Assalamualaikum wrwb,
Mengomentari beasiswa yang di usulkan dilakukan secara bergilir, ada hal-hal
yang mungkin perlu di teliti kembali apa yang menajdi dasar organisasi
mengirimkan orang-orangnya untuk Tugas Belajar.
Menurut pandangan saya :
1. Organisasi menginginkan SDM berkembang, maju yang akan membawa manfaat
bagi organisasi;
2. Untuk itu perlu di pilih SDM yang punya potensi tentunya. Karena bentuknya
mengikuti perkuliahan di Perguruan Tinggi, maka mereka harus mempunyai
kemampuan akademis yang memadai;
3. Organisasi tentu memilih PT yang berkualitas dan baik dari sisi akademis.
4. batas waktu TB juga harus di batasi, mengingat biaya yang mahal.
5. PT yang baik, juga mempunyai kriteria untuk mahasiswa yang bisa di terima,
a.l unutk memastikan bahwa mahasiswa punya kemampuan akdemis yang memadai
sehingga tidak akan menemui hambatan dalam penyelesaian TB;
6. Bagi organisasi, juga mempertimbangkan, sisa masa kerja SDM bersangkutan,
setelah selesai TB. Karena dengan sisa masa kerja tadi, diharapkan dapat
memberi kontribusi yang memadai bagi organisasi.
6. Loyalitas pada organisasi juga menjadi bahan pertimbangan. Kalau sudah di
biayai untuk kuliah, tetapi setelah lulus tidak mau bekerja pada organisasi.
Maka organisasi akan kehilangan waktu, harapan dan biaya. Karena memilih orang
yang tidak tepat.
Kesimpulan : Tes untuk TB di perlukan baik bagi kepentingan organisasi maupun
kepentingan universitas tempat TB di laksanakan.
Kalau dilaksanakan secara bergilir kelihatannya tidak lazim. Karena ini bukan
semacam arisan.
Wassalam,
Pakerti Hutomo
Petite Garson Rumiere <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kukira dimanapun kalau yang namanya tugas belajar itu pastilah ada
syarat yang diminta.
Kukira tidaklah masuk akal untuk giliran. Lagian universitas tempat
yang di tuju juga pasti memberikan syarat, paling tidak potensi
akademik nya bagaimana. Kukira kalau peserta gak punya potensi nanti
juga enggak bakal lulus2. atau DO. Biaya sekolah itu mahal oom.Pakai
uang rakyat lagi.Terus kalau tidak dibatasi umurnya, bagaimana? Udah
kuliahnya kagak selesai2 keburu pensiun. Jadi yang namanya
giliran enggak ada tuh. Ayak-ayak wae. Untuk sekolah dimana-mana harus
ada syaratnya. Yang namanya kuliah di Perguruan Tinggi itu, mesti harus
punya potensi akademik. Yang namanya masa kerja dan pengalaman kerja,
kiranya tidak ada relevansinya di dunia pendidikan yang sifatnya umum.
Kecuali untuk suatu pendidikan/latihan kedinasan yang sifatnya internal
barangkali.
Kalau belajar itu memang enggak ada batasnya oom, sampai keliang
kubur... tapi tentu bukan atas biaya negara. Alias uang rakyat.
Tapi AIS (atas inisiatip sendiri).
Kukira itu komentarku. Maapin kalau ada salah2 kata.
Petite Garson
--- On Sat, 21/6/08, riva_amas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: riva_amas <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Prima] PROG. BEASISWA S1 & S2 DIGILIR
To: [email protected]
Date: Saturday, 21 June, 2008, 2:00 AM
ane punya usul ni kira kira temen temen pada setuju gak kalo beasiswa
internal djpbn dilakukan dengan cara bergilir dengan kriteria : masa
kerja, pengalaman, dan tidak dibatasi usia bukankah ada pepatah
mengatakan tuntutlah ilmu sampai keliang kubur..sehingga djpbn tidak
perlu melakukan seleksi dan membuang waktu dan dana untuk proses
seleksinya.saya kira ini merupakan penghematan juga buat
djpbn,mendingan dana yang dipergunakan untuk proses seleksinya
digunakan untuk hal2 lain yang bermanfaat.dan juga sehingga program
peningkatan SDM di lingkungan kita jadi merata dan semua bahagia :D
__________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
[Non-text portions of this message have been removed]