Jamu bagi orang yang (mungkin) memang tidak pernah berani berkata "Tidak", agar tidak gemetar menghadapi orang-orang arogan! Bagi saya yang pernah mengikuti dunia "Persilatan", pukulan dan tendangan karena salah dalam 'latihan' saya anggap wajar dan tidak pernah sakit hati. Tapi ternyata ketika ucapan pelatih silat saya (yang saya anggap) tidak pada tempatnya, ternyata justru menampar hati saya. Soal melempar (apapun) hasil pekerjaan seseorang bawahan, itu hanya sedikit dari contoh arogansi kepemimpinan. Silakan saja kalo anda termasuk orang yang-mungkin- tidak punya harga diri mau diinjak2 dengan cara seperti itu, tidak ada yang melarang. Kalo anda menjadi bawahan, lalu ketika setiap saat pekerjaan anda kebetulan salah dan dilempar sang 'Boss', anda menganggap sebagai jamu, itu adalah hak anda menampilkan wajah dan sikap seperti itu. Yang kita bicarakan adalah apakah tidak bisa bersikap lebih bijak, menghadapi situasi seperti itu bagi seorang pimpinan. Jangan karena mantan pengusaha boleh menerapkan "Ke-juraganan-nya" kepada para "kacungnya" seperti itu. Bukankah begitu pola pikir anda? Saya pikir arogansi di lingkungan kita banyak kita temui. Ada lho pejabat eselon II di lingkungan kita yang 'meminta dengan tegas' agar perbendaharaan list "DIGANTI". Bagi saya yang hanya kebetulan menjadi anggota ya merasa aneh, dan bertanya.. Apakah dulu ketika membuat milis perbendaharaan izin kantor pusat? Bahkan ketika suatu saat saya diklat di Jakarta, ada pejabat yang berkata "Silakan membuat tulisan2 yang kritis, tapi jangan mengkritik pejabat". Apakah kita akan membela dengan mengatakan "Dia khan mantan Bos sebuah perusahaan besar yang sukses dengan kepemimpinannya, sehingga wajar kalo donk melakukan arogansi seperti itu"?. Amien Rais jelas bukan orang yang Maksum. Saya menyitir pendapat beliau bukan karena pengagum 'buta' atas pribadi beliau. Saya juga sedikit mengagumi Soekarno bahkan Soeharto yang terkenal dengan arogansinya. (Soeharto menghabisi hak-hak politik para Tokoh Petisi 50 yang telah mengkritik beliau bahkan mencekal para 'tahanan politik' itu ke Luar Negeri, hatta berobat sekalipun). Kalo anda kemudian menyebut dana DKP, siapa sih yang tidak 'kecipratan' dana DKP. Bahkan sampai pemimpin terpilih yang kini duduk manis pun mendapatkannya bukan? Tapi siapa-siapa saja yang pernah mengakuinya?????? Ketika Amien Rais menyebut ada dana asing berperan dalam pemilu, dan salah satu pasangan calon menerimanya (tanpa menyebut nama), langsung SBY-JK berang, bahkan teriak-teriak seperti kebakaran jenggot??? Suatu bentuk ketakutan yang menimbulkan arogansi juga. Saya mencintai SBY-JK sebagai pemimpin terpilih saat ini, meski saya adalah GOLPUT sejati. Bahkan saya tak pernah mendukung PAN sekalipun. Arogansi memang bisa dalam bentuk apa saja. Mutasi yang setiap saat muncul (yang kemudian beberapa orang tidak 'katut' dan menganggap ketidakadilan), sepanjang sebuah rutinitas, jelas bukan arogan. Bahkan ketika mutasi karena seseorang terhukum, juga bukan merupakan arogansi kepemimpinan. Namun, ketika seorang bawahan berbeda pendapat atau prinsip idealitas dan menimbulkan amarah sang pemimpin, lalu sang pemimpin melempar berkas bahkan memutasikan sang bawahan, hal itu menjadi sebuah arogansi. Saya pecinta keramahtamahan dalam kepemimpinan. Saya cinta pemimpin yang tidak menonjolkan "kedudukan" dengan segala ke(se)wenangannya!!! Bukan pemimpin kalo hal yang bisa diperbaiki disikapi dengan kemarahan! Kata hadits:"Kalo orang marah karena hal sepele, dia adalah setan. Tapi kalo harga diri (agama, idealisme, dst) dihina dan dia tidak marah, maka dia adalah monyet." Bukankah kita lebih bersemangat dengan keramahtamahan pemimpin dalam menilai pekerjaan kita (bukan menolerir tanpa batas)? "KECUALI ANDA ADALAH TIPE PEGAWAI YANG HANYA BISA BEKERJA DENGAN BAIK DAN MENGANGGAP JAMU JIKA PEMIMPIN MARAH DAN MELEMPAR HASIL KERJA ANDA". Sementara akan bekerja dengan tingkat biasa2 saja jika pemimpin tidak marah apalagi sampai melempar? Silakan pilih. Mohon maaf jika ada kata yang salah. Jazakallah khoiran jazaa'
--- On Tue, 8/5/08, rambutputih <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: rambutputih <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum Prima] LKPP dilempar JK dianggap Jamu oleh pak Nas To: [email protected] Date: Tuesday, August 5, 2008, 1:21 AM Maaf mas Joko B baru bisa urun rembug soal LKPP dilempar JK, saya anggap itu biasa sedikit presser kebawahan, anda harus lihat latar belakang, JK berangkat dari pengusaha sukses tanpa presser ndak akan sukses, dari politikus pekerjaannya hari2 gontok2an sampai jadi orang nomor dua. Mungkin redaksi LKPP njilimet, susah dimengerti, kurang praktis dsb sehingga JK ndak berkenan sekali itu biasa, anggap style pimpinan orang perorang berbeda dan saya kira pak Nas sadari itu,justru dianggap JAMU/dopping pemacu kerja lebih baik,tidak KKN,bekerja praktis bisa dimengerti orang lain dan sadar atas kekurangannya. Arogan tinggal siapa menilai dan menyikapi, sekarang apakah diinstansi kita ini sudah ndak ada pimpinan yang arogan dan benar2 reformis (bebas koncoisme) dlsb. Saya contohkan bentuk arogansi berupa kebijakn/keputusan pimpinan kita tentang pola mutasi,yang mutasinya dari Jawa ke Jawa, mutasi dari Jawa keluar Jawa cuma 2-3th kembali ke Jawa herannya mereka masih muda2, sedangkan yang tua tua diluar Jawa banyak 10 th tetap berkelana diluar Jawa. Contoh lagi dengan adanya eprubahan struktur organisasi type A menjadi type B pada Kanwil yang diselamatkan hanya eselon II dan III sedangkan eselon IV dibiarkan begitu saja, maksudnya dengan adanya remunerasi eselon II ditype A sama dengan di type B, eselon IIIa yang tadinya dikanwil type B diselamatkan/ dimutasikan kekanwil type A jadi mereka aman menikmati remunerasi, sedangkan eselon IVa pada kanwil Type B tidak disesuaikan ke type A juga remunerasi dengan great 14 selisih pendapatan sebesar Rp.850.000,- ini bagi saya sangat besar sekali dan sangat berarti. Itu contoh bentuk arogansi di instansi kita, kadang saya menggumam... . bibirmu berkata reformasi tindakanmu tidak reformasi mbel gedes. Mas joko yang masih brewok harap sambil mengelus brewok renungkan apa iya masih ada dilingkungan kita, apa belum mengalami karena anda jadi amthenar/priyayi pada orde reformasi. Saya mengharapkan generasi anda tidak arogan, santun,mau dikritik,mau menghargai pendapat orang lain dan jadilah reformis sejati. Sayang anda cuman promosi bukunya Amin Rais,seharusnya baca dulu bukunya Sukarno, Suharto dan bandingkan baik buruknya, kalo bukunya Amin Rais paling baiknya saja, dan bisa menjadikan Gusdur Presiden,soal kasus DKP ndak mungkin ditampakkan dalam buku itu. Demikian urunrembug saya Wassalam ...(Rambut putih Gorontalo). [Non-text portions of this message have been removed]
