Yth....
Sepertinya ada yang perlu diluruskan disini...

Pertama, saat  JK mulai menjabat menjadi wapres yang namanya LKPP
belum ada. Jadi mustahil JK melempar LKPP (LKPP untuk kantor saya saja
sudah tebal (kurang lebih 500 halaman), apalagi yang nasional,
kayaknya ndak mungkin dilempar lempar oleh seorang JK yg Kecil lagi
kerempeng).

Kedua, dari postingan salah satu miliser tentang kronologi pelemparan,
disitu disebut kan:"... saya pernah melempar laporan keuangan....
(tapi sekali lagi pasti bukan LKPP seperti dalam bentuk saat ini). Dan
saya tidak melihat lemparan ini ditujukan kepada seseorang. 
Dalam keadaan sepi, diruangan sendiri, lempar melempar barang, meski
itu hasil karya orang, saya kira tidak termasuk area arogansi, bisa
jadi itu hanya wujud ekpresi kekesalan semata. Tetapi jika dilakukan
dihadapan orang, apalagi orang itu pembuatnya...jelas ini sudah masuk
ranah arogansi. Dan itu bukanlah jamu kuat, tetapi hinaan.

dari Kendari
HaBeWe


--- In [email protected], Djoko Brewok Lebat Banget
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Jamu bagi orang yang (mungkin) memang tidak pernah berani berkata
"Tidak", agar tidak gemetar menghadapi orang-orang arogan!
>  
> Bagi saya yang pernah mengikuti dunia "Persilatan", pukulan dan
tendangan karena salah dalam 'latihan' saya anggap wajar dan tidak
pernah sakit hati. Tapi ternyata ketika ucapan pelatih silat saya
(yang saya anggap) tidak pada tempatnya, ternyata justru menampar hati
saya.
> Soal melempar (apapun) hasil pekerjaan seseorang bawahan, itu hanya
sedikit dari contoh arogansi kepemimpinan.  Silakan saja kalo anda
termasuk orang yang-mungkin- tidak punya harga diri mau diinjak2
dengan cara seperti itu, tidak ada yang melarang.  Kalo anda menjadi
bawahan, lalu ketika setiap saat pekerjaan anda kebetulan salah dan
dilempar sang 'Boss', anda menganggap sebagai jamu, itu adalah hak
anda menampilkan wajah dan sikap seperti itu.  
> Yang kita bicarakan adalah apakah tidak bisa bersikap lebih bijak,
menghadapi situasi seperti itu bagi seorang pimpinan.  Jangan karena
mantan pengusaha boleh menerapkan "Ke-juraganan-nya" kepada para
"kacungnya" seperti itu.  Bukankah begitu pola pikir anda?
> Saya pikir arogansi di lingkungan kita banyak kita temui.  Ada lho
pejabat eselon II di lingkungan kita yang 'meminta dengan tegas' agar
perbendaharaan list "DIGANTI".  
> Bagi saya yang hanya kebetulan menjadi anggota ya merasa aneh, dan
bertanya..  Apakah dulu ketika membuat milis perbendaharaan izin
kantor pusat?
> Bahkan ketika suatu saat saya diklat di Jakarta, ada pejabat yang
berkata "Silakan membuat tulisan2 yang kritis, tapi jangan mengkritik
pejabat".  Apakah kita akan membela dengan mengatakan "Dia khan mantan
Bos sebuah perusahaan besar yang sukses dengan kepemimpinannya,
sehingga wajar kalo donk melakukan arogansi seperti itu"?. 
> Amien Rais jelas bukan orang yang Maksum. Saya menyitir pendapat
beliau bukan karena pengagum 'buta' atas pribadi beliau.  Saya juga
sedikit mengagumi Soekarno bahkan Soeharto yang terkenal dengan
arogansinya. (Soeharto menghabisi hak-hak politik para Tokoh Petisi 50
yang telah mengkritik beliau bahkan mencekal para 'tahanan politik'
itu ke Luar Negeri, hatta berobat sekalipun).
> Kalo anda kemudian menyebut dana DKP, siapa sih yang tidak
'kecipratan' dana DKP. Bahkan sampai pemimpin terpilih yang kini duduk
manis pun mendapatkannya bukan?
> Tapi siapa-siapa saja yang pernah mengakuinya??????  Ketika Amien
Rais menyebut ada dana asing berperan dalam pemilu, dan salah satu
pasangan calon menerimanya (tanpa menyebut nama), langsung SBY-JK
berang, bahkan teriak-teriak seperti kebakaran jenggot??? Suatu bentuk
ketakutan yang menimbulkan arogansi juga.
> Saya mencintai SBY-JK sebagai pemimpin terpilih saat ini, meski saya
adalah GOLPUT sejati. Bahkan saya tak pernah mendukung PAN sekalipun.
> Arogansi memang bisa dalam bentuk apa saja.  
> Mutasi yang setiap saat muncul (yang kemudian beberapa orang tidak
'katut' dan menganggap ketidakadilan), sepanjang sebuah rutinitas,
jelas bukan arogan.  Bahkan ketika mutasi karena seseorang terhukum,
juga bukan merupakan arogansi kepemimpinan.  Namun, ketika seorang
bawahan berbeda pendapat atau prinsip idealitas dan menimbulkan amarah
sang pemimpin, lalu sang pemimpin melempar berkas bahkan memutasikan
sang bawahan, hal itu menjadi sebuah arogansi.  
> Saya pecinta keramahtamahan dalam kepemimpinan.  Saya cinta pemimpin
yang tidak menonjolkan "kedudukan"  dengan segala ke(se)wenangannya!!!
> Bukan pemimpin kalo hal yang bisa diperbaiki disikapi dengan kemarahan!
> Kata hadits:"Kalo orang marah karena hal sepele, dia adalah setan.
Tapi kalo harga diri (agama, idealisme, dst) dihina dan dia tidak
marah, maka dia adalah monyet."
> Bukankah kita lebih bersemangat dengan keramahtamahan pemimpin dalam
menilai pekerjaan kita (bukan menolerir tanpa batas)?
> "KECUALI ANDA ADALAH TIPE PEGAWAI YANG HANYA BISA BEKERJA DENGAN
BAIK DAN MENGANGGAP JAMU JIKA PEMIMPIN MARAH DAN MELEMPAR HASIL KERJA
ANDA".  Sementara akan bekerja dengan tingkat biasa2 saja jika
pemimpin tidak marah apalagi sampai melempar?
> Silakan pilih.
> Mohon maaf jika ada kata yang salah. 
> Jazakallah khoiran jazaa'
>  
> 
> --- On Tue, 8/5/08, rambutputih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: rambutputih <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Forum Prima] LKPP dilempar JK dianggap Jamu oleh pak Nas
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, August 5, 2008, 1:21 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Maaf mas Joko B baru bisa urun rembug soal LKPP dilempar JK, saya
> anggap itu biasa sedikit presser kebawahan, anda harus lihat latar
> belakang, JK berangkat dari pengusaha sukses tanpa presser ndak akan
> sukses, dari politikus pekerjaannya hari2 gontok2an sampai jadi orang
> nomor dua. Mungkin redaksi LKPP njilimet, susah dimengerti, kurang
> praktis dsb sehingga JK ndak berkenan sekali itu biasa, anggap style
> pimpinan orang perorang berbeda dan saya kira pak Nas sadari
> itu,justru dianggap JAMU/dopping pemacu kerja lebih baik,tidak
> KKN,bekerja praktis bisa dimengerti orang lain dan sadar atas
> kekurangannya.
> Arogan tinggal siapa menilai dan menyikapi, sekarang apakah diinstansi
> kita ini sudah ndak ada pimpinan yang arogan dan benar2 reformis
> (bebas koncoisme) dlsb.
> Saya contohkan bentuk arogansi berupa kebijakn/keputusan pimpinan kita
> tentang pola mutasi,yang mutasinya dari Jawa ke Jawa, mutasi dari Jawa
> keluar Jawa cuma 2-3th kembali ke Jawa herannya mereka masih muda2,
> sedangkan yang tua tua diluar Jawa banyak 10 th tetap berkelana diluar
> Jawa. Contoh lagi dengan adanya eprubahan struktur organisasi type A
> menjadi type B pada Kanwil yang diselamatkan hanya eselon II dan III
> sedangkan eselon IV dibiarkan begitu saja, maksudnya dengan adanya
> remunerasi eselon II ditype A sama dengan di type B, eselon IIIa yang
> tadinya dikanwil type B diselamatkan/ dimutasikan kekanwil type A jadi
> mereka aman menikmati remunerasi, sedangkan eselon IVa pada kanwil
> Type B tidak disesuaikan ke type A juga remunerasi dengan great 14
> selisih pendapatan sebesar Rp.850.000,- ini bagi saya sangat besar
> sekali dan sangat berarti. 
> Itu contoh bentuk arogansi di instansi kita, kadang saya menggumam... .
> bibirmu berkata reformasi tindakanmu tidak reformasi mbel gedes.
> Mas joko yang masih brewok harap sambil mengelus brewok renungkan apa
> iya masih ada dilingkungan kita, apa belum mengalami karena anda jadi
> amthenar/priyayi pada orde reformasi. Saya mengharapkan generasi anda
> tidak arogan, santun,mau dikritik,mau menghargai pendapat orang lain
> dan jadilah reformis sejati.
> Sayang anda cuman promosi bukunya Amin Rais,seharusnya baca dulu
> bukunya Sukarno, Suharto dan bandingkan baik buruknya, kalo bukunya
> Amin Rais paling baiknya saja, dan bisa menjadikan Gusdur
> Presiden,soal kasus DKP ndak mungkin ditampakkan dalam buku itu.
> Demikian urunrembug saya Wassalam ...(Rambut putih Gorontalo).
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke