dalam hal ini peran serta 
setiap unit organisasi, terutama yang telah memiliki pusat 
pengolahan data, agar diperjelas dan tegas. Walaupun dalam 
keanggotaan tim pengembangan SPAN telah melibatkan 
unsur-unsur staf dari setiap unit organisasi, secara 
organisatoris tetap harus dirumuskan tugas dan 
tanggung-jawab masing-masing unit organisasi. Lebih tegas 
lagi, apabila dirinci, kendala-kendala yang dihadapi dalam 
pengembangan SPAN antara lain meliputi :
1. Kendala Koordinasi, intern dan ekstern;
2. Kendala Regulasi yang mengatur tingkat kewenangan 
setiap unit organisasi;
3. Kendala Staffing, yaitu staf yang khusus menangani 
pengembangan sistem;
4. Kendala hardware dan software termasuk sarana 
komunikasi data.
Kendala-kendala sebagaimana dikemukakan di atas akan dapat 
diatasi oleh tim apabila cetak biru desain SPAN dikukuhkan 
dengan keputusan pimpinan Dep. Keuangan dan bersifat 
mengikat setiap unit organisasi. Artinya, kebijakan 
pengembangan SPAN tidak terpengaruh dengan 
kebijakan-kebijakan baru, baik menyangkut reorganisasi 
Dep. Keuangan maupun pergantian pimpinan.

D. LANGKAH-LANGKAH PERCEPATAN IMPLEMENTASI SPAN
Telah disinggung pada bagian awal bahwa SPAN bukanlah 
sesuatu yang sama-sekali baru. Ide dasarnya pernah 
dicetuskan jauh sebelumnya. Bahkan apabila dikaji, 
beberapa sistem yang saat ini berjalan merupakan modul 
dari desain SPAN secara keseluruhan, baik itu sistem yang 
dijalankan oleh Ditjen. Perbendaharaan (DJPBN), Ditjen. 
Pajak (DJP) maupun Ditjen. Bea Cukai (DJBC). Ketiga unit 
organisasi ini memegang kunci pokok keberhasilan SPAN. 
Arus data transaksi pelaksanaan APBN dapat dikatakan 
tergantung kepada unit-unit organisasi ini. Data-data 
transaksi dari DJPBN, DJP dan DJBC adalah data utama untuk 
sistem yang akan dikembangkan dengan bendera SPAN.
Dengan mengacu kepada pemikiran bahwa suksesnya sebuah 
aplikasi amat ditunjang oleh dukungan data, maka sisi yang 
harus mendapat perhatian utama pengembangan SPAN adalah 
bagaimana mengkoordinasikan ketiga unit organisasi ini 
dalam satu sistem terpadu. Jika menoleh ke belakang, 
pengembangan MPN sebagai sistem yang menjembatani 
kepentingan ketiga unit organisasi tersebut di atas, dapat 
digunakan sebagai acuan dasar pengembangan SPAN.
Dengan demikian, untuk mempercepat implementasi SPAN 
beberapa hal yang harus mendapat perhatian adalah :
1. Manfaatkan konsep desain MPN sebagai acuan sekaligus 
prototype SPAN;
2. Menekankan pengembangan SPAN untuk 3 (tiga) unit 
organisasi, DJPBN, DJP dan DJBC. Langkah-langkah yang 
harus dilakukan adalah evaluasi sistem, hardware dan 
software serta dukungan infrastuktur lainnya;
3. Menunjuk unit organisasi yang secara struktural 
bertanggung-jawab selaku koordinator pengembangan SPAN;
4. Merumuskan, menyusun dan menetapkan regulasi-regulasi 
yang diperlukan untuk mendukung pengembangan dan 
implementasi SPAN;
5. Melaksanakan pengembangan dan implementasi SPAN secara 
bertahap melalui tahap-tahap uji coba yang komprehensif.


E. PENUTUP
Dukungan informasi yang handal untuk menunjang pelaksanaan 
tugas pokok dan fungsi Dep. Keuangan dan segenap jajaran 
unit organisasinya memang mutlak diperlukan. Pengembangan 
SPAN merupakan salah satu solusi yang diharapkan dapat 
memenuhi kebutuhan tersebut. Namun demikian, belajar dari 
pengalaman-pengalaman sebelumnya, pengembangan sistem yang 
tergesa-gesa dan �instant� bukanlah langkah yang tepat 
mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Selain 
daripada itu, pemanfaatan pihak ketiga dan konsultan asing 
yang bertaraf internasional sekalipun tidak menjamin 
sistem yang dihasilkan �perfect�. Untuk itu, terlepas dari 
pengembangan SPAN dibiayai oleh dana yang bersumber dari 
PHLN, agar menjadi catatan, SDM yang dimiliki Dep. 
Keuangan pada dasarnya mampu melaksanakan tugas 
mengembangkan SPAN. Kunci pokok dari keberhasilan 
pengembangannya bukan terletak kepada siapa yang menangani 
melainkan kepada kewenangan dan koordinasi dari unit-unit 
organisasi terkait. Untuk menunjang hal ini diperlukan 
regulasi yang memberi kewenangan kepada unit organisasi 
yang ditunjuk sebagai koordinator.
Pada akhirnya, berhasil atau tidaknya SPAN 
diimplementasikan tergantung kepada seluruh jajaran staf 
Dep. Keuangan untuk memberikan yang terbaik kepada 
institusi.

Wassalam,

Bagus K.

On Wed, 6 Feb 2008 10:37:36 +0700 (ICT)
  suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Bravo DJPB, Salam untuk Kemajuan DJPB
> 
> 
>      ________________________________________________________ 
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di 
>bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di 
>http://id.answers.yahoo.com/
> 


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagi anda Pelanggan TELKOM di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. Nikmati Hari 
SABTU & MINGGU Anda untuk Internetan dengan tarif murah TelkomNet Instant, CUMA 
Rp.100/menit ALL IN (termasuk pulsa telepon).
   Nomor Akses : 080989999
   User name: [EMAIL PROTECTED]
   Password : telkom
Ayo buruan, promo ini cuma berlaku sampai 31 Desember 2007

Kirim email ke