Jadi ingat pengalaman pribadi nih...tahun lalu saya dan beberapa rekan 
mengadakan suatu acara di salah satu hotel di luar kota dengan biaya negara, 
beberapa hari setelah acara tersebut selesai saya dimintai tolong untuk membawa 
kuitansi dan dokumen lain untuk ditandatangani pihak hotel sebagai bukti 
pertangungjawaban pengeluaran acara tersebut. Akan tetapi pihak hotel ternyata 
menolak untuk menandatangani kuitansi tersebut karena ternyata ada unsur fraud 
di kuitansi tersebut. Berdasarkan penjelasan pihak hotel mengenai unsur fraud 
tersebut saya sadar memang ada "kesalahan" dalam kuitansi tersebut sehingga 
saya pun balik ke kantor tanpa berhasil membawa kuitansi yang telah 
ditandatangani pihak hotel...bisa ditebak rekan saya (yang selama ini selalu 
berhasil untuk urusan seperti ini) kecewa berat dan menganggap saya tidak bisa 
kerja...

kesimpulannya: korupsi jelas salah...tapi gak korupsi ternyata "salah"  juga 


----- Original Message ----
From: musukhal <[EMAIL PROTECTED]>

Korupsi dan religiusitas itu bagaikan air dan minyak. Orang yang
religius gak mungkin korupsi, dan orang yang korupsi gak mungkin
religius. Kalo ada koruptor yang nyumbang sana nyumbang sini, itu
hanya usaha untuk mengelabui publik dari kekorupannya. Bisa jadi juga
ingin 'mengelabui' Tuhan seolah Dia itu bodoh, Yang tidak bisa menilai
yang mana air 'jernih alami' dan 'air keruh yang dijernihkan'. Padahal
pertanyaan setelah kita mati tentang harta itu ada dua: "Darimana
didapatkan" dan "untuk apa digunakan". So...


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke