Pernahkah anda sakit perut? Mules, mencret, Maag, Liver, Types, dll?
Kalau belum syukurlah karena sekecil apapun yg namanya sakit pasti
banyak nggak enaknya. Kalau sudah pernah, akankah kita akan mencari
tahu sebabnya? Mungkin kita akan berpikir, saya sakit peryt karena
makanannya nggak bersih, mungkin ada kuman atau virus yg nempel di
makanan sehingga menyebabkan sakit perut ataupun yg lain.

Trus apa hubungannya sakit perut dengan soal lembur. Jelas kalau
dihubung-hubungkan jelas ada. Kalau kita bener-bener lembur tentu kita
berhak untuk menerima uang lembur sesuai peraturan yg berlaku dan ini
Halal bagi kita menurut peraturan maupun agama. Insya Allah yg
demikian ini tidak akan bikin sakit perut. Kalaupun pun sakit tentu
saja karena sebab lain. Kalau kita TIDAK LEMBUR tapi masih mau juga
mengambil UANG LEMBURnya atau bahkan menuntut harus dibayarkan,
mungkin ini yg bisa bikin penyakit dalam tubuh kita. Bisa mencret,
maag, liver, types, asam urat dan lain-lain. Apalagi kalau sampai ke
anak - isteri. Bisa2 mereka ke apesnya. Padahal mereka nggak tahu
apa2. Tahunya apa yg dibawa ke rumah ya uang halal. Kasihan khan? 

Ilustrasi di atas barangkali hanya soal kecil dalam kehidupan kita.
Dan soal lembur juga bukan soal yg besar saya kira. Tapi yg jelas kita
tidak boleh meremehkan yg kecil2. Bukankah yg kecil2 ini kalau
ditumpuk juga jadi besar?

Singkat cerita di sebuah KPPN Percontohan seorang staf dipanggil
menghadap kepala Kantor. Alasan pemanggilan ya soal kecil dan sepele
tadi. Sang Kepala Kantor menanyakan kenapa (sebut saja si A) kamu
nggak mau menerima uang lembur? Si A pun menjawab Lha saya nggak
pernah lembur pak. Atasan saya juga nggak pernah memerintahkan saya
untuk kerja lembur. Disini sebenarnya alasan si A sangat logis. Namun
karena ego sang Pimpinan yg mengatakan bahwa ini adalah kebijakan saya
selaku pimpinan. Anda harusnya patuh.

Kebijakan..... Ya ini kata2 sakti yg sdh saya dengar sejak saya jadi
PNS yg mana saya selalu melawan kebijakan lembur fiktif ini. Ada yg
karena untuk dana taktislah. Untuk menjamu tamu lah. Dan segudang
alasan lain. Kalau jaman dulu okelah karena belum ada reformasi
birokrasi. Tapi kalau hari gini... Di KPPN Percontohan lagi. Ada
Kepala Kantor yg membuat kebijakan seperti ini... APa lagi yg mau kita
katakan. Paham nggak dg reformasi birokrasi. Yg begini lulus ....?
Bukankan soal jamu menjamu Pak Dirjen sendiri sudah mengatakan, tidak
minta ada jamu-jamuan. Ya mungkin ini ekses dari jaman jahiliyah dulu
yg barangkali sadar atau tdk masih terbawa2. Mudah-mudahan seiring
dengan berjalannya waktu yg model2 begini cepat2 pensiun. Dan
muda-mudahan tidak ada kaderisasi perilaku negatif ini.

Tulisan ini bukan untuk menghilangkan sistem lembur dalam lingkungan
kita. Tapi Mbok ya lurus-lurus saja. Yang lembur dibayarkan uang
lemburnya. Yang tidak lembur mbok jangan dikasih uang lembur apalagi
ngotot minta uangnya. Buat yg di KPPN percontohan tentu saja ada seksi
yg super sibuk yang kalaupun diberikan lembur juga nggak sepadan
dengan jerih payah mohon bersabar mudah2 kedepannya mendapatkan system
yg lebih baik lagi.

Mohon maaf bila ada yg nggak berkenan.
Tulisan ini didedikasikan untuk DJPBN yg lebih Bersih, Amanah dan
Profesional. 

Kirim email ke