Maaf mas Joko B baru bisa urun rembug soal LKPP dilempar  JK, saya
anggap itu biasa sedikit presser kebawahan, anda harus lihat latar
belakang, JK berangkat dari pengusaha sukses tanpa presser ndak akan
sukses, dari politikus pekerjaannya hari2 gontok2an sampai jadi orang
nomor dua. Mungkin redaksi LKPP njilimet, susah dimengerti, kurang
praktis dsb sehingga JK ndak berkenan sekali itu biasa, anggap style
pimpinan orang perorang berbeda dan saya kira pak Nas sadari
itu,justru dianggap JAMU/dopping pemacu kerja lebih baik,tidak
KKN,bekerja praktis bisa dimengerti orang lain dan sadar atas
kekurangannya.
Arogan tinggal siapa menilai dan menyikapi, sekarang apakah diinstansi
kita ini sudah ndak ada pimpinan yang arogan dan benar2 reformis
(bebas koncoisme) dlsb.
Saya contohkan bentuk arogansi berupa kebijakn/keputusan pimpinan kita
tentang pola mutasi,yang mutasinya dari Jawa ke Jawa, mutasi dari Jawa
keluar Jawa cuma 2-3th kembali ke Jawa herannya mereka masih muda2,
sedangkan yang tua tua diluar Jawa banyak 10 th tetap berkelana diluar
Jawa. Contoh lagi dengan adanya eprubahan struktur organisasi type A
menjadi type B pada Kanwil yang diselamatkan hanya eselon II dan III
sedangkan eselon IV dibiarkan begitu saja, maksudnya dengan adanya
remunerasi eselon II ditype A sama dengan di type B, eselon IIIa yang
tadinya dikanwil type B diselamatkan/dimutasikan kekanwil type A jadi
mereka aman menikmati remunerasi, sedangkan eselon IVa pada kanwil
Type B tidak disesuaikan ke type A juga remunerasi dengan great 14
selisih pendapatan sebesar Rp.850.000,-ini bagi saya sangat besar
sekali dan sangat berarti. 
Itu contoh bentuk arogansi di instansi kita, kadang saya menggumam....
bibirmu berkata reformasi tindakanmu tidak reformasi mbel gedes.
Mas joko yang masih brewok harap sambil mengelus brewok renungkan apa
iya masih ada dilingkungan kita, apa belum mengalami karena anda jadi
amthenar/priyayi pada orde reformasi. Saya mengharapkan generasi anda
tidak arogan, santun,mau dikritik,mau menghargai pendapat orang lain
dan jadilah reformis sejati.
Sayang anda cuman promosi bukunya Amin Rais,seharusnya baca dulu
bukunya Sukarno, Suharto dan bandingkan baik buruknya, kalo bukunya
Amin Rais paling baiknya saja, dan bisa menjadikan Gusdur
Presiden,soal kasus DKP ndak mungkin ditampakkan dalam buku itu.
Demikian urunrembug saya Wassalam ...(Rambut putih Gorontalo).

Kirim email ke