Beberarapa perubahan paradigma

1. Abdi vs Negara
Selama ini kita manganggap bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah
sebuah pengabdian pada negara hingga slogan yang mengemuka adalah
"jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan kepadamu, tapi tanyakan
apa yang hisa kamu berikan untuk negera" (Kennedy-terjemahan) yang
sangat tepat untuk situasi revolusi tahun 1960an (Sukarno dan
Kennedy). Namun, untuk zaman seperti sekarang ini kepedulian negara
untuk mengakomodasi kebutuhan para abdinya perlu menjadi 'central
issue' karena SDM adalah satu-satunya asset yang tidak pernah secara
mutlak dimilki oleh negara. Tawaran-tawaran keuntungan finansial dan
non-finansial yang lebih besar dari 'external environment' menjadi
tantangan tersendiri bagi institusi negara dalam mempertahankan SDM
yang dimilikinya
Pelajaran: jangan salahkan mereka yang meninggalkan ke-PNS-an atau
ke-PBN-an untuk kehidupan yang 'lebih baik', tapi evaluasi manajemen
SDM karena tidak mampu membuat kebijakan yang dapat memikatkan
komitmen mereka.
  
2. Abdi vs Raja Kecil
Hubungan bawahan dan atasan didominasi oleh paternalistik dan 'high
power distance' yang menempatkan atasan sebagai pihak yang superior di
hadapan bawahannya. Slogan yang sering muncul melalui paradigma ini
adalah bahwa atasan tidak pernah dan tidak berhak dipersalahkan,
termasuk (mohon maaf! ini cuma contoh kecil) himbauan pak Dirjen saat
kunjungan di Medan, "Hentikan setor ke atasan..." (kenapa tidak
"Hentikan meminta setoran kepada bawahan...") 
Kasus-kasus temuan korupsi yang lebih banyak menjerumuskan bawahan
ketimbang atasan, lebih kurang, terpengaruh oleh paradigma ini.
Pada masa sekarang ini, kesadaran bahwa 'atasan tidak dapat berbuat
banyak tanpa bawahan' perlu dikembangkan sehingga pola-pola 'servant
leadership' dapat diberdayakan.
Pelajaran: jangan pernah mengabaikan pendapat dan pemikiran bawahan  

3. Ikhlas vs ucapan terima kasih
Pandangan terhadap keikhlasan terhadap pemberian orang lain kepada
kita seringkali dilihat dari sudut pandang kita selaku penerima.
Seringkali kita beranggapan bahwa kita tidak pernah meminta untuk
diberi sesuatu atas pelayanan yang kita berikan, jadi mereka pasti
memberi kita dengan keikhlasan. Kita seringkali lupa bahwa keikhlasan
dalam memberi sangat sulit dimunculkan manakala kekhawatiran akan
kesulitan yang akan dihadapi dengan 'tidak memberi' ada dalam benak
kita. Sekarang kita perlu membalik paradigma ini dengan menanamkan
keikhlasan (hanya kepada Alloh) pada diri kita sehingga kita tidak
ikhlas bila orang lain menghargai pelayanan kita dengan materi atau
pemberian hadiah dll.
Pelajaran: dapat dikatakan tidak ikhlas bila kita menerima pemberian
orang lain yang diduga menerima pelayanan dari kita.

Silahkan ditambahkan sendiri....

Majulah Indonesiaku
Jayalah PBN-ku
--- In [email protected], endah marty <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Liputan Kunjungan Kerja Dirjen Perbendaharaan
> di Kantor Wilayah II Ditjen Perbendaharaan Medan
> Tanggal 28-29 April 2008
>  
>             Rombongan Bapak Dirjen Perbendaharaan tiba di Medan
sekitar pukul 15.00 WIB, hari Senin tanggal 28 April 2008, setelah
mengikuti rombongan Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani, ke Banda Aceh
yang meresmikan Gedung Keuangan Negara yang baru selesai dibangun.
Dari Bandara Polonia Medan, Dirjen Perbendaharaan, Bapak Herry
Purnomo, yang didampingi Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Bapak Siswo
Sujanto, dan jajaran eselon III Setditjen Perbendaharaan langsung
menuju KPPN Percontohan Medan II. Setelah beberapa saat meninjau
kegiatan di front office KPPN Medan II, beliau kemudian mengunjungi
setiap ruangan yang ada di lantai I (satu lantai dengan KPPN Medan II,
yaitu Bidang AKLAP, Bidang PP, dan Subbag TU/RT) Kanwil II Ditjen
erbendaharaan Medan.
>             Di setiap ruangan Bapak Dirjen Perbendaharaan
menyempatkan diri berdialog dengan para pegawai. Saat memasuki ruangan
seksi Bimtek&PSAP, beliau menyaksikan kegiatan analisa LKPP KPPN yang
dilakukan para pegawai Bidang Aklap dan berpesan agar kegiatan analisa
LKPP KPPN oleh kanwil Ditjen Perbendaharaan dapat terus dilaksanakan
dan ditingkatkan kualitasnya. Selain itu beliau juga berpesan agar
secara proaktif menyampaikan masukan-masukan ke kantor pusat tentang
hal apapun, karena masih banyak yang harus dibenahi.
>             Pada kesempatan tersebut Bapak Dirjen Perbendaharaan
juga menginstruksikan agar mulai menekankan pentingnya penerapan PPBS
(Planning, Programming, Budgeting System) di satker-satker dengan
penekanan pada penetapan output kegiatan pada masing-masing satker
pada saat penyusunan RKA-KL.
>             Setelah itu beliau melanjutkan kunjungannya di lantai
III dengan memasuki ruangan-ruangan yang ada di sana (Bidang PA I, PA
II, dan Bagian Umum). Kemudian beristirahat di ruangan Kakanwil.
>             Hari kedua kunjungan Dirjen Perbendaharaan,Bapak Herry
Purnomo, beserta rombongan di Medan diisi dengan acara tatap muka
dengan para pejabat eselon III dan IV beserta seluruh staf Kanwil II
Ditjen Perbendaharaan Medan, KPPN Medan I, dan KPPN Medan II. Acara
yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut selain dihadiri oleh Kakanwil II
Ditjen Perbendaharaan Medan juga dihadiri oleh Kakanwil I Banda Aceh
dan para kepala KPPN lingkup Kanwil I Ditjen Perbendaharaan Banda Aceh
dan Kanwil II Ditjen Perbendaharaan Medan.
>             Acara dimulai dengan sambutan dari Bapak A. Rahman
Ritonga selaku Kepala Kantor Wilayah II Ditjen Perbendaharaan Medan.
Dalam sambutannya beliau menyampaikan beberapa hal, antara lain
mengenai tindak lanjut Rapimtas tanggal 27-29 Februari 2008 di Jakarta
yang sudah dilaksanakan di lingkup kanwil II Ditjen Perbendaharaan
Medan, antara lain penyusunan surat-surat edaran Kakanwil tentang
Percepatan dan Akurasi LKPP, Percepatan realisasi DIPA, penerapan SOP
KPPN Percontohan pada KPPN konvensional, dan pengarsipan serta
pelaksanaan sosialisasi tentang gratifikasi di 11 KPPN lingkup Kanwil
II Ditjen Perbendaharaan Medan.
>             Selanjutnya juga disampaikan tentang masalah persebaran
SDM di lingkup Kanwil II Ditjen Perbendaharaan Medan, penyusunan
laporan keuangan, dan layout KPPN Percontohan. Dijelaskan beliau bahwa
persebaran SDM di lingkup kanwil II Ditjen Perbendaharaan Medan secara
kuantitas tidak memiliki kendala yang serius, namun bukan berarti juga
tanpa masalah. Karena sebagaimana terjadi pada kanwil-kanwil lain yang
memiliki KPPN Percontohan, KPPN dan Kanwil yang berada satu kota
dengan KPPN Percontohan mengalami masalah kelebihan jumlah pegawai,
hal tersebut dialami oleh KPPN Medan I dan Kanwil II Ditjen
Perbendaharaan Medan.
>             Mengenai proses penyusunan laporan keuangan, Bapak
Kakanwil II Ditjen Perbendaharaan Medan menyampaikan bahwa aplikasi
memegang peranan penting di dalamnya. Pada kesempatan itu beliau
mengatakan bahwa aplikasi yang digunakan masih mengalami beberapa
kelemahan. Oleh karenanya beliau mengharapkan Direktorat Sistem
Perbendaharaan untuk terus memperbaiki kelemahan-kelemahan aplikasi
yang ada demi memperlancar proses penyusunan laporan keuangan.
>             Acara kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan sambutan
dan arahan dari Bapak Dirjen Perbendaharaan. Setelah memberikan salam,
beliau memulai sambutannya dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah
atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua dan
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawai Kanwil I Ditjen
Perbendaharaan Banda Aceh dan Kanwil II Ditjen Perbendaharaan Medan
atas segala upaya perubahan yang telah dilakukan dalam mewujudkan
pelayanan prima kepada masyarakat. Beliau juga meminta maaf atas
segala keinginan dan harapan para pegawai yang belum dapat dipenuhi,
karena menurut beliau tidak semua keinginan pegawai dapat dipenuhi.
>             Dalam arahannya, Bapak Dirjen Perbendaharaan
mengingatkan kepada seluruh jajaran Ditjen Perbendaharaan bahwa
reformasi birokrasi yang saat ini tengah dilaksanakan bukan terfokus
pada masalah remunerasi tetapi pada masalah mengubah mindset dan
kultur lama ke kultur baru. Kultur lama yang menyimpang (melanggar
aturan dan menyalahgunakan wewenang) harus dihilangkan  dan diganti
dengan kultur baru yaitu memberi pelayanan terbaik dan tidak
menyalahgunakan wewenang. Beliau juga menasehatkan kita agar jangan
terpengaruh oleh lingkungan luar (instansi lain) yang belum mau
berubah. Perubahan harus dimulai dari dalam dan bukan menunggu pihak
luar. Hal tersebut juga ditekankan oleh Menteri Keuangan yang
menegaskan bahwa bila dalam enam bulan tidak ada perubahan maka
remunerasi yang sudah kita nikmati saat ini akan dicabut. Dalam hal
perubahan kultur lama ke kultur baru, Bapak Dirjen Perbendaharaan juga
menekankan perubahan tersebut tidak hanya bagi Kanwil dan KPPN sebagai
Kuasa BUN namun juga bagi Kanwil dan KPPN selaku KPA dalam menangani
pengelolaan dana DIPA masing-masing dimana kadang-kadang harus
berhubungan dengan pihak ketiga/rekanan (pengadaan barang dan jasa).
> Salah satu bentuk reformasi birokrasi yang ditampilkan oleh Ditjen
Perbendaharaan dalam menjawab tantangan Ibu Menteri Keuangan yaitu
pembentukan KPPN Percontohan. Sampai saat ini telah terbentuk 27 KPPN
Percontohan dan direncanakan sampai dengan bulan Juni 2008 nanti telah
terbentuk 32 KPPN Percontohan. KPPN Percontohan sebagai ikon Ditjen
Perbendaharaan memiliki beberapa karakteristik, yaitu: one stop
service, transparan, tanpa biaya (zero cost), SOP yang sederhana, IT
based, penyaringan SDM melalui proses assesment sehingga memenuhi
unsur kualitas dan kuantitas, dan yang terpenting adalah mau mengubah
mindset-nya.
>             Bapak Dirjen Perbendaharaan mengatakan bahwa perubahan
mindset harus menjadi perhatian utama kita. Terlebih lagi saat ini KPK
sedang mengevaluasi proses perubahan mindset di lingkungan Ditjen
Perbendaharaan. Salah satu contoh dari cara yang telah mereka gunakan
adalah dengan menguji pegawai KPPN di salah satu kanwil dengan memberi
sejumlah imbalan (gratifikasi). Bapak Dirjen Perbendaharaan memberikan
perhatian yang besar atas masalah ini dan menghimbau kepada seluruh
jajaran Ditjen Perbendaharaan untuk tidak menerima gratifikasi dalam
bentuk apapun. Kejadian di Bandung agar dijadikan pelajaran. "Hentikan
setor ke atasan, karena yang jadi korban justru ujung tombak yang
berhubungan langsung dengan bendahara satker" demikian dikatakan Bapak
Dirjen Perbendaharaan. 
>             Selanjutnya Bapak Dirjen Perbendaharaan juga
mengingatkan untuk mengubah kebiasaan lama dalam menyambut tamu dari
kantor pusat. Tamu agar dijemput secara wajar, cukup dengan mobil
dinas, tidak perlu rombongan dan tidak perlu juga disiapkan VIP room.
Tidak perlu memberi oleh-oleh dan sebagainya. Kepala kantor sebagai
leader harus memulainya dan berani berkata tidak terhadap permintaan
pelayanan tamu, karena untuk perjalanan dinas sudah diterapkan sistem
at cost.
>             Perubahan yang dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan
bukan tidak menimbulkan permasalahan baru. Dikatakan oleh Bapak Dirjen
Perbendaharaan bahwa pembentukan KPPN Percontohan di 30 provinsi telah
mengakibatkan bertumpuknya jumlah pegawai di hampir seluruh kanwil.
Beliau juga mengatakan bahwa jumlah pegawai Ditjen Perbendaharaan yang
saat ini berjumlah sekitar 11.000 orang sangat berlebih karena
idealnya Ditjen Perbendaharaan hanya membutuhkan jumlah pegawai
sekitar 6000-7000 orang. Menghadapi permasalahan jumlah SDM, Bapak
Dirjen Perbendaharaan memberikan alternatif solusi yang akan ditempuh,
tanpa ada yang dirugikan, antara lain dengan pengalihan status, yaitu
memindahkan status pegawai ke instansi lain, atau pensiun dini.
>             Namun begitu, Bapak Dirjen Perbendaharaan berharap bahwa
SDM yang ada saat ini tetap berdaya guna. Seluruh jajaran Ditjen
Perbendaharaan diharapkan dapat berfungsi sebagai guru dan pelayan
bagi mitra kerja, memiliki kreativitas dan harus menggali pekerjaan
(bukan menunggu pekerjaan), fast learning (berpikir cepat), serta
ikhlas dalam bekerja. Selain itu beliau juga meminta kepada para
pejabat untuk lebih berperan aktif dan menunjukkan leadership bagi
kantor yang dipimpinnya. Karena peran pimpinan memberi sumbangsih
terbesar dalam memberi "warna institusi". Dalam hal ini alat
monitoring juga sangat diperlukan.         
>             Tantangan yang dihadapi oleh Ditjen Perbendaharaan ke
depan begitu besar. Disampaikan Bapak Dirjen Perbendaharaan bahwa
Ditjen Perbendaharaan memiliki peran strategis, seperti misalnya
outlook ekonomi yang dilakukan di tingkat eselon I dasarnya adalah
Buku Merah yang berasal dari Laporan Kas Posisi (LKP) yang dihasilkan
oleh KPPN. Oleh karena itu, keakuratan penyusunan LKP di tingkat KPPN
menjadi sangat penting. Beliau berharap para kepala KPPN agar memberi
perhatian atas data LKP yang dikirim ke pusat. Jangan hanya berpatokan
pada "tanda biru" yang berarti bahwa data sudah dikirim namun isi dan
keakuratan datanya harus juga diperiksa terlebih dahulu. Dalam rangka
keakuratan dan kelancaran proses pengiriman data LKP, Bapak Dirjen
Perbendaharaan mengatakan bahwa saat ini sudah dibuat sebuah layanan
intranet berbasis web untuk memonitor pengiriman data ke kantor pusat.
>             Peran strategis lain dari Ditjen Perbendaharaan yaitu
pengamanan pemotongan DIPA yang akan dilakukan pemerintah. Bapak
Dirjen Perbendaharaan mengingatkan kepada para kepala KPPN agar
bersiap untuk menjadi "bumper" di lapangan dalam menghadapi protes
dari kuasa pengguna anggaran. Kanwil juga diingatkan agar tidak
memberikan dispensasi apapun yang bertentangan dengan Peraturan
Menteri Keuangan dan Peraturan Dirjen Perbendaharaan walaupun
mendapatkan tekanan. Selain itu, beberapa program seperti penerapan
PPBS (Planning, Programming, Budgeting System), BLU, penyusunan LKPP,
SPAN (reformasi keuangan negara, business process baru), dan TSA juga
akan menjadi faktor penting dalam sistem perbendaharaan dan cash
management pemerintah. Dalam kaitannya dengan TSA, para kepala KPPN
dihimbau untuk bisa mengoptimalkan idle cash dan membuat cash forecasting.
>             Dalam hal penataan organisasi, akan dibentuk sebuah
direktorat baru yang akan diberi nama Direktorat Transformasi
Perbendaharaan. Ada satu hal yang baru dalam pembentukan direktorat
ini, yaitu pengisian eselon II-nya akan dilakukan secara open bidding.
Siapa saja, baik dari dalam maupun luar Ditjen Perbendaharaan, yang
sudah memenuhi persyaratan dapat mengajukan diri untuk diseleksi
menjadi pejabat eselon II Direktorat Transformasi Perbendaharaan.
>             Selain hal yang sudah disebutkan di atas, Bapak Dirjen
Perbendaharaan juga memberikan perhatian yang tinggi bagi pengembangan
SDM di Ditjen Perbendaharaan. Kantor pusat sudah meluncurkan program
beasiswa S1 dan S2 dalam negeri dan akan terus melanjutkan program ini
di tahun-tahun yang akan datang. Program-program pendidikan formal
yang diikuti oleh pegawai, baik dalam bentuk beasiswa maupun biaya
sendiri, diharapkan sejalan dengan kebutuhan organisasi (jurusan yang
dipilih akan diarahkan).
>             Program pelatihan saat ini juga sering dilakukan guna
meningkatkan kompetensi pegawai dan program ini akan terus dilakukan
sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Untuk mendukung usaha
pengembangan pegawai tersebut, akan dibuat sebuah layanan e-learning
berbasis web yang akan menyediakan berbagai bahan diklat, assesment,
dan lain sebagainya. 
>             Di akhir arahannya, Bapak Dirjen Perbendaharaan berpesan
kepada para kepala kantor dan kepala kanwil untuk mengembangkan
leadership serta memberikan perhatian kepada para pegawai. Perhatian
yang beliau maksud bukan perhatian dalam hal materi, tetapi perhatian
yang bersifat immateri, misalnya dengan menemani pegawai yang harus
bekerja sampai larut malam. Beliau juga berpesan kepada para kepala
kantor dan kepala kanwil untuk menghilangkan sifat "angker" yang ada
pada mereka. Pejabat harus mau bersikap terbuka, tidak lagi meminta
untuk dilayani secara berlebihan, dan jangan hanya duduk dalam
ruangannya terus seharian. Para pegawai juga harus berani "mengintip"
atasan agar atasan tidak berlaku seenaknya. Pesan beliau ini langsung
disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta acara.
>             Bapak Dirjen Perbendaharaan juga menekankan agar build
in control (pengawasan melekat di dalam) harus jalan. Sedangkan untuk
meningkatkan kualitas (quality control) beliau mengingatkan untuk
tidak usah menunggu instruksi dalam hal melakukan sesuatu yang baik,
perlunya intensitas pelaksanaan GKM  dan diskusi-diskusi, meningkatkan
peran pimpinan, input perbaikan dan komunikasi (optimalisasi IT).
>             Dalam rangka mempererat kebersamaan, perlu diadakan
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan lain-lain,
dimana pembiayaannya agar dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama
tanpa harus "menginjak kaki orang lain".
>             Selanjutnya Bapak Dirjen Perbendaharaan mengingatkan
agar berhati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan pejabat atau
ibu-ibu darma wanita, agar melakukan transfer sejumlah uang.
>             Di akhir acara, Bapak Dirjen Perbendaharaan memberi
kesempatan kepada para peserta acara terutama pelaksana/pegawai
non-eselon untuk mengajukan pertanyaan atau usul. Sedangkan bagi
pejabat eselon III dan IV akan diberi kesempatan bertanya setelah jam
istirahat. Para peserta, terutama para karyawati, sangat antusias
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian ditanggapi oleh Bapak
Dirjen Perbendaharaan dan Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Bapak
Siswo Sujanto.
>             Acara berakhir sekitar pukul 12.00 WIB karena Bapak
Dirjen Perbendaharaan berkenan kembali ke Jakarta pada jam 13.00 WIB.
Selanjutnya setelah beristirahat, makan siang, dan sholat dhuhur,
Bapak Sekretaris Ditjen Perbendaharaan beserta jajaran eselon III
lingkup Setditjen Perbendaharaan mengadakan pertemuan dengan para
pejabat eselon III dan IV untuk membicarakan beberapa hal, antara lain
mengenai layanan intranet berbasis web dan menampung
pertanyaan-pertanyaan dari para pejabat eselon III dan IV Kanwil II
Ditjen Perbendaharaan Medan dan eselon III Kanwil I Ditjen
Perbendaharaan Banda Aceh. Acara ini berlangsung sampai sore hari.(AY,
KHA dan EM)
>  
>  
>  
>  
>    
> _________________________________________________________________
> Easily edit your photos like a pro with Photo Gallery.
> http://get.live.com/photogallery/overview
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke